ORBA GUNEMAN



oleh Èsèp Muhammad Zaini


Kalau berbicara Orde Baru (ORBA), ingatan kita langsung tertuju sang aktor utama. Mendiang Soeharto. Beliau salah seorang tokoh yang saya idolakan. Lho, kok diidolakan? Bukankah Pak Harto seorang pemimpin otoriter, bahkan hingga berkembang biak KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di seluruh nusantara?

Setiap manusia selalu ada dua sisi. Sisi baik. Sisi buruk. Kurang dan lebih. Hitam dan putih. Bahkan, cenderung berbaur dalam keduanya. Tentu saja, kita tak harus melulu melihat sisi kurang baiknya dari mendiang Soeharto. Apalagi, Soeharto telah tiada. Menurut agama (Islam) tak boleh kita membicarakan kejelekan seseorang, apalagi yang telah mati. Cukup itu sebagai catatan sejarah yang tak perlu diulang-ulang.

Soeharto mendapat mandat dari Presiden RI, Soekarno, untuk mengamankan dan menstabilkan keadaan negara yang porak-poranda dilanda badai pertikaian dan pembantaian anak bangsa. Terkenal dengan sebutan SUPERSEMAR 1966. Walau hingga kini masih misterius. Dua tahun berikutnya, Soeharto dinobatkan menjadi Presiden RI kedua oleh MPRS.

Presiden RI kedua ini bukan saja mengantongi PR membereskan keamanan, tetapi jauh lebih penting merajut ekonomi rakyat Indonesia. Tentu saja, Soeharto membutuhkan para pendamping dalam menjalani tugasnya. Kecerdasan dan ketegasan Soeharto kini ditantang lagi. Yang sebelumnya di lapangan peperangan selalu dia tunjukkan. Kecerdasan dan ketegasannya kini untuk memilih dan memilah, lalu menentukan orang yang mempunyai komitmen dan konsistensi dalam memperjuangkan kesejahteraan bangsanya.

Saya sangat percaya, bahwa semua orang, termasuk Soeharto, pasti mempunyai cita-cita yang tinggi dan mulia untuk memajukan harkat dan martabat bangsanya. Dalam segala bidang. Kecerdasan memilih dan menentukan orang yang sejalan dengan visinya, tentu bukan barang mudah. Kecerdasan untuk menguasai ilmu pengetahuan itu hal biasa. Sebab, memilih dan menentukan orang untuk mendampingi perjalanan kepemimpinan seseorang perlu ketelitian dan kecermatan luar dalam.

Saat saya memimpin sebuah perusahaan kecil, saya lebih sering dipusingkan oleh urusan Sumber Daya Manusia (SDM) tinimbang soal komputer eror atau rusak. Saya sampai berkesimpulan, lebih baik mempunyai karyawan kurang pandai, tetapi setia dan jujur daripada pintar, tetapi menelikung alias tidak jujur. Kejujuran itu tidak bisa dibangun dalam waktu singkat, sehari dua hari. Apalagi, kalau sudah terkontaminasi pendidikan keluarga dan lingkungan yang kurang baik. Sedangkan, kepandaian dan keterampilan bisa kita usahakan dengan segera.

Saya sudah mendidik beberapa karyawan di perusahaan yang memiliki kepandaian biasa-biasa saja. Tak cemerlang. Cenderung di bawah standar. Tetapi, kejujurannya luar biasa sudah terbentuk sejak kecil. Kini, mereka sudah menjadi sarjana dan bekerja di tempat yang sangat layak. Mereka kuliah saat bekerja dengan saya. Sedangkan, karyawan yang pintar tetapi kurang jujur, kini hidupnya masih seperti dulu. Tentu, itu masih beruntung.

Untuk membangun dan mengisi pembangunan masa ORBA, tentu bukan main-main. Yang paling didahulukan oleh Soeharto adalah memilih, menentukan dan menempatkan orang-orang atau para pembantunya (menteri atau para ahli) dengan tepat. Ini bukan pekerjaan gampang. Selain harus sevisi, sekomitmen dan sekonsisten, juga para pembantu yang mampu menjalankan segala intruksi Soeharto.

Lima tahun lalu, kami telah membentuk ORBA, yaitu Guneman. ORBA yang saya maksud, tentu bukan Orde Baru, tetapi Organisasi Baru. Saya singkat ORBA, agar terdengar keren dan sedikit menawan.

