Kebenaran dan Keridaan


oleh Sofiaturrohmah, M.Pd.*)


       Sejujurnya aku bukanlah seorang penulis, tulisan ini hanya untuk memenuhi sebuah janji kepada beberapa teman tentang curahan hati yang mungkin dapat mewakili perasaan yang sama namun tidak terungkapkan. Aku juga bukan seorang yang alim dan faham tentang ilmu pengetahuan agama atau apapun. Aku hanya mencoba untuk mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dan memahami serta merasakan tentang kebenaran dan keridaan. Aku tidak pernah mengerti apakah kebenaran dan keridaan itu?
       Jika kita membaca di kamus, kebenaran itu adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan, tepat, akurat dan jujur. Dan jika menurut Agama (Islam), kebenaran itu adalah sesuatu yang hak dan datangnya dari Allah (Al haqqu min Rabbikum) yang menjadikan Alquran dan Hadis (shahih) sebagai acuan. Namun dalam kenyataan seringkali kita sulit untuk menemukan jawaban suatu kebenaran atas berbagai permasalahan yang dihadapi, karena kata orang, hidup bukanlah hitam atau putih melainkan di antaranya.
       Contohnya ketika teman curhat kepadaku tentang suatu masalah yang dihadapi, ia adalah seorang wanita muda yang masih studi tapi sudah berumah tangga. Ia menghadapi dilema antara suami, orang tua, mertua dan masyarakat di tempat tinggalnya. Kebenaran menurut suaminya adalah seorang istri harus taat dan patuh kepada suaminya, karena ia sudah menjadi tanggung jawab suaminya meskipun ada beberapa hal yang tidak berkenan di hati orang tua/ mertua tapi selama tidak melanggar syariat agama, maka menurutnya demikianlah yang benar. Kebenaran menurut orang tuanya adalah sepatutnya seorang anak taat dan berbakti kepada orang tuanya yang telah melahirkan, merawat dan mendidiknya semenjak kecil hingga dewasa. Kebenaran menurut masyarakat, bagaimana ia seharusnya bersikap, bertutur kata dan berperilaku di tengah masyarakat sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku di lingkungannya. Permasalahan yang ada, bagaimana jika pendapat mereka tentang kebenaran, yang mereka yakini, saling bertentangan dan tidak harmonis sehingga menjadi dilema bagi wanita muda tersebut? Karena tak bisa dipungkiri, terkadang, sesuatu yang sebetulnya bukan sebuah kebenaran, jika sudah menjadi kebiasaan maka menjadi hal yang wajar sehingga dicari suatu pembenaran untuk apa yang dilakukan.
       Misal di beberapa daerah adalah hal yang biasa jika seorang anak perempuan menikah, maka selayaknya ia tinggal di rumah orang tuanya, atau di rumah mertuanya (seperti di India). Contoh lain yang berkaitan dengan pembenaran yaitu ketika UU atau PP atau perda yang dibuat untuk melegitimasi sebuah proyek, atau bisa juga kebenaran legenda si Pitung atau Robinhood yang menjadi pahlawan karena membela yang lemah, menyantuni fakir miskin dengan mengambil harta secara paksa dari orang-orang kaya (Apakah tidak jujur adalah benar?), atau harta hasil korupsi yang diberikan untuk membangun rumah ibadah dan menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim piatu (Apakah ini adalah kebenaran?) Atau kebenaran menurut hakim dan jaksa atau pembela terpidana yang berpegang pada dasar bukti dan fakta kenyataan yang ada serta dikuatkan dengan pembenaran menurut UU buatan manusia yang berlaku, walaupun itu bertentangan dengan agama.
       Untuk menyampaikan kebenaran bukan hal yang mudah jika tidak sejalan dengan nilai-nilai atau keyakinan yang berlaku sebelumnya. Kita bisa berkaca pada perjuangan para nabi dan rasul  yang menyampaikan kebenaran, juga kisah seorang ilmuwan yang dipaksa untuk minum racun karena ia menyampaikan kebenaran bahwa bumi itu bulat yang bertentangan  dengan keadaan ketika itu yang meyakini bahwa bumi itu datar.
       Namun karena menurut masyarakat yang demikian adalah kebenaran, maka alasan apapun akan dicari untuk sebuah pembenaran. Dan untuk semangat perbaikan, dalam agama dianjurkan untuk menyampaikan kebenaran walau satu ayat. Tapi sejujurnya, yang membuat aku lebih tidak mengerti adalah kebenaran dalam agama yang selalu dikaitkan dengan keridaan, keikhlasan dan kesabaran.
       Banyak sekali permasalahan kehidupan yang jika mengacu pada Alquran dan hadis, maka jawabannya bukan sebuah kebenaran tapi kerelaan atau keridaan untuk menerima segala ketentuan  Rabbnya. Karena dibalik ketentuan Rabbnya ada hikmah yang mungkin tidak disadari megandung kemaslahatan bagi hamba-Nya. Keridaan yang menciptakan ketenangan hati yang sejuk dan ketegaran dalam menghadapi permasalahan yang ada. Dan ketika seorang hamba rida dan rela terhadap semua keadaan yang menimpanya, dan mempertahankan kualitas ridanya, maka Allah akan meridainya ketika ia meminta keridaan-Nya. Dengan keridaan untuk menerima, menyerahkan diri, tunduk akan qadha dan qadar-Nya, menjadiakn ia seorang yang sabar dan ikhlas, keikhlasan yang tidak menyediakan ruang untuk ungkapan ikhlas, keikhlasan yang diam dengan segala aktivitas hanya ditujukan semata-mata kepada-Nya.
       Sungguh hal ini tidak semudah membalik telapak tangan. Ibarat seorang ibu yang merelakan bayinya untuk diimunisasi, ibarat menelan pil yang besar dan pahit, ibarat meminum jamu yang getir, semua harus dilakukan demi kebenaran. Kebenaran yang membutuhkan kebersihan, kejujuran dan kemuliaan hati yang akan mengantarkan manusia untuk jujur dalam niat, ucapan dan tindakan karena keyakinan pada ajaran agama yang diterapkan dalam kehidupannya.
       Demikianlah yang akan membawa kebenaran. Karena sesungguhnya kebenaran itu dapat menunjukkan pada kebajikan, dan kebajikan dapat menunjukkan pada syurga. Silakan seseorang berlaku benar sampai ia ditentukan sebagai seorang yang benar di sisi Allah. Dan sesungguhnya dusta itu dapat menuntun pada kejahatan, dan kejahatan dapat menjerumuskan ke neraka. Silakan seseorang berdusta, sampai ia ditentukan sebagai pendusta di sisi Allah (HR.Muslim).  Dan aku bersegera kepada-Mu, Yaa Rabbku, agar Engkau rida (kepadaku) QS. Thahaa: 84. Sesungguhnya Allah Mahatahu yang sebenarnya, dan kepada-Nya tempat kembali.
       Note: Aku adalah manusia tempat salah dan hina, tulisan ini hanyalah curahan hatiku untuk mencari kebenaran dan keridaan serta keikhlasan yang ingin kutemukan. Karena semakin aku mencari, semakin aku tidak memahami. Namun apapun, aku berusaha untuk selalu bersyukur atas setiap nikmat yang telah Allah karuniakan dalam hidup ini. Alhamdulillahi binimati tatimushsholihaat.

Referensi:
Ringkasan Ihya Ulumuddin : Imam Ghazali
Laa Tahzan : DR. Aidh Al Qarni

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kebenaran dan Keridaan"

Post a Comment