DILAN, OH DILAN


(Heryadi,  Guru IPS SMP Negeri 3 Padalarang)


Ketika sosok Milea lebih penting dari urusan  masa depan.  Ketika cinta lebih penting dari tujuan hidup yang hakiki.  Ketika itu pulalah seorang pemuda harapan bangsa jatuh terjebak oleh pilihannya yang semu. 
Ketika sekolah hanyalah simbol. Ketika sekolah tak ubahnya bagaikan komplek penjara dengan sejuta aturan yang memberangus kebebasan.  Sekolah bagimu adalah tempat pencucian otak dan penghambat jati diri. 

Ketika guru adalah sosok robot. Ketika guru menganggap dirinya hakim penegak kebenaran. Ketika ucapan guru tak bisa dibantah.  Hingga kaupandang guru adalah monster. Kautampil bak, hero berdiri tegak mengepalkan tanganmu.  Sosok mata tajam bagaikan elang siap menerkam sang guru,  yang menjadi tokoh penghalang asa dan nafsumu. Begitu hebat dan jumawa dirimu,  Dilan. 

Ketika kawasan bermotor adalah keluarga keduamu.  Ketika kawananmu begitu garang melibas siapapun yang tak sesuai dengan visimu.  "Sikat dan habisi," itulah komando untuk mengibarkan harga diri.  

Ketika keyakinan agama hanyalah formalitas.  Kaupikir agama adalah polesan belaka.  Bagimu menjadi diri sendiri adalah lebih baik daripada menjadi orang baik.  Itukah ciri asli dirimu, wahai Dilan?

Dilan ... Oh,  Dilan ...!  Kau adalaah sosok fenomenal di masa kini. "Siapa sih,  anak muda yang tak kenal dirimu?"  Kau dianggap figur pemberontak dan kebebasan.   Disaat zaman dengan aroma persaingan ketat  tingkat tinggi.  Bagimu, aturan wajib dilanggar,  karena itu adalah esensi dari filosofi aturan menurutmu. 

Bagi kelompok milenial, kau adalah  sosok sekaliber Superman yang tampil secara utuh dan manusiawi. Kini,  kau adalah ikon mereka. 

Ketika mentari mulai menyinari bumi.  Bagimu, saat dimulainya sebuah petualangan.  Sebuah perjalanan mengejar mentari yang sudah ada di hatimu. 
Kesablengan dirimu, menjadi inspirasi bagi anak muda yang butuh keberanian untuk mengepalkan tinju dalam dunia yang tak jelas.  Sebuah inspirasi dari anti kemapanan, yang membelenggu keadaan saat ini. 

Wahai pejuang rindu,  penguasa seluruh semesta.  Berilah kami bukti bahwa Kau adalah pejuang tangguh. Seorang kesatria yang tahan banting dan selalu rindu masa depan dengan tuntuna aturan hukum dan agama.  

Wahai sang pemimpin kawanan ....  Tunjukkan bahwa sebuah kawanan itu butuh kekuatan ilmu, kewarasan dan hati yang bersih.  Bukan hanya ledakan emosi yang menjunjung solidaritas dan kebablasan.

Ketika dirimu menyadari perjalanan sang mentari,  dia akan terbenam pula.  Dirimu merasa hebat,  tapi yakinlah,  seiring perjalanan waktu,   kelak akan tamat riwayatmu. Kau tak ada,  namun semangat dan energimu akan terus menyebar pada jiwa-jiwa lain yang tangguh.  Jiwa lain yang tahu akan nilai sebuah kebenaran yang alami. Kebenaran akan harga diri yang terbelenggu.  

Dilan ... Oh, Dilan. 

Penyunting: Mardiah Alkaff

SUDAH TERBIT MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 

NO. 2 VOLUME V 2019



BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DILAN, OH DILAN"

Post a Comment