Wajah Basah

oleh Wiwin Wintarsih


Pagi itu gerimis turun basahi bumi. Kegiatan pembelajaran jam pertama sudah berlangsung 20 menit. Terdengar ketukan dipintu. Seraut wajah basah menyeruak, setelah ada izin masuk. 

Pembelajaran yang terjeda dilanjutkan. Sekilas masih terlihat wajah basah itu tercenung. Pembelajaran sampai pada sesi pertanyaan. Ra, Wajah basah itu acungkan tangan. Terlihat ragu. "Bu, apakah dengan berinteraksi  manusia dapat memperoleh kebahagiaan?" 

Terkesima dan tidak menyangka akan dapat pertanyaan seperti itu. Kelas hening. Baiklah.  "Anak-anak, pertanyaan tadi sungguh sangat menarik. Memerlukan pemikiran lebih lanjut. Supaya kita mendapatkan pemahaman yang gamblang, maka tugas untuk pekan depan yaitu membuat esai tentang arti kebahagiaan dan apakah dengan berinteraksi manusia dapat memperoleh kebahagiaan?". 

Kelas hening kembali. Terdengar tarikan napas. Pembelajaran ditutup dengan berbagai ekspresi. Aku tersenyum. Mengerti apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Terima kasih anak-anak Ibu yang super! 

Aku 

Sepanjang perjalanan pulang, wajah basah itu masih lekat diingatan. Berbagai tanya datang satu persatu. Beriringan. Kenapa dia datang terlambat?  Mengapa wajah itu tidak seceria biasanya?  Mengapa dia bertanya seperti tadi? 
Kucoba merangkai jawab. Hanya menduga. Tidak berani menyimpulkan. 

Ra

Tadi malam kudengar isak tertahan dari kamar Mama. Sekarang apa lagi?! 
Sudah terlalu sering kudengar suara itu. Isak tertahan dikeheningan malam. Kali ini aku mendengarnya bahkan sampai jauh malam. Sampai adzan Subuh berkumandang. 

Kulalui malam tanpa sempat memejamkan mata. 
Ada kewajiban yang harus kutunaikan. Kepala terasa berat. Mata perih, berair. Kuseret kaki ke kamar mandi. 
Kupandangi cermin. Kupandangi sosok kuyu yang terpantul dari dalam cermin. Kutelusuri garis wajah. Kutemukan mata sembab. "Mama tidak boleh melihat aku dalam keadaan seperti ini. Aku harus bisa persembahkan senyum terbaik untuk Mama. Bismillah...!" 

Aku sudahi ritual di kamar mandi. 
Sambil bersenandung kutemui Mama yang lagi menata meja makan. Sarapan sudah terhidang. Kucuri pandang. Mama tampak biasa saja. Terasa perih dengan fakta yang tersaji. Mama ingin menyembunyikan semuanya. Mama tidak ingin aku mengetahui apa yang terjadi. Apa yang beliau rasa. Aku pura-pura tidak tau apa-apa. Semakin terasa perih. 
"Ma, kapan-kapan kita jalan yu...!"
Mama menghentikan gerakan tangannya yang sedang menuang air minum. 
"Kamu mau ngajak jalan kemana?"
"Kemana aja Ma yang penting kita hepi. Mama maunya kemana?"
Percakapan berlanjut. Diputuskan untuk pergi ke suatu tempat. Percakapan terhenti. Papa turun. Sarapan berlangsung dalam senyap. Komunikasi mati. 
"Yu berangkat... ! Papa sudah telat. Ada miting pagi."
Setelah cium tangan Mama aku mengikuti Papa ke mobil. 

Sepanjang perjalanan hanya diam. Komunikasi macet. Keheningan yang sungguh menyiksa. Masih terngiang jelas isak Mama tadi malam!
Sampai di jalan masuk sekolah, aku minta turun. 
"Turun di sini aja, Pa!"
"Lho, kok turun di sini?!"
"Ra mau jalan kaki ke sekolah."
Setelah cium tangan Papa, aku turun. 

