AMPLOP MASA DEPAN


Letters, Envelope, Old, Antique, Post



Karya : Lili Priyani 

(Guru SMAN 2 Cikarang Utara) 

 Saya memang terlahir dari keluarga yang kurang beruntung. Bagaimana mau dikatakan beruntung? Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, Bapak harus banting tulang menjadi kuli pasir dari pagi hingga sore hari. Dengan upah perhari 30 ribu rupiah, tentunya tidak bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kami sekeluarga. Ibuku juga bekerja sebagai buruh setrika bagi tetangga yang membutuhkan jasanya untuk merapikan baju. Biasanya  Ibu dibayar 15 ribu rupiah untuk sekali menyetrika dengan jumlah baju dan celana yang sudah menggunung, barangkali setelah semua baju dan celana sudah tidak ada lagi di dalam lemari keluarga Sang Majikan. Kami, empat bersaudara, saya duduk di kelas 3 SMA, adikku laki-laki di kelas 2 SMP  dan  3 SD, serta Si Bungsu yang baru berusia 5 tahun. Seharusnya Si Bungsu bisa masuk TK seperti anak-anak lain yang tinggal di kampungku, tetapi adikku tidak. Untuk masuk TK dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan lebih mahal dibandingkan untuk mendaftar ke SMP atau SMA. Maka, Adikku di rumah saja, belajar cukup denganku: membaca, menulis, dan berhitung. Kujamin, bila diadu dengan anak seusianya, adikku tak akan kalah bersaing bahkan mungkin akan mengungguli mereka. Menurutku, adik bungsuku ini terlahir sebagai anak yang cerdas.
      Demi melihat kondisi keluarga yang seperti itu, maka kuputuskan untuk membantu meringankan beban orang tua, paling tidak untuk keperluan sekolahku, bisa kutanggulangi sendiri. Bahkan untuk jajanku atau membeli  beberapa  barang-barang yang kupakai  untuk sekolah, seperti tas, jilbab, sepatu, kotak pensil, alat tulis, bisa kupenuhi sendiri dari uang yang kumiliki. Setiap sore setelah pulang sekolah, saya langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah ‘siswa’. Ya, saya menyebutnya demikian karena saya datang ke rumahnya untuk mengajar. Anak-anak SD yang oleh orang tuanya dipercayakan kepadaku  untuk belajar Matematika, IPA, Bahasa Inggris, atau mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya di sekolah. Setiap hari dari Senin hingga Sabtu, saya mengunjungi mereka bergantian , seminggu dua kali pertemuan.  Untuk satu kali pertemuan, saya dibayar 20 puluh ribu rupiah, upah yang lebih mahal dibandingkan dengan upah yang diperoleh ibuku menyetrika.  Bila  seminggu ada enam kali pertemuan, berarti bisa dihitungkan jumlah yang bisa kuperoleh dalam seminggu, apalagi dalam sebulan. Bagiku, jumlah itu sangat banyak. Biasanya  setelah kuterima bayaran dari orang tua ‘siswa’, kuserahkan semuanya kepada Ibu. Tetapi Ibu selalu menolaknya, Ibu katakan bahwa semua uang itu adalah hakku. Semuanya buatku.  Menurut Ibu, biar saya saja memegang semua uang itu untuk keperluan saya sendiri.  Bahkan Ibu pernah berujar, “Seharusnya Bapak dan Ibu yang mencukupi semua keperluanmu, Nak. Tapi Bapak dan Ibu tak mampu’. Kulihat derai air mata Ibu tumpah sambil mengucapkannya.
      “Tak apa, Bu. Saya juga senang melakukannya. Nanti setiap bulan biar saya bantu  membelikan  beras, minyak goreng, dan mie instan, ya Bu”, begitu jawabku. Tak tega untuk banyak berkata-kata karena kulihat air mata Ibu lebih deras mengucur ketika mendengar penjelasanku itu.
