Mengajar Perlu Keberanian

Oleh: Aira

SMKN 1 Cikalongkulon

Setiap manusia terlahir memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dengan berbagai keunikan yang dimiliki membuat manusia berbeda dengan yang lainnya. Demikian pula, dengan profesi yang disandang seorang guru yang menuntut memiliki kemampuan mengajar dihadapan peserta didik. Banyak di antara guru-guru yang tidak memiliki keberanian menyampaikan materi di depan siswa-siswinya. Mereka berasumsi tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengajar atau berbicara di depan umum. Bukan hanya mengajar saja apapun yang kita lakukan menghadapi kehidupan ini perlu keberanian!

Debut karierku dimulai pada saat menyelesaikan pendidikan S1 diperguruan tinggi. Saat itu dilatarbelakangi bahwa guru bukan cita-cita pertamaku. Namun, keadaan mengantarkanku menapaki karier yang menjadi rutinitasku setiap hari. Pertama kali mengajar pada saat program yang diadakan kampusku mengharuskan para mahasiswa melakukan studi lapangan yang disebut PKL atau istilahnya praktik kerja lapangan. Jurusan bahasa dan sastra Indonesia yang menjadi pilihanku sebagai latar belakang pendidikanku yang akan tersemat sepanjang perjalanan karierku. Saat aku ditempatkan PKL di sebuah SMP Negeri 1 Cikalongkulon, di sana aku dipertemukan dengan guru-guru yang mengampu pelajaran bahasa Indonesia yang menjadi mentor, mengarahkan dan membagi pengalamannya sebagai guru bahasa Indonesia. Disuatu pagi yang cerah, kuayunkan langkahku menuju sekolah tempat aku PKL aku sudah berhadapan dengan dua guru bahasa Indonesia yang mengajar di sekolah tersebut. Keduanya terlihat sudah berumur taksiranku usianya kisaran 45 tahun-an, aku dan keempat temanku disambut dengan ramah yang diselimuti senyuman.

Dengan ramahnya ibu Erna dan Ibu Herlita menyapa, “Assalamualaikum …? Sambil menyalami kami berempat mereka yang dipanggil oleh petugas piket melalui pengeras suara sedang berada di kelas.

“Waalaikum salam…” jawab aira diikuti ketiga teman-temanku menjawab salam kedua guru pembimbingku selama tiga bulan melaksanakan PKL.
Kami bersama kedua guru dari SMP Negeri 1 Cikalongkulon terlibat perbincangan asyik tentang pembagian mengajar selama kami berada di sekolah dan menghandel mengajar mereka selama tiga bulan.

“Ada yang ditanyakan?” begitu ibu Herlita membuyarkan kebingungan. Kami yang nervous membayangkan mengajar menghadapi anak-anak di kelas. Arnes yang penasaran menyela dengan sedikit malu-malu “Ibu saya harus mempersiapkan apa? Kalau ke kelas! Terus kalau boleh saya mau mengajar di kelas tujuh” sambil sedikit tertawa dan menutup mulutnya. Aku dan kedua temanku ikut tertawa dengan sedikit ditahan.
Ibu Erna yang dengan penuh bersahabat memegang pundak Rara berucap, “Awalnya pasti ada rasa takut, malu, dan perasaan lainnya campur aduk, ibu juga dulu begitu, tapi perasaan itu hanya diawal-awal saja selanjutnya biasa aja, sok lah kalian pasti bisa”. Demikian bu Erna menjelaskan cukup dapat kami pahami dan mulai besok Aku dan ketiga temanku mulai masuk kelas dengan mempersiapkan perangkat pembelajaran yang ditulis!

Lonceng berbunyi tanda jam masuk dimulai dengan sedikit agak berlari, degup jantungku seolah berpacu dengan langkah sepatuku seolah berbunyi sama tak dapat aku bedakan bunyi keduanya antara degup jantungku dan suara langkahku beriringan. Hawa sejuk pagi itu, semakin terasa keringat dingin tanganku yang menyergap seluruh tubuhku. Dag dig dug degup jantungku tak henti-hentinya hingga aku  berusaha mengumpulkan seluruh kepercayaan diriku untuk menguasai kegugupanku menghadapi keadaan kelas.

