WANITA BAJA DARI BARAT


oleh Neneng Irmawati


Cuma sedikit orang yang rela menjadi kecil, sehingga bisa dipakai oleh Allah untuk melewati lubang-lubang ujian yang sempit.(Cut Nyak Din)

Nisan itu berada di atas bukit kecil dengan rimbunan pohon-pohon tertiup angin sepoy. Sepi dan hening. Tak ada hiruk pikuk orang berziarah atau berkumpul untuk membaca do’a bagi tulang belulang yang telah lama terbujur kaku. Namanya tertulis indah sebagai seorang Ibu Perbu dari jauh, merantau tanpa sanak saudara, lepas dari kerabat dan orang terkasih. Dirinya menyendiri dalam naungan langit biru luas di atas Gunung Puyuh yang berjarak tidak jauh dari ibukota Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Butuh waktu puluhan tahun bagi masyarakat Sumedang mengetahui bahwa tahanan perempuan yang dikirim Belanda pada pertengahan Desember 1906 dan kemudian wafat pada 06 November 1908 tersebut adalah sosok wanita hebat yang ditakuti Belanda karena kegigihannya berjuang.

Ya, dia lah Cut Nyak Din, pahlawan nasional berlatar belakang keluarga bangsawan dari Lampadang, wilayah VI Mukim, Aceh Besar.Lahir dan dibesarkan dengan nilai-nilai kebenaran berlandaskan agama dan keteladanan dari kepemimpinan sang ayah, membekas kuat dalam setiap bulir darahnya sampai hembusan nafas terakhir. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.

Cut Nyak Din berada di tengah-tengah keluarga yang taat beragama sekaligus berkuasa di wilayahnya. Sebagai keturunan keluarga bangsawan tentu kehidupannya tidak pernah kekurangan. Beruntung sejak kecilCut Nyak Din memperoleh pendidikan,khususnya pendidikan agama. Pendidikan itu diberikan, baik oleh orang tuanya maupun oleh guru-guru agama pada waktu itu. Pengetahuan tentang rumah tangga sepertimemasak, cara menghadapi atau melayani suami, serta hal-hal yang menyangkut tata kehidupan sehari-hari didapatkan dari didikan ibunya dan kerabat orang tua perempuan. Keluarga Cut Nyak Din tidak hanya terpelajar tetapi juga terpandang dan terhormat karena bakti ikhlasnya pada negeri. Darah pejuang mengalir deras dalam setiap semangat Cut Nyak Din untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dari ancaman keserakahan dan kesombongan kolonial Belanda.

Walaupun Cut Nyak Din bukanlah satu-satunya srikandi nusantara yang mengharumkan nama bangsa karena perjuangan dan jasa-jasa mereka, namun sangat layak jika idealisme dan pengorbanan beliau demi tanah air tercinta ini menjadi inspirasi berharga bagi semua perempuan Indonesia sekarang dan nanti.  Mari memetik makna dan pelajaran dari sejarah. Belajar dari keistimewaan yang dimiliki oleh sosok perempuan lembut berhati baja. Perempuan pembawa cahaya dari Barat yang menerangi seluruh bentuk perlawanan atas nama pembebasan dan kemerdekaan dari penindasan dan penistaan hak-hak hidup rakyat suatu bangsa. Catatan historis mengukir kisah perjuangannya menjadi prasasti sejati bahwa perjuangan Cut Nyak Din bertumpu pada ilmu, iman, dan amal. Tiga kekuatan besar tersebut adalah senjata dahsyat yang mampu melumpuhkan kepongahan Belanda ketika memandang rendah derajat dan kemampuan kaum perempuan dalam menjaga kehormatan dirinya, keluarga, bangsa, dan agama.

Secara keilmuan Cut Nyak Din ditempa oleh pendidikan Islam yang berakar pada tradisi masyarakat Aceh yang religius. Keluarga Din mengajarkannya etika berkeluarga secara islami dan bersikap sebagai muslimah sejati. Lebih dari itu pendidikan kepahlawanan telah mengakar kuat dalam diri Cut Nyak Din melalui lantunan cerita sastra klasik yang tertuang dalam “Hikayat Perang Sabil”. didalamnya berisi syair-syair perjuangan yang digunakan sebagai model pendidikan para ulamakepada  rakyat Aceh untuk melakukan perangjihad melawan para musuh yang datang ke tanah kesayangan. Dengan ilmu agama yang diperolehnya Cut Nyak Din berjuang dengan strategi dan penuh perhitungan. Dia perempuan yang tidak mudah terhasut oleh berbagai fitnah dan dengan sangat pandai terus memompa semangat berjuang para pengikutnya yang mulai kendor. Ketika Teuku Umar, suaminya bersiasat bekerjasama dengan Belanda dengan cara menjadi mediator pembebasan kapal uap Inggris SS Nisero  dari penyanderaan rakyat aceh,  Cut Nyak Din tidak lantas termakan oleh keraguan pasukan Aceh yang mengira suaminya itu telah berhianat dan berbalik menyerah. Namun di sisi lain sebagi istri, dia terus mengingatkan Umar agar berhati-hati dengan strateginya tersebut. Kepintaran menyusun argumen, kelembutan dan kesabarannyalah yang membuat Umar terus berjuang tak kenal ampun. Cut Nyak Din adalah istri yang cerdas, pendamping setia dan pandai melayani suami. Tetapi karena kecerdasannya, Umar menghormati dan menyayangi Cut Nyak Din tidak semata pendamping, tetapi rekan seperjuangan yang sederajat. Cut Nyak Din tahu betul kapan harus mundur, kapan saat tepat untuk menyerang.

