Harapan Reyna


oleh Rahma Khairunnisa*


Sudah hampir sebulan Reyna berbaring di tempat tidurnya. Ia mengidap maag kronis. Penyebabnya adalah kebiasaan buruk Reyna yang sering telat makan karena terlalu asyik membuat novel.

Reyna sangat menyukai karya tulis. Saking sukanya, ia bercita-cita menjadi penulis dan ingin sekali membuat novel sendiri.

Sejak dua bulan terakhir ini, Reyna mulai mewujudkan mimpinya membuat novel. Namun di balik keinginannya, ia menjadi makin sering sakit.

Di saat teman-temannya berlibur, ia hanya terdiam dan berbaring di tempat tidur. Tugasnya sedikit tertunda, karena ia tak dapat berkonsentrasi jika sedang sakit. Tetapi, meski demikian, bila sakitnya agak reda, Reyna tetap melanjutkan membuat novel. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikan novel itu saat tahun baru tiba.

Hari demi hari, detik demi detik telah dilaluinya, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tugas membuat novelnya, masih belum selesai, padahal targetnya ingin ia selesaikan saat malam pergantian tahun baru. Ia terus berjuang menuntaskan novelnya, tanpa kenal lelah.

Tetapi, semakin hari, sakit Reyna semakin menjadi-jadi. Maag yang dideritanya pun semakin parah. Hingga terpaksa ia harus dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Reyna masih memaksakan melanjutkan novelnya dengan penuh semangat. Keseringan melihat layar monitor selama menyelesaikan novelnya, akhirnya tanpa disadari mata Reyna terkena rabun jauh. Matanya sudah tak bisa lagi melihat benda jauh dengan normal.

Semakin hari, keadaan Reyna semakin memburuk, dokterpun memerintahkan untuk diinfus. Setiap malam, ia selalu merintih dan berdoa agar penyakitnya sembuh dan novelnya cepat selesai.

Tepat di malam pergantian tahun, akhirnya Reyna bisa menyelesaikan novelnya. Novel yang ia beri judul "Mimpi di Ujung Hayat" ini, menceritakan kisah hidupnya sendiri. Ia tulis menjadi kisah yang sangat menarik dan mengharukan. Novel setebal 360 halaman ini, sengaja ia buat untuk memotivasi teman-teman dengan kisah-kisahnya.

Namun, saat berbahagia ini, berubah menjadi duka  saat Allah berkehendak lain. Reyna menghembuskan nafasnya saat akhir malam pergantian tahun, tepat setelah ia menyelesaikan novelnya. Ia tak sempat melihat novelnya diterbitkan dan dibaca orang banyak.

Orang tua dan teman-temannya sngat sedih. Tetapi di balik semua itu, semua orang bangga kepada Reyna, karena novel yang ia buat menjadi novel terbaik dan terlaris di awal tahun 2018.

(Disunting oleh Nurlaela Siti Mujahidah, Pembina Buletin Sekolah, The Pioneer)

* Penulis adalah siswa kelas 9A SMPN 3 Limbangan.
Cerita ini pernah dimuat di buletin SMPN 3 Limbangan, The Pioneer,  edisi Januari 2018. Saat itu Penulis yang termasuk Tim Inti Buletin, masih kelas 8.

Penyunting: Nurlaela Siti Mujahidah





SEGERA MILIKI MAJALAH GUNEMAN

Nomor 2 Volume V Tahun 2019


BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Harapan Reyna"

Post a Comment