Mencari Sosok Kartini di Era Revolusi Industri 4.0



oleh WIJAYA*

Berbincang mengenai Kartini, bagi sebagian besar rakyat Indonesia bukanlah hal yang asing. Sosok yang melekat di dalam ingatan kolektif perempuan Indonesia khususnya. Tidak sedikit tulisan yang mengupas sosok ikonis salah satu pejuang perempuan tersebut. Namanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, akan tetapi terdengar harumnya sampai ke negeri kincir angin di sana. Kartini yang dilahirkan dari keluarga kelas bangsawan pada masanya, sejak kecil sudah terenyuh hatinya melihat kondisi kaum wanita diperlakukan tidak adil dan direndahkan. Realitas pada zamannya itu mendorong nuraninya untuk mengusung dan memperjuangkan harkat dan derajat kaum wanita pada fitrahnya kembali.

Kartini atas bimbingan dari gurunya KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat). Mendapatkan berbagai jawaban yang mencerahkan dari gurunya atas permasalahan yang ada di benaknya. Kondisi Kartini yang berasal dari kalangan Santri-Priyayi harus selalu mencerminkan pengabdian keluarganya sebagai aparatus pemerintahan kepada rakyatnya (Bumiputera). Sosok perempuan bangsawan dengan motivasi belajar dan rasa keingintahuan yang tinggi, menjadikannya sosok yang menguasai bahasa Inggris, Belanda dan Prancis di usia kurang dari 20 tahun. Akan tetapi masih ada kegelisahan dalam dirinya, bahwa Kartini belum menguasai bahasa Agamanya, yakni bahasa Arab.

Seiring perjalanan waktu, maka kegelisahan akan perlakuan terhadap Bumiputera dan kaum hawa pada masanya, semakin membawanya untuk menemukan jawaban. Sejarah mencatat curahan kegelisahannya tersebut disampaikan kepada teman dekatnya bernama Stella EH Zeehandelaar dalam media surat menyurat. Isi surat menyurat Kartini dengan teman Belandanya itu tercatat dalam buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht yang ditulis oleh J.H. Abendanon. Tulisan yang kemudian dialihbahasakan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang" oleh Armijn Pane. Pun penulis sendiri memberi arti secara harfiah "Dari Kegelapan Menuju Cahaya".

Kondisi yang membuat Kartini muda gelisah terhadap kondisi Bumiputera, khususnya kaum perempuan, diantaranya (1). Perempuan Bumiputera kelasnya lebih rendah dibandingkan dengan perempuan Belanda dan para pendatang. (2). Perempuan Bumiputera tidak diperbolehkan untuk bisa mengenyam pendidikan di jalur formal. (3). Perempuan Bumiputera terkekang dengan beragam peraturan yang ditetapkan oleh penjajah Belanda. (4). Larangan dari penjajah Belanda untuk adanya terjemahan dan tafsir al-Qur’an yang beredar dan diperbolehkan untuk dipelajari. Sedikitnya kondisi itulah yang membuat prihatin Kartini dan mulailah kegelisahan itu mewujud menjadi sebuah gagasan lahirnya konsep "kesetaraan" khususnya dalam menuntut hak kaum perempuan Bumiputera untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Gagasan itulah yang menjadikannya pendobrak kejumudan pandangan akan nasib Bumiputera pada masanya termasuk kritik akan proses pemahaman keislaman yang bersumber dari al-Qur’an.

Pemaparan singkat mengenai Kartini di atas, hanya sedikit narasi untuk mengingatkan kembali mengenai perjuangan "kesetaraan gender". Penafsiran yang pada zaman now oleh para pengusung gender telah melenceng dari apa yang telah diperjuangkan Kartini, menjadi kesetaraan yang menerabas nilai-nilai kodrati manusia yang telah digariskan oleh Allah SWT. Perjuangkan gender yang tidak lagi didasari oleh nilai-nilai Ilahiah sebagaimana Kartini tercerahkan setelah mengkaji dan memahami Al Qur'an atas bimbingan dari Kyai Soleh Darat. Kaum yang sekarang menamakan dirinya sebagai kaum pengusung feminisme.

Zaman telah berganti disertai dengan perkembangan di berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan yang telah memberikan warna perubahan bagi bergulirnya dinamika kehidupan manusia baik dari aspek sosial dan keyakinannya. Sebuah konsekuensi yang harus ditanggung sebagai imbas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Dunia tanpa batas dan sekat-sekat teritorial yang ketat, tetapi telah terkoneksikan oleh perkembangan teknologi informasi. Suatu masa di mana teknologi menjadi bagian yang tampil terdepan. Kapan dan dimana pun manusia dapat berinteraksi melalui gawainya.