      Hari ini adalah minggu pertama di bulan September.  Saya menghitung jumlah uang yang tadi sore kuterima  dari para orang tua siswa. Kubagi menjadi beberapa amplop, masing-masing amplop kutulisi: Untuk Rumah (maksudnya untuk keperluan keluargaku seperti membeli beras, minyak goreng, dan mie instan); Untuk Adik (biasanya kuberikan kepada adikku yang mana saja sesuai dengan keperluan sekolah mereka yang sifatnya mendadak. Ini untuk jaga-jaga bila sewaktu-waktu ternyata adikku membutuhkan uang untuk keperluan sekolah sementara Bapak dan Ibu sedang tidak mempunyai uang); Untukku (untuk semua keperluanku seperti membeli buku, alat tulis, sepatu, jilbab, dan lain-lain, termasuk untuk jajanku); dan Untuk Masa Depanku (nah, yang terakhir ini adalah tabunganku untuk nanti kupergunakan bila seandainya saya  berkesempatan  kuliah).
      Sama seperti anak-anak SMA lain, tentunya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun banyak juga di antara temanku yang tidak berkesempatan untuk melanjutkan kuliah, tapi saya yakin bila mereka diberi pertanyaan apakah ingin kuliah atau tidak maka jawaban mereka sebenarnya adalah: ingin kuliah. Tapi mungkin, ada alasan lain yang menyebabkan mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA. Dan alasan utamanya adalah finansial. Bukankah untuk kuliah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan bisa disebut mahal. Belum biaya kuliah, uang makan, uang kos, dan lain-lain, yang tentunya tidak murah. Untuk itu, saya sudah memikirkannya  sejak sekarang.  Dan demi mewujudkan keinginan berkuliah, saya sudah menyimpannya dalam amplop: Untuk Masa Depan. Amplop ini kususun rapi di balik baju terbawah di lemari yang sudah tidak terlalu kokoh lagi, barangkali sudah terlalu lama, kayunya mungkin semakin rapuh. Menurut Ibu, lemari ini adalah lemari sewaktu Ibu muda dulu. Ketika Ibu pindah dari rumah Nenek ke rumahnya sendiri bersama Bapak, lemari ini disuruh Nenek untuk dibawa bersama dengan peralatan dapur seperti piring, sendok, panci, wajan, dan beberapa yang lainnya. Kebiasaan yang juga dilakukan oleh orang tua lain di kampungku tatkala melepas anak gadisnya dipinang kemudian dibawa oleh suaminya berumah tangga. 
     Sering saya mendengar kisah tentang kebiasaan ini. Tadinya saya berpikir, mengapa orang tua memberikan bekal peralatan dapur kepada anak gadisnya yang akan pindah ke rumahnya sendiri bersama suaminya. Bukankah sebagai suami istri, mereka bisa melengkapi peralatan rumah tangganya sendiri. Atau mengapa harus perlengkapan dapur? Bukankah perlengkapan di dalam rumah tangga itu tidak hanya peralatan dapur, masih banyak perlenggakpan lain yang juga harus dibutuhkan. Kasur, tempat tidur, peralatan mandi, kursi, meja, dan masih banyak yang lainnya.  Kini, pelan-pelan terjawab sudah. Ternyata, stabilitas rumah tangga itu berawal dari dapur. Aktivitas rumah tangga pun sebenarnya bagi seorang perempuan, lebih banyak dilakukan di dapur. Sejak bangun tidur, kuamati Ibu langsung menuju dapur. Menyiapkan makanan untuk sarapan kami. Siang sepulang kerja menyetrika, Ibu langsung ke dapur. Menyiapkan makan siang dan sekaligus malam, juga untuk kami. Malam pun kadang-kadang Ibu masih ada di dapur, entah mencuci piring, membereskan dapur, atau menyiapkan sayur-mayur atau lauk untuk dimasak besok pagi setelah sholat Subuh. Begitu setiap hari. Memang, tak salah bila Nenek dan juga ibu-ibu yang lain membekali anak gadis mereka dengan perlengkapan dapur ini. Seperti itulah faktanya.
