MELIBATKAN ALLAH DALAM MENDIDIK SISWA


oleh Imam Nur Suharno*)

       Guru tidak sekadar menyampaikan (transfer) ilmu pengetahuan kepada siswa. Guru sebagai arsitek peradaban, di tangannyalah (atas izin Allah) masa depan siswa dan bangsa. Perlu disadari, gelar yang disandang oleh guru bukan jaminan keberhasilan dalam mendidik. Sangat mungkin gelar yang dimiliki dapat menjadi bumerang menuju kegagalan. Hal ini bisa terjadi ketika guru terlalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki.
       Kadang lupa, sebagai manusia, guru hanya mampu berusaha. Selebihnya, keputusan akhir tentang hasil menjadikan siswa cerdas dan saleh bergantung kepada-Nya. Sikap terlalu yakin akan kemampuan diri hingga mengabaikan-Nya dapat membuatnya kehilangan kekuatan jiwa.
       Mendidik adalah menyentuh hati. Dia-lah pengendali hati, dan membolak-balikkan hati, mudah bagi-Nya menjadikan siswa cerdas dan saleh. Maka, guru harus selalu dekat dengan Sang Pemilik hati, yaitu melalui doa. 
       Ilmu yang dimiliki guru hanya sebagai pedoman, sarana prasarana pendidikan sebagai media, berhasil dan tidaknya proses pendidikan harus diserahkan sepenuhnya kepada-Nya. Doa yang selalu dipanjatkan akan turut menentukan keberhasilan lebih lanjut. Intinya, guru harus senantiasa melibatkan Allah Swt. dalam mendidik siswa. Doa termasuk hal penting yang harus dipegang teguh. Melalui doa, rasa cinta dan kasih sayang kepada siswa akan bertambah. Untuk itu, hendaklah guru senantiasa memohon kepada-Nya agar Dia meluruskan (hati) siswa. 
       Guru adalah orang tua bagi siswa. Nabi Muhammad Saw melarang orang tua (guru) mendoakan keburukan bagi siswa. Mendoakan keburukan kepada siswa merupakan hal berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak (siswa) dan masa depannya (HR Abu Dawud).
       Imam Al-Ghazali menyebutkan, ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin Al-Mubarak mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Ibnu Mubarak berkata, ”Pernahkah kamu mendoakan keburukan baginya?” Ia menjawab, ”Ya, pernah”. Ibnu Mubarak mengatakan, ”Engkau telah menghancurkannya”. Seharusnya, daripada engkau penyebab kehancurannya dengan mendoakan keburukan baginya, lebih baik engkau menjadi penyebab kesalehannya dengan mendoakan kebaikan untuknya.
       Ada waktu-waktu mustajab yang hendaknya tidak dilewatkan oleh guru untuk mendoakan kebaikan bagi siswa. Yaitu, pada sepertiga malam setelah selesai salat Tahajud (HR Muslim) dan saat sujud dalam salat (HR Muslim). Lalu, pada hari Jumat (HR Bukhari dan Muslim), sesudah shalat wajib (HR Tirmidzi), antara adzan dan iqamah (HR Abu Dawud dan Tirmidzi), saat azan dikumandangkan (HR Abu Dawud), saat safar (dalam perjalanan) (HR Ahmad), dan saat berpuasa (HR Baihaki).
       Semoga Allah membimbing kita para guru dalam mendidik siswa, dan menjadikannya insan yang saleh, cerdas, tercapai cita-cita, dan meraih rida-Nya. Amin.

*) Kepala HRD dan Personalia Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat


Penyunting: Saeful Amri

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MELIBATKAN ALLAH DALAM MENDIDIK SISWA"

Post a Comment