Era yang kita kenal dengan era revolusi industri 4.0. suatu masa dimana peran manusia terdistrupsi oleh produk yang dihasilkan oleh perkembangan teknologi dan informasi. Tenaga manusia digantikan oleh robotic automation, 3D printer, internet of things, dan data of things. Sampai-sampai seorang guru besar bercanda menggambarkan konsekuensi revolusi industri 4.0. atau fenomena Era Disruption, "Pacaran via video call, Nikah via WhatsApp, Hubungan suami istri via Bluetooth, Bikin anak Diprint". Guyonan ini menggambarkan betapa manusia sudah tidak bisa mengelak dari perkembangan teknologi informasi beserta turunan produknya serta pengaruh nyata dalam setiap aspek kehidupan.

Kembali kepada judul tulisan ini, mencari sosok Kartini di era revolusi industri 4.0. Sebagai gambaran kondisi dan konsekwensi dari era Disruption, yang barang tentu memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap kaum perempuan. Beragam aplikasi media sosial yang semakin marak dengan beragam fitur yang ditawarkannya. Fitur yang memberikan ruang privasi dari para penggunanya. Beragam aplikasi yang akan mendegradasi peran, dan perilaku jika tidak diantisipasi dengan cermat dan solutif. Kaum wanita akan terjebak dengan dunianya sendiri, mengusung dalih emansipasi wanita.

Belum lagi peranan tenaga kerja perempuan dimana selama ini, tingkat ketelitian dan ketelatenan dalam memeriksa kualitas suatu produk, perlahan dan pasti akan digantikan dengan robot automation. Sehingga tidak sedikit yang akan diberhentikan dari pekerjaannya. Sedangkan di lain sisi, peran utama perempuan sebagai pilar keluarga sekaligus pendidik akan semakin besar tantangannya dengan kehadiran gawai di tangan setiap anak serta jaringan internet di setiap rumah. Sehingga masalah karakter yang semakin terdegradasi akan semakin berat untuk menguatkannya kembali. Dalam kondisi seperti ini, sangat dinantikan kehadiran Kartini yang mampu bangkit dan menjadi pilar dalam menghadapi era disrupsi sekarang ini.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh perempuan zaman now sebagai penjelmaan dari estafeta perjuangan Kartini pada masanya. Diantaranya:
1.    Kembali ke fitrah penciptaannya, sebagai pendidik generasi emas yang berkarakter dan cerdas;
2.  Mengenyam pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Karena seorang wanita akan menjadi seorang ibu. Ibu dalam konteks Islam sebagai pendidik dan yang memberikan pendidikan yang paling pertama kepada anak-anaknya, karena rumah adalah sekolah pertama;
3.    Melek teknologi dan teknologi informasi serta literat terhadap berbagai informasi terbaru dan mampu menyikapi secara positif, solutif, inovatif dan kreatif;
4.  Menjadi filter dari berbagai anasir-anasir negatif terhadap perkembangan intelektual, sosial dan psikologis anak-anak yang menjadi tanggungjawabnya;
5.    Menjadi pendamping, motivator dan mitra kebaikan bagi pasangannya;
6.   Kritis terhadap berbagai isu kebangsaan yang bertujuan terhadap upaya pembodohan dan penggiringan opini yang bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Enam point tersebut sedikit banyaknya dapat menjadikan peran perempuan yang strategis dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 beserta dampak yang mengikutinya. Sehingga memperingati hari Kartini tidak lagi hanya sebatas seremonial an-sich dan jauh dari subtansi perjuangan dan pendorong dari perjuangannya tersebut. Peringatan yang tidak hanya sebatas simbolis berupa kebaya dan ekploitasi kecantikan, akan tetapi lebih jauh kepada pemikirannya akan konsep kesetaraan sesuai fitrah dan kodrati. Sebuah gagasan implementatif bahwa perempuan mampu mengambil peran dalam menjadi agen penebar kebaikan bagi sesama, bangsa, dan alam semesta. Mengeluarkan manusia dari sistem yang penuh dengan ketidakadilan kepada sistem yang penuh dengan keadilan dalam petunjuk-Nya.

Allah pelindung orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari Kegelapan (Kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada Kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah [2]: 257). Ayat itulah salah satu jawaban dari Kyai Soleh Darat yang membuat Kartini tercerahkan.

Wjaya, M.Pd., Pemerhati Pendidikan, Ketua Umum FKG IPS Nasional PGRI dan Sekretaris Dewan Eksekutif APKS PB PGRI

AYO MILIKI MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 

NO. 2 VOLUME V 2019




BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mencari Sosok Kartini di Era Revolusi Industri 4.0"

Post a Comment