      Setiap pos keuangan yang sudah tersimpan di amplopnya masing-masing, siap kukeluarkan sesuai dengan kebutuhannya. Kuajak adik terkecil ke warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Warung ini relatif lengkap menyediakan segala kebutuhan sembako. Kubeli beberapa kilogram beras, 10 bungkus mie instan, dan dua liter minyak goreng kemasan. Kubelikan juga beberapa makanan ringan buat ketiga adikku. Masing-masing mendapat jatah dua macam kudapan kering (snack), sesuai dengan kesukaan ketiga adikku itu. Masih tersisa beberapa lembar pulahan ribu. Sisa uang inilah kumasukkan ke dalam amplop untuk masa depan.
      Sementara  amplop Untuk Adik, belum kukeluarkan isinya karena memang di bulan ini belum ada pembiayaan lain yang mesti dikeluarkan oleh kedua adikku yang sedang duduk di bangku SMP dan SD itu. Bila sampai akhir bulan September ini ternyata tidak ada keperluan yang  kukeluarkan maka biasa isi amplop itu akan berpindah ke dalam amplop Masa Depan.  Sedangkan amplop yang bertuliskan Untukku, hanya kukeluarkan sedikit saja, tidak lebih dari seperempatnya. Itupun hanya berpindah tempat saja. Beberapa lembar kususun di dalam dompet yang sehari-hari kubawa ketika bepergian. Ini untuk jaga-jaga bila suatu saat ada keperluan, baik itu keperluan sekolah seperti  untuk memfotokopi, untuk mengerjakan tugas, untuk sumbangan, dan lain-lain. Untuk amplop ini, memang saya sedikit selektif mengeluarkannya.  Bila memungkinkan  tidak  akan  saya keluarkan.  Nah, jika ternyata sampai akhir bulan pun amplop ini masih bersisa maka semuanya akan berpindah ke dalam amplop Untuk Masa Depan yang jumlahnya  tidak lagi satu melainkan selalu bertambah karena amplop yang lama sudah tak mampu lagi untuk menyusun lembaran rupiah yang tersisa dari amplop yang lainnya.  Bukankah akan semakin tebal saja isi amplop ini bila setiap akhir bulan mendapatkan tambahan isi dari ketiga amplop lainnya, begitu saya selalu berharap.
      Selayaknya siswa kelas XII SMA, diberikan kesempatan untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), saya pun melakukan berbagai tahap mulai dari pendaftaran, mengisi biodata, hingga mencetak kartu bukti pendaftaran.  Sesuai dengan peraturan dalam pemilihan jurusan melalui jalur SNMPTN yaitu setiap siswa pendaftar dapat memilih sebanyak-banyaknya dua Perguruan Tinggi Negeri (PTN),salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan SMA asalnya, sementara apabila memilih satu PTN maka PTN yang dipilih dapat berada di provinsi manapun. Setelah melalui pemikiran yang tidak sebentar, disertai sholat yang kuusahakan setiap sepertiga malam sebelum waktu Subuh menjelang, akhirnya kuputuskan memilih ITB. Cita-citaku sedari kecil, dan inilah kesempatanku untuk merealisasikannya. Saya hanya memilih ITB saja untuk kedua jurusan yaitu Teknik Perminyakan sebagai pilihan pertama dan Teknik Pertambangan  sebagai pilihan kedua, kedua-duanya berada di Fakultas yang sama yaitu Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM). Bila ada yang bertanya, “Mengapa saya memilih kedua jurusan itu?” maka akan saya jawab seperti ini.