Ketetapan hati Cut Nyak Din untuk mengusir Belanda dari tanah Rencong adalah kokoh karena keyakinannya akan makna perang suci melawan ketidakadilan dan penindasan. Iman yang kuat pada dirinya menjadi benteng kuat untuk terus maju dan maju. Bahkan di detik-detik terakhir perjuangannya Cut Nyak Din masih tetap teguh. Jika iman sudah kuat, apa pun halang rintang menghadang ditebas dengan kekuatan sabar dan kegigihan mencapai tujuan. Cut Nyak Din banyak mengalami kehilangan. Kampung halaman dia harus tinggalkan karena luluh lantak diserang pasukan Belanda. Hidupnya berjalan dari satu pengungsian ke pengungsian lain. Dia harus kehilangan kemewahan yang selayaknya diperoleh. Bertahun-tahuan hidup jauh dari suami tercinta, diitinggal berperang dan akhirnya harus mengikhlaskan sang suami syahid terkena peluru zalim penjajah. Cut Nyak Din akhirnya menerima pinangan Teuku Umar sebagai suami kedua karena alasan perjuangan. Dirinya yakin berjuang berdua akan lebih menguntungkan. Apalagi Teuku Umar dikenal panglima yang memiliki pasukan kuat dan selama ini telah tanpa henti melakukan perlawanan terhadap kolonial.

Semangat cinta tanah air dan kepemimpinannya dilandasi oleh tekad, jiwa, dan semangat baja yang tak kenal menyerah serta keteguhan imanterhadap Allah Swt. Hampir seluruh hidup Cut Nyak Din adalah sebuah pengorbanan. Kecintaannya pada tanah kelahiran tidak menyurutkan niat dan tekadnya berjuang. Di akhir masa perjuangan, bukan karena tubuh renta apalagi  penyakit yang menggerogoti setiap sendi geraknya  yang menjadi penyebab perjuangannya berakhir, tapi penghianatan. Kenyatannya Selama 6 tahun sejak kematian Teuku Umar, dirinya tidak pernah rela menyerah. Hidup berpindah dari satu pojok hutan ke pojok yang lain, dengan pandangan matanya kian rabun dan kemudian buta. Dan encok makin hari makin menghambat geraknya. Makanan semakin kurang, obat tidak ada, malam dingin berangin dan siang merambatkan panasnya. Namun mulutnya tidak pernah berhenti menyuarakan perlawanan. Peluhnya gencar menyemangati setiap insan pejuang untuk terus bergerak melakukan gerilya terhadap ‘kaum penjarah yang tak tahu malu’. Ketika waktu penangkapan itu tiba, sang Kapten Belanda Veltman dan pasukannya berdiri terpana. Inikah pemimpin perlawanan yang selama bertahun-tahun menjadi buron pemerintah? Seorang wanita tua bungkuk pesakitan yang kelihatan tidak berdaya?. Bahkan musuh pun seakan tidak percaya bahwa “pemberontakan” yang sulit dipadamkan dan menimbulkan kekisruhan luar biasa tersebut digelorakan oleh seorang perempuan uzur, tanpa senjata modern, berjuang dari hutan ke hutan, serba kekurangan, dengan jumlah pasukan jauh dari mencukupi.

Ya, dialah Cut Nyak Din yang berjuang untuk umat, untuk tanah air, untuk sebuah martabat bangsa. Dialah Cut Nyak Din istri dari para pejuang yang melahirkan pejuang-pejuang tangguh. Mari kita berkaca dari kelembutan hatinya sebagai pendamping suami, sebagai ibu yang penuh kasih, sebagai perempuan cerdas nan kokoh tak tergoyahkan, sebagai pemimpin sekuat baja yang berjuang melindungi. Tak pernah surut langkah baginya, berpantang pulang sebelum cita tergapai, bahkan ketika nyawa harus jadi taruhan.
Nisan yang sunyi berisi jiwa tenang dalam haribaan. Tidak pernah ada kata berhenti untuk perjuangan. Mari menimba hikmah dari  perjalanan hidup seorang “Ratu Perang”. Kisahnya tertulis jelas sebagai pengingat zaman. Bagi anak bangsa yang berniat maju. Karena aku, Cut Nyak Din, akan terus berdiri mendampingi, sampai negeri ini dilihat dunia.                                                                                                               

Wahee aneuk meubek taduek le
Beudoh saree tabela bansa
Bek tatakot keu darah ilee
Adak pih mate poma ka rela

Bangunlah anakku, janganlahduduk kembali
Berdiri bersama pertahankan bangsa
Jangan pernah takut walaupundarah harus terbuang
Sekiranya engkau mati, ibu telahrela
(Hikayat Perang Aceh)


Bandung, Maret 2018


*) Neneng Irmawati, guru IPS SMPN 3 Baleendah Kab. Bandung

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "WANITA BAJA DARI BARAT"

Post a Comment