Sambil membetulkan posisi tas gendong, aku berjalan pelan. Bahkan teramat pelan. Dan akhirnya benar-benar berhenti. Aku duduk di halte bis. Terpekur. 
Lagi-lagi sebuah kesadaran akan kewajiban memaksaku melangkah. Kuayun langkah perlahan. Gerimis turun, memacu langkahku. Derainya basahi tubuh. Terlambat dua puluh menit. Kuketuk pintu kelas. "Silakan masuk...!" 

Aku 

Menyadari ada yang ganjil dengan si Wajah Basah, aku ingin mencari tahu. Pagi itu segera kutemui walikelasnya. Mencoba berbincang. Terkuak sedikit keterangan. Bahwa Wajah Basah merupakan anak tunggal dari keluarga metropolis. Ayahnya CEO sebuah perusahaan multinasional. Ibunya pemilik butik terkenal. Track record nya bagus. Masuk tiga besar di kelas. 

Belum cukup puas. Aku menemui guru BP. Berbincang tentang dia. Terkuak sedikit keterangan. Bahwa Wajah Basah pernah mengeluh tentang keluarganya. Tentang Ayah dan Ibunya. Aku mulai tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut. Bismillah.... 

Ra

Mama memutuskan menerima tawaranku. Kami pergi setelah sarapan. Belum ada tujuan. Hanya sekedar jalan. Menikmati suasana pagi. Gerombolan anak sekolah. Kerumunan karyawan menunggu bis. Tukang bubur yang dikerumuni penikmat sarapan pinggir jalan. Rombongan sepeda motor. Orang-orang sedang berolah raga.
Kulirik Mama. Beliau juga tampak menikmati pemandangan yang tersaji. Untuk sementara aku tenang. 

Mobil terus melaju mengikuti jalan berkelok. Mama membelokan mobil ke jalan desa. Aku tidak tahu tujuan Mama. Tidak juga bertanya. Mobil berhenti.  

Rumah mungil itu sangat asri. Di halaman terhampar rumput yang sangat terawat. Beberapa rumpun Mawar tengah berbunga. Merah. Putih. Merah jambu. Sangat indah. Aku terpesona. 
"Nyonya, kenapa ke sini ga bilang dulu...!"
Perempuan berkebaya dengan mata teduh, senyum mengembang, tangan terkembang memeluk Mama. 
Mama hanya tersenyum. Membalas pelukan. Sambil bergenggaman, terus melangkah masuk ke ruang keluarga. Aku masih belum mengerti. Ini rumah siapa? Yang menyambut kami siapa? Aku terus mengikuti mereka. 

Duduk di kursi yang nyaman. Ruangan itu sungguh menawarkan kedamaian. Sudut baca dihiasi rak yang diisi buku. Tertata rapi. Sungguh menggoda untuk melahap isi buku. Aku tertahan di sana entah berapa lama. Yang jelas cukup untuk tuan rumah menyajikan santap siang. Mama memanggilku. 
Kami menikmati santap siang dengan lahap. 

Mama mengajakku ke teras belakang. Suasana di sana sungguh lebih mempesona. Ada kolam yang didalamnya berenang ikan warna-warni. Dipagari tanaman hias beraneka ragam. 
Mama merangkul bahuku. Aku lingkarkan tangan ke pinggang Mama. Lama dalam posisi itu. Terasa hangat dan nyaman. 
"Mama tau, Ra khawatirkan Mama. Tapi itu sungguh tidak perlu, Nak...!  Mama baik-baik saja. Hanya saja komunikasi Mama dengan Papa kurang lancar. Kami harus mencari pola interaksi yang pas. Sehingga kebahagiaan akan segera menjadi milik keluarga kita. Kamu,  tidak perlu berpikir yang bukan-bukan tentang orang tuamu. Fokus saja belajar. Mengejar cita-cita yang Ra impikan. Mama doakan semua yang kamu impikan jadi kenyataan!"
Aku meresapkan semua yang Mama ucapkan ke dalam hati dan pikiran. Tidak sia-sia aku korbankan sekolah hari ini. Aku akan berusaha mempercayai segala yang Mama sampaikan. Aku akan fokus. Bismillah...! 

