HARI KARTINI, PAKAIAN ADAT, DAN SANGGAR




Peringatan Hari Kartini selalu diidentikan dengan pakaian adat daerah. Terutama kaum Kartini. Kadang juga, kaum Kartono ikut berpartisipasi berpakaian adat. Terutama anak sekolah, mulai dari PAUD hingga SLA. Termasuk ibu dan bapak gurunya. Juga, di kantor-kantor. Baik di pemerintahan maupun swasta. Meriah.

Berpakaian adat bukan sekadar memperingati perjuangan seorang perempuan yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional dalam bidang emansipasi perempuan. Raden Adjeng Kartini. Tetapi, tentu juga berhikmah bagi anak-anak untuk mengenali pakaian adat daerah yang bertebaran di bumi nusantara ini, Republik Indonesia. Terlepas, apakah anak-anak bisa memaknai dan memahami, bahkan ikut melestarikan pakaian daerah. Minimal mereka tahu, bahwa bangsa ini kaya raya dengan berbagai pakaian adat dan bisa bersatu dalam kesatuan negara Republik Indonesia.

Di Indonesia, khususnya, setiap peringatan atau perayaan selalu membawa berkah bagi sebagian orang yang berprofesi di bidang konveksi dan sanggar seni atau salon. Seperti peringatan hari Kartini menjadi ladang bisnis yang bisa meraup keuntungan yang relatif besar bagi sanggar seni atau salon.

Salah satu sanggar yang selalu dikerubungi ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya adalah Sanggar Seni Citra Nusantara Studio (CNS). CNS berdomisili di Kampung Menan RT 02 RW 04, Desa Sukamaju, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Pemiliknya Ning Nur.

Sepekan sebelum hari Kartini tiba, ibu-ibu sudah berdatangan untuk melihat dan memesan pakaian adat untuk anak-anaknya yang belajar di PAUD, TK, dan SD. Kalau anak-anak SLP dan SLA, mereka datang sendiri untuk memilih dan mencoba pakaian adat.

Hampir semua yang menyewa pakaian adat sekalian dengan riasannya. Kebetulan Ning  sudah melatih beberapa anak buahnya untuk terampil merias. Sehingga pada saatnya peringatan hari Kartini tiba tidak kedodoran harus merias ratusan anak.

Sejak pukul 04.00, ibu-ibu dan anak-anaknya sudah ada yang datang ke sanggar. Mereka berdomisili di sekitar Cileungsi, Jonggol, dan Cariu. Sedangkan yang hanya menyewa pakaian adat ada yang dari daerah jauh. Seperti Cibinong, Citeureup, Gunungputri, Cibubur, Depok dan Bekasi.

Tarip sewa pakaian adat bervariasi. Mulai dari Rp 75.000/potong sampai dengan Rp 250.000/potong. Tergantung pakaian adat berasal dari mana. Di CNS, pakaian adat hampir lengkap dari berbagai suku tersedia. Sebab, di daerah Jonggol dan sekitarnya berpenduduk heterogen. Banyak pendatang dari berbagai suku bangsa.

Hari Kartini menjadi ladang panen bagi Sanggar Seni CNS, selain peringatan lainnya. Seperti agustusan. Juga, ketika saat acara perpisahan dan pentas seni pada setiap akhir tahun pelajaran. Setiap tahun, bahkan setiap bulan, CNS selalu menambah koleksi pakaian adat. Karena, hampir setiap peringatan hari Kartini dan lainnya, selalu saja ada pemesan yang tidak kebagian.

Ternyata, setiap ada momen peringatan atau perayaan, selalu membuahkan hikmah. Apalagi peringatan tujuh belas agustusan. Hampir semua orang/lembaga kebagian keuntungan. Baik materi maupun imateri. Dunia ekonomi dan bisnis bergairah. Terutama kelompok usaha kecil dan menengah.

"Asyik ya kalau peringatan Hari Kartini diadakan setiap bulan. Atau pemerintah menginstruksikan peringatan hari lahir para pahlawan nasional perempuan dengan berpakaian adat. Hari Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan lainnya. Sanggar cepat besar. Sehingga bisa memberdayakan anak-anak sanggar lebih banyak lagi. Sekarang juga alhamdulillah sudah bisa membantu anak-anak sanggar yang belajar di SLA dan perguruan tinggi. Mereka bisa membiayai sendiri, bahkan bisa membantu kebutuhan keluarganya. Alhamdulillah juga ada seorang anak sanggar yang dijadikan asisten telah mampu membeli rumah sebelum menikah. Sekarang rumah itu ditinggali dengan suaminya," ungkap Ning sangat menggebu.

Seperti yang diungkapkan oleh Alexander Agung (356-323 SM), pemimpin Makedonia,
"Tidak ada hal yang tidak mungkin bagi mereka yang mencoba dan berusaha". Kartini telah berusaha membuka cakrawala dunia tidak hanya bagi kaum Kartinis, tetapi juga bagi kaum Kartonos. Bahwa, kaum Kartinis pun berhak dan mampu untuk sejajar dengan kaum Kartonos dalam hal ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. (émz, Guneman)


SUDAH TERBIT MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 

NO. 2 VOLUME V 2019




BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "HARI KARTINI, PAKAIAN ADAT, DAN SANGGAR"

Post a Comment