        “Kualitas perminyakan di Indonesia sangat baik dan setara dengan kemampuan negara lain. Hal ini mencakup kemampuan negara kita dalam mengeksplorasi minyak bumi secara efektif dan efisien dengan teknologi terbaik, memanfaatkan sumber daya manusia Indonesia sebagai yang terdepan dalam memproduksi minyak bumi, serta dapat mendistribusikan minyak bumi yang berkualitas kepada pasar dunia tanpa mengesampingkan kesejahteraan masyarakat di dalam negeri sendiri. Mengingat saat ini sedang terjadi penurunan produksi minyak bumi di Indonesia, berarti dibutuhkan kemampuan  untuk menahan laju penurunan produksi dari sumur-sumur tua.  Dengan persediaan yang semakin menipis tentu dibutuhkan lebih banyak sarjana teknik perminyakan untuk mencari sumber daya minyak. Hingga saat ini di Indonesia sendiri saja masih mampu memproduksi 800.000 barrel per hari. Banyak sarjana perminyakan yang berkeliling dunia  bahkan tinggal di luar negeri, tempat  mereka  mengeksplorasi dan menemukan minyak bumi dan gas. Mereka bisa saja menjelajahi gurun pasir,lautan, pegunungan, dan daerah terpencil yang menyediakan sumber minyak dan gas. Sebenarnya, ini sesuai  dengan jiwaku. Saya menyukai tempat-tempat seperti itu, berpetualang, singgah di tempat-tempat baru. Tapi sampai sekarang saya belum mampu mewujudkannya. Kupikir dengan mengambil kuliah di jurusan ini, semua  kesenangan yang kuimpikan bisa terwujud. Meskipun saya seorang perempuan, tapi mengapa harus mempertimbangkan gender untuk melakukan suatu pekerjaan atau untuk memilih sebuah profesi. Tak adil bila harus seperti itu, bukankah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam dunia pendidikan?. Apalagi penghasilan yang akan didapat oleh seorang ahli perminyakan. Jurusan ini adalah salah satu jurusan dengan penghasilan tertinggi. Di Amerika saja, untuk lulusan dengan gelar S-1 Teknik Perminyakan bisa berpenghasilan sekitar $120.000 per tahun. Apalagi yang memegang gelar lebih tinggi atau memiliki spesifikasi keilmuan (spesialis). Wah, sangat menggiurkan.”
         Sementara untuk pilihan kedua yaitu Teknik Pertambangan, seperti ini penjelasannya.
       “Teknik pertambangan adalah jurusan yang mendalami teknologi dan juga kegiatan usaha yang berkaitan dengan bahan galian, mulai dari penyelidikan umum (prospeksi), eksplorasi, penambanagan (eksploitasi), pengolahan, pemurnian, pengangkutan, sampai kepada pemasaran. Dengan sumber daya alam Indonesia yang begitu berlimpah maka pertambangan memiliki prospek yang sangat cerah. Terlebih lagi, komoditi hasil tambang Indonesia yang telah diakui dunia, seperti timah, batubara, tembaga, nikel, emas, hingga minyak yang sangat diperhitungan dunia dalam perdagangan internasional.  Permintaan dunia terhadap hasil tambang ini, tidak pernah surut. Ini akan berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk tenaga ahli di bidang ini. Keahlian ini tentunya akan dihargai dengan upah yang biasanya tidak murah, bahkan lebih bila dibadingkan dengan pekerjaan lainnya.”
        Begitu kurang lebih analisisku untuk kedua jurusan kupilih itu.
Bismillah, kuketiklah pilihanku itu pada layar monitor komputer di sekolah saat melakukan pendaftaran SNMPTN secara daring (online)
      ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
       April merupakan bulan yang mendebarkan, penuh kegalauan, jantung selalu berdenyut kencang, harap-harap cemas, dan sekaligus bulan sungguh dinantikan untuk siswa kelas XII sepertiku ini. Serangkaian ujian sudah kulewati. Tapi masih saja kumanfaatkan waktu dengan belajar dan membahas soal-soal  sekalipun ujian panjang sudah kuikuti mulai Ujian Praktik sejak bulan Februari, Ujian Sekolah di bulan Maret, hingga Ujian Nasional yang baru saja berlalu. Rasanya semangatku berada di titik kulminasi tertinggi, tak terbendung ingin belajar dan belajar. Hanya satu lagi tujuanku kini yaitu menanti pengumuman SNMPTN dan bersiap kuliah. Ah, kuliah. Sungguh berbinar hatiku ketika membayangkan kata itu. Seketika meluncur semua khayalan dan imajinasi tentang kampus, mahasiswa, tugas kuliah, kegiatan mahasiswa, dosen, buku-buku, semuanya menari-nari di benakku. Tak sabar aku menantikannya.
