Cerbung: AK_304 Part 1

oleh Kiki Oki Yasminiati

Part 1
#Apakah Itu Kamu?


Kunaiki tangga gerbong kereta api, kucari tempat duduk sesuai karcis yang kupegang. Kucocokan nomor kursi dengan nomor karcisku. Tak dinyana seorang gadis cantik melankolis duduk didepan kursiku. Dia sendu, diam tak bergeming. Tatapan kosong melihat ke luar jendela. Akupun duduk di kursi depan dia. Ku benahi tas ransel bawaanku. Kubuka jaket kulitku dan disimpan disebelah tas.

Tak begitu lama kereta pun melaju pelan keluar dari stasiun. Aku berupaya menarik perhatian dia supaya dia melihatku. Tapi dia tetap saja terdiam melihat pemandangan di luar jendela. Aku berusaha bereaksi sambel berdehem, " Ehem ..," ku berusaha mengalihkan perhatian dia. Dia tetap diam seperti tak peduli denganku. Akhirnya aku menyerah sementara terdiam.

Lama terdiam, aku terusik untuk bertanya. "Mau kemana Dik?" tanyaku sambil memandang matanya. Dia hanya melirik menatapku sejanak. Tidak lama keluar rembesan air di sudut matanya, matanya mulai berkaca-kaca. Semakin tak mengerti, apakah aku salah bertanya?
"Maaf bila saya salah bertanya,” tanyaku lagi. Dia tersenyum kecut sambul mengusap air di pipinya.
"Maaf .. Mas,” jawabnya.
"Kenapa?” Aku penasaran lanjut bertanya.
"Nggak apa-apa,” jawab dia lirih, lalu terdiam lagi.
"Boleh kenalan, biar agak santai ada teman ngobrol karena perjalanan kita jauh,” tanyaku lagi membuka obrolan.
"Rina,” jawabnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalam.
"Ivan,” jawabku sambil menerima uluran tangannya. Wajah sendu nan dingin tak mau menatap wajahku. Wajahnya pucat pasi seperti sedang sakit. Dia menghindari pandangan mataku, lalu dia diam lagi dan memandang ke luar jendela.

Tak lama gawayku berdering. Tak sampai tiga kali berdering lalu kuangkat, terdengar suara berat laki-laki berwibawa menanyakan sesuatu.
“Ya, Hallo Siap Komandan! Ya tugas sudah dilaksanakan.” Kataku tegas.
“Korban sudah dibawa dengan ambulans menuju perjalanan ke rumah korban. Ya, saya masih di kereta api, posisi sekitar daerah Cilacap,” jawabku.

Aku kebetulan mendapat tugas mengurus kasus pembunuhan di kamar hotel. Korban wanita berusia dua puluh lima tahun, lajang dibunuh sampai rusak tak dikenali wajahnya. Kubuka tas kuambil dokumen korban, kulihat data-datanya sambil diamati ada yang ganjil. Kulihan foto-foto korban wajahnya rusak penuh dengan luka dan darah. Namun ku tertegun sekikas warna baju yang di foto sama dengan pakaian yang dikenakan gadis di depanku. Kupandangi wajah gadisdi depanku, lalu aku lihat foto lagi.

Kutepis prasangka buruk di pikiranku. Kupandangi lagi sekilas wajah sendu di depanku, sambil pura- pura aku melihat ke luar jendela. Wajahnya sendu dan matanya berkaca kaca menahan tangis jatuh ke pipinya. Kemudian ia berkata,

“Tadi aku menyaksikan seorang gadis menjadi korban kekerasan, sepertinya ia dianiyaya, wajahnya dan seluruh badannya rusak penuh dengan luka tusuk. Aku sangat ngeri sampai kepikiran ... ,” ceritan Rina, sambil pandangannya tak lepas ke luar jendela, sekali-kali melihat jawahku. Seakan ingin melihat riuk perubahan kengerian di wajahku.

Aku terdiam mendengarkan kisahnya. Wajah cantik pucat pasi dan sendu seolah menghayati perannya menyampaikan cwritanya yang menyedihkan. Lalu berpikir ada apa dengan dia.

Tak lama kereta pun sampai di tujuan. Kami pun berpisah, ke arah yang berlawanan kami pergi setelah mengucapkan salam perpisahan. Bergegas aku menghampiri temanku.
Dia Roni rekan kerja dan sahabatku sudah menunggu di gerbang luar stasiun.
“Van ...! Berita terkini. Korban di kamar hotel, dia terdapat luka tusuk dan disiksa.” Katanya.

Sejenak aku terkesiap melihat foto identitas korban. Dia teringat gadis yang duduk di depanya tadi. Ivan melihat ke sekeliling diharap gadis tadi masih ada.
Apakah itu dia?


Part 2
# Siapakah Mereka  Itu?


