HANCURKAN HOAX DENGAN BUDAYA LITERASI


Oleh: Yanuar Iwan


Kemkominfo mengidentifikasi 453 hoax selama maret 2019,dari periode agustus 2018 sampai dengan maret 2019 total hoax yang berhasil ditemukan Kemkominfo menjadi 1224 hoax.
Dari 453 hoax tersebut terdapat 130 hoax politik sehingga total hoax politik yang diidentifikasi dan diverifikasi menjadi 311 hoax.Kabar bohong itu menyerang paslon Presiden dan Wapres,parpol peserta pemilu maupun penyelenggara pemilu ujar Ferdinandus Setu (Kabiro humas Kemkominfo).

Marak dan meningkatnya berita-berita bohong disebabkan oleh lemahnya bangsa kita didalam berliterasi.

UNESCO menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata,khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.Menurut UNESCO,pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik,konteks nasional,institusi,nilai-nilai budaya serta pengalaman.

Berdasarkan statistik dari UNESCO Indonesia menempati peringkat ke 60 dari total 61 negara,tingkat literasi kita rendah,data ini menunjukkan minat baca Indonesia sangatlah rendah,bahkan tertinggal dengan Malaysia.
Dari fakta dan data inilah kita bisa memahami mengapa berita bohong alias hoax kerap menjadi berita yang langsung dipercaya oleh sebagian masyarakat,pemahaman dan penguasaan kita terhadap literasi mengalami kegagalan,gagal untuk mencintai literasi berdampak buruk dalam pola pikir dan sikap,pendidikan menjadi salah satu sarana untuk internalisasi dan enkulturasi literasi (pembiasaan dan budaya literasi)untuk menjadi bagian dari pola hidup,tetapi yang terpenting adalah perubahan cara pandang didalam menjalankan kehidupan,hidup bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan jasmani,fisik,dan materi.Islam mengarahkan kita bahwa manusia seharusnya menjadi khalifah dimuka bumi untuk menyebarkan kebermanfaatan kepada semua makhluk hidup didunia.Oleh karena itu Islam mengutamakan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi agar manusia menjadi The Real Man,The Real Woman dalam menyebarkan dan melaksanakan kebaikkan.

Tetapi orang-orang yang zalim,mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan;maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah.Dan tidak ada seorang penolongpun bagi mereka (QS AR-RUM 29)
Bacalah dengan (menyebut)nama Tuhanmu yang menciptakan (QS AL-Alaq 1)
Yang mengajar manusia dengan pena(QS AL-alaq 4).
Betapa Islam sangat menganjurkan umatnya untuk membaca dan membaca.Proses pembiasaan bisa dimulai dengan membaca setengah atau satu jam sebelum tidur malam dengan berbagai macam jenis buku yang bisa memperkaya khasanah informasi kita apakah itu agama,ilmu pengetahuan maupun seni.

Rendahnya literasi membaca dan menulis berpengaruh terhadap pola pikir dan tindakan antara lain kita tidak terbiasa untuk berdiskusi karena adanya kekhawatiran kesalahan berbicara karena minimnya informasi,tidak adanya sikap rasional dan kritis banyak berita bohong yang kita anggap benar karena kita tidak rasional dan kritis dalam Islam tabayyun melakukan klarifikasi dan cross cek kepada pihak terkait apakah berita ini hoax atau real.Minimnya sikap kemanusiaan, kita mudah terpancing emosi dan terjebak dalam ujaran kebencian karena pemahaman kita terhadap peradaban dan kemanusiaan sangat minim dalam hubungan dengan pembangunan karakter manusia hoax bisa dikategorikan merusak peradaban.

Beberapa kendala untuk menjadikan literasi sebagai penghancur hoax adalah:
Proses sosialisasi dan internalisasi untuk berliterasi dikeluarga mengalami kegagalan.Orang tua tidak pernah menjadi role model atau agen literasi dirumah,biasanya anak mengikuti kebiasaan orang tuanya.
Kualitas dan fasilitas pendidikan kita belum merata,anak yang memiliki minat baca tinggi gagal difasilitasi karena secara geografis tinggal didaerah terpencil.
Jumlah Perpustakaan didesa-desa,tingkat Rt dan Rw masih sangat kurang,apalagi kalau kita berbicara mengenai perpustakaan keliling.
Masih mahalnya harga buku berkisar antara Rp 50.000-150.000 perbuku,pemerintah tidak pernah memberikan subsidi untuk buku-buku sejarah,sastra,politik dan sosial ataupun buku-buku science yang memiliki kualitas bagus dan menumbuhkan sikap rasional dan kritis.

Sebaiknya kita renungkan bersama ucapan Barrack Obama "Kalau kita tidak serius melihat mana yang fakta,mana yang benar dan yang tidak,kalau kita tidak membedakan mana argumen serius dan mana propaganda,itu artinya kita bermasalah.

Cipanas, 05 april 19,
Di Perpustakaan SMPN 1 CIPANAS.

Yanuar Iwan, Guru IPS SMPN 1 Cipanas dan aktivis Pengda FKGIPS PGRI Cianjur

SEGERA MILIKI MAJALAH GUNEMAN

Nomor 2 Tahun V 2019


BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "HANCURKAN HOAX DENGAN BUDAYA LITERASI"

Post a Comment