SEPUCUK SURAT BIRU


oleh
Dra. Rika Rachmayanti, M.Pd
(SMA Negeri 3 Cimahi)

Di antara waktu senggangku, kutemukan sepucuk surat biru di antara buku-buku. Kubuka kembali suratmu dan kubaca untaian kata-kata yang kautuliskan. Inilah untaian kata-katamu yang membuatku mengharu biru.
Bunda…. Andai waktu bias kuatur mundur. Kuingin kembali ke masa dimana kita tiada ragu, khawatir ataupun gundah akan kebersamaan yang terus berjalan seiring dengan waktu yang terus berlari menjauhi kita. Maafkan Ananda jika ada salah ucap atau laku.
Bunda…. Seandainya waktu berlari menjauh membentang jarak antara kita, maka saat itu keinginanku adalah berlari lebih cepat untuk berada di samping bunda. Jarak bukanlah rintangan, tapi rindu inilah yang berat kurasakan. Karena kaumatahariku yang senantiasa tuntunku dengan segala ketegaran. Dan kaulah rembulanku yang senantiasa belai lembutku dengan cahaya ketulusanmu. Terimakasih bunda….
Bunda…. Sebentar lagi C lulus dari Smaluchi, tapi walaupun begitu, C nggak mau ada kata berpisah dengan bunda. Karena bunda yang selama ini bangunkan C dari “tidur”, hanya ucapan bunda yang C dengar, hanya oleh bunda hati C tergugah. Sekali lagi C ucapkan terimakasih bunda….
I love you bunda, C sayangbangetsamabunda ….
                                                                                                                                    Ananda, C

Kulipat dan kumasukkan kembali suratmu. Tak terasa air mengalir dari pelupuk mataku. Teringat kembali kisah sukaduka bersama C.
Nanda, kini kau telah kuliah di kampus yang menjadi idamanmu. Kau memang bukan terlahir dariku, kau adalah siswaku, tapi aku merasa kau terlahir dari rahim kasihsayangku. Aku hanya bias mendoakanmu agar cita dan cintamu dapat kauraih sesuai dengan apa yang kau dambakan.
Di manapun kau menjelajahi dunia ini, namamu akan senantiasa terpatri di dalam lubuk hatiku.
Bunda juga sayang kamu C.

Penyunting: Mardiah Alkaf


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SEPUCUK SURAT BIRU"

Post a Comment