Aku bergegas berlari menghampiri mobil mini bus Toyota Rush silver di parkiran, yang dikemudikan Roni. Aku berusaha melihat ke sekeliling stasiun, berharap masih bertemu dengan gadis yang duduk di depanku tadi. Roni berusaha menjelaskan kepadaku tentang identitas korban. Tapi pikiranku masih menempel pada gadis tadi yang bernama Rina. “Ada yang tak beres,” pikirku.
“Apa benar itu dia? Sambil kulihat lagi foto itu, dan ku baca namanya, “Ranti  namanya ada kemiripan. Namun, aku yakin dia manusia, masa dia hantu?” sambil ku lempar foto itu ke dalam fail dokumen,… pikiranku kacau. “ Apa dia kembarannya?” ku cari alternatif  pikiran lainnya.
“Hai …! Kamu kenapa?” tanya Roni mengagetkan lamunanku.
“Eh… enggak … engak apa-apa,” sambil kulihat lagi foto korban.
“Dia cantik sekali, mengapa dia dibunuh?” pertanyaan terus menerus berkecamuk di pikiranku.
“Menurutmu korban kenapa?” Tanyaku lagi.
“Alibiku dia dibunuh pacarnya,” jawab Roni
“Kok bisa?” tanyaku lagi.
“Menurut resepsionis, dia bersama seorang laki-laki yang kemungkinan dia pacarnya.” Katanya lagi. Aku ingat kembali obrolan di kereta tadi. Dia mengatakan, dia melihat pembunuhan, ditusuk, disiksa, mengerikan … uh, kata-kata itu terus terngiang.
Sepertinya ada hubungannya dengan kasus yang sedang ku tangani. Apa dia ingin memberi petunjuk? Dia tidak jelas memberikan alamat kejadian, tapi kasusnya sama dengan yang sedang ku tangani.
*****
Sampailah di rumah korban, mobil diparkir dihalaman rumah, tampak banyak  masyarakat yang takziah, juga ingin mengetahui kasus yang menimpa korban.
Aku menghampiri kedua orang tuanya. “Maaf Bu, saya Ivan dari kepolisian yang mengantar jenazah putri Ibu.” Saya turut berduka cita atas meninggalnya putri Ibu,” kataku membuaka percakapan sambil bersalaman dengan Ibu korban. Ibu korban menerima salamku sambil menangis tak henti-henti.

“Apa yang terjadi dengan anak saya, Pak?” tanyanya disela derai air mata yang tak henti.
“Sabar ya Bu, Putri Ibu bernasib tragis. Saya akan berusaha mencari pembunuhnya.” Kataku lirih. Ibu korban segukan  tak tertahankan begitu sedih. Kemudian aku melanjutkan bersalaman dengan ayahnya. Ayahnya pun memegang bahuku kuat-kuat seolah tak mau lepas, dan ingin mengatakan, “Tolong tangkap pembunuh anakku.” Dia hanya memejamkan mata sambil menarik nafas panjang menahan tangis yang menyesakkan dada.

Aku  tak  tega melihat kedua orang tua renta menangisi kepergian putrinya. Hampir air mataku terjatuh karena tak tahan melihat sedu sedan orang mereka, sepertinya merasa kehilangan sekali. Aku duduk di sebelah Ayahnya sambil menerima salam dari semua pelayat yang menghampirinya. Kulihat beberapa foto Ranti terpampang di dinding. Dia sangat mirip dengan gadis yang kutemui di kereta api tadi. Aku berusaha mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Tapi tidak ada yang aneh, semuanya biasa-biasa saja.

Aku berpamitan menunggu di luar, karena masyarakat begitu berjubel memenuhi rumah korban, tumpah ruah suara jerit tangis dari saudara-saudaranya yang merasa syok melihat        mayat korban. Mungkin mereka menyesalkan kematian Ranti begitu mengenaskan.

Beberapa warga membereskan tempat bagi pelayat. Bendera kuning tertancap di pohon depan rumah, menandakan rumah tersebut sedang berkabung. Beberapa ibu-ibu sedang meronce bunga untuk disimpan di keranda jenazah, sebagian lagi sedang memepersiapkan bunga rampai Kuperhatikan sekeliling rumah kalau-kalau ada yang mencurigakan. Tak ada yang aneh, semuanya natural seperti biasanya. Lalu pandanganku tertuju pada dua orang yang sedang asyik ngobrol seperti sedang beradu argumentasi, saling ngotot, ekspresinya seperti sedang mempermasalahkan sesuatu.

Insting berburuku mulai mengalir di pikiranku, Gerak-geriknya membuat aku menjadi bertanya-tanya siapa mereka, dua orang berambut agak gondrong memakai jaket kulit, membuat aku penasaran. Yang satu berambut agak ikal, memakai jaket warna hitam, agak tinggi berperawakan dan langsing. Sedangkan yang satunya agak pendek dan agak gemuk badannya.  Kudekati mereka sambil pura-pura menyulutkan rokok dan duduk di bangku kayu dekat mereka. Kuarahkan pandangan ke depan sambil kutiupkan asap rokok ke atas. Aku tak memperhatikan mereka, tapi telingaku berusaha setajam mungkin menangkap pembicaraan mereka.

“Sialan …, nggak  terdengar jelas,” umpatku dalam hati.
Mereka melihatku seperti mecurigaiku, lalu mereka menghindar berjalan menghilang di tikungan yang terhalang rumah-rumah warga. Kuikuti kepenasaranku, kupercepat langkahku setengah berlari supaya tak tertinggal. Tapi kalah capet, mereka berlari, dan mengendarai sepeda motor Honda Vario  berwarna merah dari parkiran kendaraan.
“Sial … Huh … sialan,” sambil kutendang batu kerikil, bahkan tak terlihat samasekali plat nomor polisanya. Tak lama ada warga yang lewat, lalu kutanya,” Maaf Pak, Bapak tahu siapa mereka?” sambil kutunjuk orang yang kutuju tadi.
“Saya kurang tahu Pak, sepertinya mereka bukan warga sini. Saya juga baru melihatnya,” jawabnya sambil cepet berlalu menghampiri rumah korban. Aku ditingggal sendirian.
“Kira-kira siapa mereka?” tanyaku dalam hati.

Bersambung …


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerbung: AK_304 Part 1"

Post a Comment