Kau Ketuk Hatiku, Nouval


oleh Hj. Nurmani*)

       Pukul 8.30 aku di ruang guru, saat ini, kelasku ada pelajaran Bahasa Inggris. Aku gunakan untuk membaca materi yang akan aku sampaikan hari ini.
       Pak Reza masuk terburu-buru. "Bu, saya hari ini tidak bisa sampai tuntas mengajarnya. Saya mau pamit. Ada verifikasi data di Dinas Pendidikan Kota. Jadi saya minta tolong, agar mau mengawasi anak anak. Saat ini sedang mencatat materi," kata Pak Reza.
       "Baik, Pak Reza. Semoga sukses, ya," jawabku.
       Aku berdoa agar Pak Reza dan guru honor lain di kotaku cepat diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Aku jadi ingat dengan perjalanan karirku sebagai guru. Selama 12 tahun menjadi guru honor. Sempat menjadi TKK selama 6 tahun. Akhirnya pada tahun 2007 aku diangkat PNS. Lamunanku buyar, ketika ada suara mengetuk pintu.
       "Ibu, maaf, mau lapor. Di kelas, Naoval nangis diganggu Naqib," lapor Ratih.
       "Iya, sebentar, ya. Ibu mau matikan laptop ibu dulu. Kamu duluan saja. Nanti ibu segera menyusul.”
       Aku segera ke kelas. Letak kelasku di lantai 2. Aku mempercepat langkahku. Sepanjang jalan ke kelas, aku terus berfikir. Tidak seperti biasanya Naqib dan Nauval berselisih seperti ini.
       Ya. Allah belum ada 10 menit kepergian Pak Reza, anak anak sudah ada yang menangis, pikirku.
       Sesampainya di kelas,  anak-anak sedang mencatat tugas dari Pak Reza. Kulihat di pojok kelas, Nauval menangis tanpa suara. Tapi sesegukan . Matanya sembab. Keringatnya mengucur deras. Sementara teman yang lain sedang menulis . Kelasku langsung hening ketika aku datang.
       Aku panggil Nauval dan Naqib. Aku cari tahu dulu apa yang menyebabkan mereka berdua bertengkar. Saat aku mengintrogasi mereka, Nauval bercerita sambil menangis. Bicara terbata-bata. Matanya merah. Naqib hanya menunduk.
       "Katakan kepada ibu, siapa yang memulai?"
       Naqib menangis setelah mengakui kesalahannya. Aku memanggil teman-teman yang melihat penyebab mereka bertengkar. Tanya sana-sini. Ada sekitar 5 siswa yang aku panggil. Akhirnya aku sudah bisa menyimpulkan penyebab mereka bertengkar. Hanya soal kecil. Nakib ingin melihat jawaban dari Nauval dengan sedikit memaksa. Tapi nauval tidak mau memberikan jawaban tersebut. Nauval tidak mau memberikan tapi Naqib memukul kepala Nauval.
       Baru kali ini Nauval dan Naqib bertengkar. Mereka duduk sebangku. Nouval memang memiliki kemampuan yang lumayan. Dia termasuk 10 besar di kelas. Beda dengan Naqib, memiliki kemampuan yang belum maksimal. Bisa membaca, lambat menulis, dan susah untuk konsentrasi lebih lama. Nilainya sering di bawah KKM. Namun aku menyukai prilaku Naqib yang rajin ke sekolah. Sepertinya dia tidak pernah malu dan siswa yang paling awal datang saat piket kelas.
       "Ayo, Kalian segera minta maaf. Naqib, Kamu tidak boleh berbuat seperti itu lagi, ya. Berjanjilah, agar tidak mengulanginya lagi," kataku sambil merangkul keduanya.
       "Ya, Bu. Saya janji," jawab Naqib.
       "Maafkan saya, Naqib, harusnya saya tidak berlaku kasar." Nauval mengajak Naqib bersalaman. Sebagai tanda sudah memaafkan. Mereka saling bersalaman.
       Aku terharu. Aku tahu, sebenarnya yang paling bersalah adalah Naqib. Namun Nauval meminta maaf terlebih dahulu.
       "Nauval, Kamu anak saleh. Siapa yang memulai minta maaf dialah yang terbaik."
       "Ibu, saya mohon izin, mau wudu dulu," kata Nauval.
       "Ya, silahkan Nauval."
       Masya Allah, aku dapat pembelajaran dari siswaku. Nauval masih kecil, mudah memaafkan orang lain. Dan berwudu saat marah. Engkau ketuk hatiku, Nauval, gumamku.

*)
Numani, SPd.SD lahir tanggal 17 September 1971 di Jakarta. Sejak honor tahun1995 hingga sekarang mengajar di SDN Kaliabang Tengah 1. Mulai belajar menulis ketika bergabung di Komunitas Pegiat Literasi Jawa Barat yang diketuai bapak IDRIS Apandi tahun 2016. Sudah menerbitkan 7 buku antologi bersama anggota KPLJ Jawabarat dan KPLJ kota Bekasi. Motto hidupnya adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Penyunting: Saiful Amri, M.Pd.






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kau Ketuk Hatiku, Nouval"

Post a Comment