       Tanggal 26 April merupakan hari yang begitu bersejarah dalam hidupku. Tepat pukul  24.00 WIB, terpampanglah namaku di layar komputer sebagai peserta yang lulus SNMPTN pada jurusan Teknik Perminyakan ITB. Alhamdulillah, Ya Allah terima kasih atas semua yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Air mataku berlinang tatkala membaca namaku tertera di laman itu, mengucur dan semakin deras sambil kubaca berulang-ulang pengumuman itu.  Tak lagi kutahu berapa lama aku tercenung di depan monitor komputer, hingga seseorang lelaki  menghampiriku.
       “Neng, warnetnya   mau ditutup karena sudah pukul satu dini hari.”, begitu ungkap penjaga warnet.
         Seketika aku terperanjat, tersadar dan segera menutup layar, membayar, dan bergegas pulang. Ya, kuharus mengabarkan berita baik ini segera mungkin kepada Bapak dan Ibu.  Mereka harus merasakan kegembiraan yang sama sepertiku. Kuingin mereka bangga. Kuingin mereka bahagia mendengarnya.
       Ternyata setibaku di rumah, Bapak sudah menunggu di pintu masuk rumah sambil berjonggok. Kuambil tangan Bapak, kucium agak lama. Tak terasa air mataku mengalir dan Bapak hanya terdiam memandangku.
     “Bapak, Neng diterima di ITB. ITB, Pak. ITB. Bapak tahu kan ITB? Neng diterima, Pak!”, emosiku memuncak.
      Dari arah kamar, Ibu pun keluar, mungkin suaraku membangunkan Ibu. Kusambar tangan Ibu, kucium, kuciumi. Air mataku semakin tumpah ruah, tak tertahankan.
“Ibu ... Ibu ... Neng akan  kuliah. Kuliah, Bu. Di ITB, Bu. ITB.”, kuberikan penekanan pada kata ITB. Aku ingin Bapak dan Ibu tahu bahwa aku benar-benar bangga sekaligus bahagia  bisa mewujudkan mimpiku untuk berkuliah di sana.
      Tetapi Bapak dan Ibu tak bersuara, mereka terdiam. Seribu pertanyaan berkecamuk di benakku. Apakah mereka tak bahagia sepertiku? Apakah aku tak membanggakan mereka? Atau? Tak mampu kujawab.
       Dari sudut mataku, kulihat Ibu menangis sambil tertunduk. Tampak benar Ibu berusaha menutupi tangisnya agar tak terdengar olehku atau mungkin tak terdengar juga oleh Bapak. Tapi semakin lama, tangis Ibu semakin pecah. Kebingungan menyergapku. Apa yang salah? Atau ada apakah? Hingga  beberapa saat kemudian, terdengar suara Ibu sambil tetap terisak dalam tangis yang tertahan.
“Neng, Ibu dan Bapak bangga padamu. Bangga sekali. Terima kasih sudah membuat Ibu bahagia mendengar kabar baik ini.”
      Sampai sini, hatiku sungguh senang mendengar  kalimat yang keluar dari mulut Ibu. Sebagai anak, rasanya tak ternilai ketika kita bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua kita. Dan aku sudah melakukannya.
        Tapi, setelah menyimak kelanjutan kalimat Ibu berikutnya, perasaanku hancur, sangat hancur.
“Sepertinya, Neng tidak akan bisa kuliah untuk sekarang”, tangis Ibu belum berhenti. Di antara isak tangisnya Ibu melanjutkan.
      “Minggu depan Bapak harus menjalani operasi  di rumah sakit di Jakarta. Bapakmu terkena kanker otak stadium 4.”
        “Ibu mohon, Neng bisa menjaga adik-adik selama Ibu menemani dan merawat Bapak di rumah sakit.”
     “Kita tidak bisa mengandalkan Saudara kita karena merekapun mempunyai urusan masing-masing. Jadi Ibu harap Neng bisa melaksanakan tanggung jawab ini.”
