Literasi Bisa Basi


Oleh Èsèp M Zaini

(Pemred Majalah Guneman) 

Yang bisa basi bukan saja makanan. Ucapan, program dan kegiatan pun bisa basi. Termasuk gerakan literasi. Pada orde baru ada program yang sangat masif ditebar ke seluruh penjuru negeri. Namanya Gerakan Hidup Ber-Pancasila disingkat GHBP. 

Seiring runtuhnya orde baru, lenyap pula GHBP. Padahal di tempat-tempat umum selalu terpampang spanduk, baligo, dan stiker GHBP. Di bawah nama jalan dan gang terpajang pula tulisan GHBP. Mengapa lenyap? Pilihan ganda jawabannya. Tetapi secara umum karena terkontaminasi ambisi politik dari kelompok penguasa. GHBP lebih pada program pemerintah daripada gerakan arus bawah. Apalagi disinyalir disalahgunakan oleh pihak penguasa. Akhirnya menuai antipati.

Kini, di dunia pendidikan, baik formal maupun nonformal, ada gerakan literasi. Sebenarnya bukan hal baru. Hanya beda label. Dulu bernama gerakan ayo membaca. Memang membaca adalah rohnya literasi. Pemerintah orde baru meluncurkan program pemberantasan buta aksara agar masyarakat melek literasi.

Kalau perpustakaan digelari jantung literasi, maka semua pihak, terutama pemerintah, harus memposisikan perpustakaan sebagai prioritas utama dalam pembangunan. Kenyataannya, perpustakaan selalu menjadi anak tiri atau nyaris jadi yatim piatu.

Literasi bisa basi, jika:

1. Perpustakaan jalan di tempat;

2. Kurangnya penulis buku yang berkualitas;

3. Pustakawan sangat kurang dan nyaris menjadi profesi yang tidak diminati;

4. Taman Bacaan Masyarakat bagai kerakap hidup di batu, hidup segan mati tak mau; dan

5. Tidak melibatkan relawan yang peduli terhadap peningkatan minat baca masyarakat.***


SEGERA MILIKI MAJALAH GUNEMAN

Nomor 2 Volume V Tahun 2019


BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Literasi Bisa Basi"

Post a Comment