ORBA Guneman tentu sangat berbeda dengan ORBA Soeharto. Baik dari segi kelahiran maupun kelengkapan unsur-unsurnya. Pun, lainnya. Kesamaannya, tentu saja sama-sama ingin memajukan bangsa Indonesia. ORBA Guneman titik awal dari minat, niat dan kesungguhan para penggagas dan pendirinya.

ORBA Guneman dibentuk untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa mulai dari akar, yaitu membaca dan menulis (literasi induk). Sehebat apapun ilmu, tanpa kedua hal itu hanya sebuah kepercumaan.

Membaca dan menulis mempunyai pondasi yang mahakuat, yaitu firman Allah Swt., ayat 1-5 surat Alalaq dalam kitab suci Alquranulkarim. Dalam ayat tersebut terkandung dua modal utama yang dianugerahkan Allah Swt. kepada makhluk-Nya yang bernama manusia. Kedua modal itu adalah membaca (iqra) dan menulis (qalam). Bukan kurma dan nasi. Sebab, Allah Swt. mengamanatkan kepada manusia untuk mengurus dunia. Bukan kepada malaikat, jin atau setan. Hingga membuat mereka iri.

Kedua modal dasar itu menjadi senjata paling ampuh bagi kita untuk menjelajahi dan menaklukkan dunia. Namun, kalau kita lalai memanfaatkan modal dasar tersebut akan menjadi terkaman dunia. Kita akan terkapar. Kebodohan akan melanda dunia. Hal tersebut, sudah kita rasakan di bumi nusantara ini. Hampir semua media memberitakan tentang keterpurukan literasi Indonesia. Membaca nyaris tak dibutuhkan. Menulis menjadi barang asing di keseharian kita.

Sejurus dengan itu, kami pun menyambut riang atas kelahiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015. Sebenarnya tanpa Permendikbud pun, kegiatan literasi harus sudah menjadi kebutuhan kita. Hanya kadang kita merasa belum terlindungi kalau negara belum campur tangan. Tetapi, intinya tetap ada di tangan dan gerak daya anak bangsa. Kita harus mulai terbebas dari sekadar slogan. Walau slogan itu tetap penting untuk penyemangat gerakan kita. Gerakan literasi jangan sampai terjerembab seperti gerakan lainnya yang pernah semarak di nusantara. Misal, Gerakan Hidup Ber-Pancasila (GHBP) yang hanya semarak di spanduk-spanduk, baligo-baligo dan plang-plang di setiap gang. Sementara buang sampah sembarangan dan korupsi terus terjadi.

Pengikut Guneman, diharapkan setiap saat terus bertambah. Akan tetapi, kuantitas bukan prioritas. Justru, kualitas yang kami andalkan. Para Sahabat, tentu ingat riwayat Nabi Nuh A.S. hidup selama 1.200 tahun, bahkan lebih dari itu! Wallahualam. Nabi Nuh A.S. berdakwah di jalan Allah selama 950 tahun. Berdakwah agar orang-orang mengikuti jalan Allah selama siang dan malam tanpa henti. Nabi Nuh A.S. melakukan semua hanya untuk menyenangkan Allah Swt.

Tetapi, riwayat telah berkata “Pengikut Nuh A.S. dalam 950 tahun, tidak lebih dari 80 orang.” Beberapa riwayat bahkan mengatakan 10 orang. Jadi, selama 950 tahun berdakwah, Nuh A.S. hanya mendapatkan tidak lebih dari 80 orang pengikut. Dan, Nuh A.S. tidak kendur semangatnya sedikit pun, dia terus melanjutkan dakwahnya.

Semoga, Guneman pun demikian. Terinspirasi hidup para nabi, para wali, dan para ulama. Biarkan raga kami mati, tetapi jiwa bersama Guneman hingga kiamat nanti. Melampaui harapan si binatang jalang, Chairil Anwar, yang ingin hidup seribu tahun lagi.

Bandung, 19 Januari 2019
( Launching nama Guneman, SD SMP Al-Azhar Syifa Budi Parahyangan  KBB, 19 Januari 2014)

SUDAH TERBIT MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 

NO. 2 VOLUME V 2019





BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ORBA GUNEMAN"

Post a Comment