DINAMIKA REMAJA MASA KINI


oleh Vera Verawati*)

       Masa remaja adalah masa proses pencarian jati diri, itu kata remaja sekarang. Banyak kenakalan terjadi di masa ini. Ketika kenakalan-kenakalan itu terjadi, kurun waktu yang tak terlalu lama sebenarnya dari Era 90-an ke Era 2000-an. Regenerasi itu begitu cepat. Pola asuh serta pergaulan disertai fasilitas yang dimiliki remaja sekarang memberi keleluasan untuk mereka mencoba setiap hal baru yang mereka tahu dari beberapa media.
       Tanpa pengawasan, kehidupan remaja tentu akan sangat berbahaya. Terbukti dari meningkatnya angka kriminal yang dilakukan oleh remaja. Beberapa hasil penelitian menunjukkan drastisnya angka kenaikan remaja putus sekolah. Justru terjadi di era di mana kita dituntut untuk menjadi manusia yang berkualitas tinggi baik dari segi edukasi maupun moralitas.
       Dari segi perekonomian, kita lihat banyak sekali kemajuan. Herannya justru merosotnya nilai kesadaran akan pentingnya pendidikan sangat tajam. Berbagai jenis lembaga pendidikan disediakan serta berbagai program penunjang baik untuk orang tua maupun untuk remaja itu sendiri dengan mudah bisa diakses. Namun yang kita saksikan mentalitas remaja milenial tidak sebaik mentalitas remaja kita dulu di Era 90-an.
       Ketika dihadapkan pada peraturan-peraturan sekolah/madrasah disertai disiplin yang diterapkan sekolah justru disikapi sebagai suatu tekanan untuk sebagian remaja. Padahal tanpa peraturan tentu akan semakin terlihat kesemrawutan. Lalu menjadi tanggung jawab siapa ketika terjadi problematika pada remaja kita seperti ini.
       Ada beberapa faktor penyebab remaja-remaja saat ini menjadi lebih frontal. Faktor intern maupun faktor ekstern. Faktor intern yakni kondisi kehidupan remaja yang berasal dari lingkungan terdekat yakni keluarga. Psikologi remaja kita saat ini begitu mudah menyalahkan keadaan keluarga seperti kesibukan orang tua yang akhirnya sedikit mendapat perhatian. Perceraian orang tua juga menjadi alasan yang sangat dominan, bisa juga karena kondisi perekonomian keluarga sehingga menuntut salah satu orang tua untuk bekerja di luar kota/negeri terutama ibu dalam jangka waktu panjang.
       Faktor intern lainnya yaitu orang-orang terdekatnya termasuk salahnya dalam menyikapi solidaritas pertemanan. Remaja kita saat ini mudah sekali terbawa arus pergaulan yang salah dengan alasan solidaritas sesama teman. Seperti peribahasa mengatakan kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita akan terbawa harum namun ketika kita berteman dengan tukang sate maka kita akan ikut berbau asap. Itu mengandung arti jika kita berteman dengan orang baik-baik maka kita akan terbawa baik tapi jika kita berteman dengan orang-orang yang brutal kita pun terekspose brutal. Itulah hukum sosial yang terjadi.
       Faktor ekstern yang juga sangat besar pengaruhnya adalah media. Termasuk acara televisi, handphone dengan berbagai akses di dalamnya, buku atau majalah dengan berbagai ilustrasinya. Maka dari itulah menjadi tugas kita semua untuk meminimalisir kenakalan remaja  atau akan lebih baik jika kita bisa mengajak dan mengarahkan mereka menjadi sosok yang lebih produktif dari pada menjadi pribadi-pribadi yang konsumtif.
       Mari kita bantu remaja kita terbebas dari frontalitas yang liar. Kita arahkan mereka menjadi remaja-remaja yang berprestasi dan santun. Itu adalah tugas orang tua, sekolah  termasuk juga warga sekitar. Kerjasama kita untuk tidak bosan mengingatkan remaja kita untuk lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang mereka dapati dari berbagai media ataupun lingkup pergaulan mereka akan sangat membantu mewujudkan harapan kita ke depanya. Semoga. (Waroeng Ilmu-Cirendang, 2019)


Vera Verawati  lahir di Jambi, 1 Februari 1979. Hobinya membaca dan menulis. Ia berprofesi sebagai juru masak di Waroeng Ilmu, Cirendang, Kuningan.


Penyunting: Saiful Amri, M.Pd.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DINAMIKA REMAJA MASA KINI"

Post a Comment