Menunggu




oleh Ummi Mujahidah



Sejatinya kita, pada hakikatnya sedang menunggu pulang. Karena kita hanya singgah sekejap di dunia. Jadi, siapapun Anda, apakah pasien kanker stadium IV ? Atau setelah general cek up, Anda sehat maksimal ? Sama saja ... kita tengah menuju terminal yang sama, kematian.

Lalu setelah itu, kendaraan amal akan membawa kita pada tempat istirahat sejati. Sayangnya, tiket harus dipesan di awal, sebelum tiba di terminal ajal. Karena harus bayar di muka, kita harus bersungguh-sungguh memperjuangkannya ketika masih hidup, bahkan bisa sampai berdarah-darah untuk pesan tempat terbaik.

Satu hal yang begitu didamba muslimin, melebihi apapun, yaitu husnul khotimah. Ciri yang menyertainya adalah ketenangan dan keikhlasan, bahkan senyuman di gerbang terminal ajal. Detik-detik akhir meninggalkan alam fana, kalimat tauhid yang menghias bibir dan hatinya. 

Masalahnya, tak banyak orang yang menyadari hal ini. Seringkali, kesadaran datang saat hampir tiba di terminal ajal. Tak berguna lagi, karena kita tak punya daya untuk menukar tiket.

Berbincang dengan banyak orang yang mendampingi hari-hari terakhir seseorang, ada beragam versi. Kadang kita mendengar ada beberapa tanda (biasa disebut firasat) yang dikenali. Misalnya prilaku atau ucapan yang tidak biasa, dan baru disadari setelah kematian terjadi. Saat itu taubat masih berlaku dan bimbingan atau pengingat, sangat dibutuhkan. Namun seringkali, kita melewatkan saat-saat berharga itu, karena kita tidak tahu atau tidak peka.

Yang jelas, ketika ruh kita dicabut, sakitnya itu luar biasa. Nabi Muhammad saja, Kekasih Allah, kesayangan para malaikat, merasakan sakit juga. 

Dalam kondisi menahan sakit yang luar biasa, saat itu akal sudah tak bekerja lagi. Apa yang kita lakukan dan katakan adalah apa yang tersimpan di alam bawah sadar kita. Biasanya berupa ucapan atau prilaku yang kita tanam selagi sadar. Singkatnya, saat sakaratul maut menjemput, pada umumnya, kita tak punya daya untuk mengendalikan apa yang kita ucap atau lakukan. Semua terjadi secara tak sadar.

Bagi yang terbiasa mengucap kalimat tauhid, istigfar dan ucapan-ucapan yang baik, ucapan itulah yang akan meluncur dari hati dan mulut kita. Sebaliknya, jika lidah kita asing dari ucapan-ucapan yang baik, maka sehebat apapun orang yang menalkin, tak ada gunanya.

Jika kita ingin husnul khotimah, maka saat menunggu ajal, harus kita isi dengan membiasakan hati dan lidah kita fasih mengucap kalimah thoyibah. Kalimah thoyibah akan menjaga kita untuk terus terhubung pada Allah. Maka apapun yang kita lakukan, akan termotivasi sebagai usaha untuk mendekat pada-Nya. Itulah sejatinya ibadah, usaha terus menerus untuk taat dan mendekat kepada Allah.

Tentu saja bukan hanya sebatas ucapan dan tekad dalam hati saja. Sebab ibadah itu dikawal oleh niat dan ditunjukkan dengan perbuatan. Satu lagi yang tak boleh terlupa, ibadah akan bernilai sebagai penukar tiket ke surga, jika dilakukan sesuai contoh Rasulullah. Tanpa itu, jangan harap dilirik Allah.

Marilah kita isi masa menunggu kita dengan ibadah yang benar. Dengan melatih hati dan lidah kita untuk sentiasa berdzikir kepada Allah. Dengan menggunakan seluruh anggota tubuh sesuai dengan perintah Allah. Semoga aku, kau dan siapa saja yang melatih diri selagi menunggu, mendapat tiket menuju surganya. Amin.

Cinunuk, dini hari, 30032019.

SEGERA MILIKI MAJALAH GUNEMAN

Nomor 2 Volume V Tahun 2019



BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menunggu"

Post a Comment