      “Selanjutnya Ibu mohon bantuan Neng agar mau meminjamkan uang kepada Ibu untuk keperluan Ibu dan Bapak selama Bapak berobat. Sekali ini Ibu mohon dengan sangat. Ibu sudah mencoba untuk meminjam kepada Saudara kita tapi rupanya mereka juga sedang tidak mempunyai uang berlebih untuk dipinjamkan kepada kita. Ibu sudah berusaha datangke rumah Om Edward tapi ternyata beliau keberatan. Alasannya adalah beliau tidak yakin kita mampu mengembalikan pinjaman uang tersebut. Jaminan pinjaman pun kita tak punya karena rumah yang kita tempati ini adalah kepunyaan Nenekmu. Dulu memang, Nenek memperbolehkan Ibu dan Bapak untuk menempatinya setelah pernikahan karena Nenek tahu bahwa Bapakmu belum mampu membeli rumah sendiri. Jadi, rumah ini bukan rumah kita. Tak mungkin akan Ibu jaminkan kepada Om Edward. Harta lain kita tak punya.  Sepeda yang biasa Ibu pakai akan Ibu jual untuk tambahan biaya. Ibu betul-betul mengharapkan bantuan Neng,” mengalir kalimat dari mulut Ibu dengan sedikit terengah-engah menahan gemuruh perasaan yang bercampur aduk. Tangis Ibu semakin dalam.
     Lama kami terdiam. Bapak terduduk lemas di lantai rumah, Aku pun tak berdaya, duduk di sebelah Bapak . Ibu tertunduk tak bertenaga di depan kami. Kami terbenam dalam pikiran kami masing-masing. Hingga, akhirnya aku pun bersuara.
       “Ibu, Bapak. Bagiku, Bapak dan Ibu adalah segalanya.  Bapak harus sembuh, harus. Kami masih menginginkan Bapak tetap sehat bersama Kami. Adik-adik masih membutuhkan Bapak.  Bapak harus berobat.”
       Entah kekuatan apa yang menghampiriku saat itu. Aku bisa sebegitu tegarnya, tangisku tak ada, lenyap tak bersisa.  Kata-kataku tegas, berwibawa, mengalir begitu saja. Barangkali inilah kekuatan cinta. Cinta mampu mengalahkan segalanya, mampu meredam perasaan yang teramat gundah, mampu memadamkan rasa kecewa yang begitu dirasa, mampu memberikan  kekuatan untuk lunglai raga, mampu memompa logika ketika kenyataan yang ada tak sesuai dengan harapan yang begitu didamba. Ya, inilah cinta. Cinta yang teramat dalam, sangat dalam.
       Setelah itu, aku bergegas masuk ke kamar dan kembali lagi berkumpul bersama Ibu dan Bapak.
       “Ini Bu. Ambillah.”
Kuserahkan  semua amplop yang bertuliskan: Untuk Masa Depan  itu ke genggaman  tangan Ibu sambil kupeluk Ibu teramat erat.
     “Jangan pernah Ibu katakan untuk meminjamnya. Ini uang Ibu. Ini juga uang Bapak. Peganglah, Bu. Pakailah untuk keperluan Ibu dan pengobatan Bapak.”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
       Di kamar aku bersujud. Ini sujudku yang teramat panjang di sepertiga malam hingga pagi tiba. Hanya pada-Nya segala rasa yang berkecamuk di dada kutumpahkan. Hanya pada-nya segala rasa yang bergelegak dalam jiwa kuadukan. Hanya pada-Nya segala rasa yang bergemuruh dalam hati kuserahkan. Hanya pada-Nya. Bila ini adalah ketentuan yang terbaik dari-Mu, Ya Allah, maka aku rela menjalaninya. Aku pasrah, Ya Rabb,.  Mohon bimbing aku. Mohon beri aku kekuatan. Mohon beri aku keikhlasan. Mohon tuntun aku . Genggam aku, Ya Allah dengan sepenuh kasih sayang-Mu. Dekap aku, Ya Robb dengan cinta-Mu agar aku mampu mempersembahkan cinta yang terbaik bagi orang-orang yang kucintai, terutama Ibu dan Bapak.

(Cikarang, 24 Oktober 2017)


Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "AMPLOP MASA DEPAN"