Aku 

Satu pekan berlalu. Aku kembali ke kelas.  Bangku itu kosong. Kuperiksa daftar hadir. Rara: izin. Bertanya ke seisi kelas, tidak ada seorang pun yang tau.  Aku mencoba fokus. Melaksanakan pembelajaran sesuai perencanaan. 

Berbagai tanya terus berkelebat. Coba kutepis. Fokus. 
Hari itu, aku hanya ada jadwal dua jam pelajaran. Kuputuskan untuk melakukan home visit. Pemilik bangku kosong itu tujuanku. Setelah mendapat izin dari guru piket, kuputuskan segera berangkat. 

Berbekal alamat yang diberikan walikelas, aku mantap melangkah. Teknologi memudahkan perjalananku. Moda transportasi berbasis online mengantarkanku ke sebuah kompleks perumahan mewah. Tidak sulit menemukan rumah mewah itu. Rumah besar berlantai dua. Dihiasi taman yang tertata rapi dan sangat terawat. Sebuah hunian impian. 
Kutekan bel yang ada disebelah kanan pintu. Terdengar suara dari mikropon. Menanyakan siapa yang datang. Aku jawab. Aku jelaskan. Pintu terkuak. Pintu tertutup. Senyum mengembang. Sesosok tubuh berpakaian  pegawai menyambutku. Mempersilakan duduk di kursi teras. Bertanya maksud kedatanganku. Berbincang sebentar. Diperoleh keterangan, Rara pergi dengan ibunya. Pegawai itu tidak dapat menjawab kemana mereka pergi. Penjelasan lain, hubungan pasangan itu tidak harmonis. Sedang dalam masalah. (Dasar tukang nguping...! Tapi untuk yang satu ini aku berterima kasih.) 

Berbekal cerita asisten rumah tangga keluarga Ra, aku pamit pulang. 
Perjalanan yang kulalui diisi dengan berbagai tanya. Dan... Tentu saja tanpa jawab! 

Ra

"Kenapa ibu datang ke rumah?! Kenapa ibu menyuruh segera menemui beliau?!"
Itu diantara pertanyaan yang muncul ketika Esih mengabarkan  kedatangan tamu dari sekolah. 
Setelah mandi aku putuskan untuk menemui Ibu. Kupesan moda transportasi online. Menyebutkan alamat yang dituju. 

Lalu lintas di sore yang cerah itu, ramlan. Lagi-lagi aku menikmati pemandangan yang tersaji. Cukup menghalau bosan. Mobil berhenti di mulut gang. Aku telusuri gang sempit itu. Hampir bertabrakan dengan anak-anak yang berlarian. 

Berhenti di depan sebuah rumah. Mencocokkan dengan alamat yang diberikan Ibu. Pas. Kubuka pintu pagar. Ku ucapkan salam. Ibu datang menyambutku. Membimbing tanganku. Mendudukanku di kursi yang ada di ruang tamu. Menawari minum. 
"Ibu punya markisa di pekarangan belakang. Sudah dibuatkan jus. Sengaja Ibu siapkan untuk Ra. Tunggu ya, Ibu ambilkan!"
Beliau datang dengan segelas jus markisa dan piring kecil berisi kue. 
"Ayo diminum, Ra...! Aku menerima tawaran Ibu. Rasa segar segera terasa. 
"Terima kasih, Bu...!"
"Mau cerita hari ini, Ra kemana aja?" tepukan lembut dijari mendorong aku menceritakan semuanya. Tentang kegelisahan. Tentang Mama Papa. Tentang kepergianku bersama Mama. Tentang keputusanku. Ibu menyimak semua penuturanku. Tersenyum lembut. Rengkuh bahu. Menepuk lembut punggung jariku. Rasa damai menyelimutiku. 

Aku keluar dari rumah Ibu dengan perasaan nyaman. Senyum terkembang. Langkah kaki terasa ringan. Senja yang indah. Senja yang menentramkan. Mentari tenggelam di ufuk Barat. Semburat warna Jingga semarakkan suasana. Tak pernah kunikmati senja seelok hari ini. Syukurku tiada putus. Terima kasih Yaa Rabb...! 


AYO MILIKI MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 



NO. 2 VOLUME V 2019




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wajah Basah "

Post a Comment