Tibanya aku di pintu kelas 8A, dengan rasa gemetar yang coba aku kuasai dengan tersenyum.
“Assalamualaikum ..” dengan nada agak keras aku menggucap salam. 
Ada banyak mata yang tak melepaskan pandangannya, sorot mata yang banyak mengandung arti yang membuat perasaanku berkecamuk. Dengan mengingat-ingat kata-kata yang sudah aku susun semalaman kata pertama apa yang harus aku ucapkan. 
Aku mencoba menenangkan keadaan, kondisi kelas delapan yang ramai, dipenuhi celotehan yang tak dapat aku tangkap apa yang mereka bicarakan. Aku mencoba berucap, hallo…! Mereka seolah sudah memahami menjawab, “Hai……! Dengan serentak membuat aku sedikit memiliki napas untuk mengikuti arus saat itu. “Hai …! Aku menambahkan, dan mereka menjawab halo…..

Aku mengawali menyapa mereka memperkenalkan diri, dan menjelaskan materi yang akan dipelajari hari ini dengan menggunakan media karton. Mungkin saat ini media karton sudah jarang digunakan  lagi, memgingat masanya sudah berbeda. Aku membagi kelompok siswa yang berjumlah 42 orang dibagi menjadi 7 kelompok terdiri dari enam orang setiap kelompoknya. 
Pembelajaran pun berjalan sebagaimana mestinya, aku berusaha memotivasi mereka untuk aktif bertanya, karena di SMP siswa masih perlu bimbingan, mereka belum berani mengungkapkan pendapatnya, aku berusaha dengan mencurahkan kata-kata motivasi agar mereka aktif dan ikut andil dalam pelajaran kala itu. Aku mencoba mengajukan pertanyaan.

Bagaimana? Ada yang ditanyakan? Silakan acungkan tangan!
Ada yang nyeletuk seorang anak laki-laki yang katanya tidak bisa diam di kelas dengan gaya dan celotehnya berucap! 
“Iya sok atuh cunghend! Rifand!” Ucap Rendi, dengan logat Sunda Rendi menyuruh temannya Rifan untuk bertanya. Seraya teman-temannya bersorak! “Huuuhhhhhh!” Serentak sebagian siswa menimpali. 

Aku tetap tersenyum dan terus berusaha memberikan penguatan bahwa apabila tidak paham silakan bertanya. “Karena apabila Kita malu bertanya tentunya kita akan tersesat di jalan” begitu aku memancing agar mereka mau bertanya.
Pengalaman pertamaku mengajar cukup membuatku tegang, cape, dan nervous karena keteganganku tidak terasa hingga keringat membasahi kerudungku. Ternyata pertama mengajar tidak  seseram bayanganku, ketakutan tidak menguasai materi, kehabisan kata-kata, dan takut tidak bisa menjawab pertanyaan siswa. Itu bukan masalah besar. Ya.. ternyata setelah pengalaman pertamaku mengajar membuat aku harus mempersiapkan segala seuatunya, mulai dari a-z.

Ketakutan yang aku bayangkan selama ini dalam mengajar bukanlah hal besar lagi. Namun, setelah menjalani dan mengalaminya sendiri semua ketakutan itu dapat kita kuasai. Dengan berbekal sebuah keyakinan bahwa kita memiliki kemampuan seperti yang lainnya yang sudah berkiprah sebagai guru, dengan memulainya dan mencobanya kita akan mengetahui seberapa jauh kemampuan kita. Menilik beberapa factor yang membuat orang berpendapat  takut untuk mengajar. Hal itu pasti dialami oleh  guru baru yang melakoni perannya sebagai guru. Banyak hal yang dirasakan karena hal baru yang dihadapinya. Agar tumbuh keberanian orang dalam mengajar, salah satu yang bisa dilakukan adalah mencari apa penyebab ketakutan yang menghalangi keberaniannya untuk mengajar. Ketakutan-ketakutan tersebut biasanya ada dalam pikiran dan perasaannya dan menjadi beban pada saat mengajar. Beban mental inilah yang terkadang menjadikan proses belajar mengajar yang dilakukannya kurang efektif. Bukan dalam hal mengajar saja dalam hal apapun kita harus memiliki keberanian.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengajar Perlu Keberanian"

Post a Comment