Kursi Roda untuk Annisa

Oleh Siti Rohayati,

       Annisa bersyukur memiliki kedua orang tua yang menyayanginya. Begitu juga ia terhadap kedua orangtuanya. Ia terlahir prematur. Ia memiliki kelainan jantung dan kaki yang kurang sempurna. Dokter memvonis tidak akan berumur panjang. Hal itu membuat sedih kedua orang tua.
        Doa dipanjatkan siang dan malam. Annisa bertahan hidup hingga saat ini. Semua itu karena Allah SWT. Annisa memasuki usia sekolah. Berdasarkan kondisi fisiknya, Bunda bingung untuk menentukan di sekolah umum atau SLB.
       Bunda bersyukur, Annisa diterima di sekolah umum yang jaraknya tidak terlalu jauh.       Setiap hari Bunda mengantar Annisa sekolah. Setelah bel masuk dan bertemu guru, Bunda pulang. Saat pulang, Bunda juga menjemputnya. 
       Annisa tumbuh menjadi anak yang periang. Dia  tidak  malu  bermain  bersama  teman-temannya. Ia mempunyai semangat belajar yang tinggi. Guru di sekolah pun sangat memperhatikannya. 
       Prestasi Annisa pun cukup bagus. Pantang menyerah adalah kata yang tepat untuknya.  Kekurangan fisik bukanlah halangan untuk seseorang berprestasi. Tidak terasa waktu berlalu.  Kini Ia sudah di kelas lima SD. Tentu kegiatannya semakin banyak. Bunda bersyukur karena di kelas lima, Ia mendapati wali kelas yang sangat sabar. Pernah suatu hari Bunda membicarakan tentang wali kelasnya.. 
       Nisa, wali kelasmu sepertinya galak, ya? tanya Bunda.
       Tidak, kok, Bunda.”
       Kamu, nyaman, Nis?
       Nyaman, Bun. Bu guru itu galak jika anak-anak nakal dan malas belajar.                       Menurut Nisa itu wajar. Bu guru itu tegas, memiliki suara yang keras dan wibawa                       yang luar biasa. Walau begitu Bu guru orangnya lucu dan pandai bercerita.”
       Syukurlah, Bunda senang mendengarnya.”
       Benar kata Annisa bahwa wali kelasnya itu sangat perhatian dan peduli pada kekurangan fisik Annisa. Bu guru juga berusaha mengajak anak-anak untuk saling menghormati, menghargai, dan menyayangi antar teman tanpa harus membeda-bedakannya. 
       Sejauh ini, Annisa bisa belajar dengan nyaman di SD. Walau sesekali Bunda merasa sedih, karena kondisinya. Justru Ia yang selalu mengingatkan dan menguatkan Bunda agar tetap tegar. Sampai sekarang, Ia masih diantar Bunda ke sekolah. Setelah sampai di  sekolah, Ia digendong oleh Bunda untuk sampai ke dalam kelas dan duduk di bangku..Cukup melelahkan, namun senyum dan keceriaannya membuat hati Bunda tenang dan rasa lelah itu hilang. Akhirnya Bunda pun mulai terbiasa dengan semua ini. 
       Suatu hari Annisa ditanya oleh gurunya, Apakah kamu mau ikut kegiatan bersama teman di luar kelas?
      Mau. Tapi Nisa kan tidak pakai kursi roda. Terus bagaimana caranya, Bu?”
      Ibu guru menyediakan bangku di halaman, kemudian Annisa digendong oleh ibu guru sampai ke bangku itu. Ia senang bisa ikut kegiatan di halaman sekolah seperti teman-teman lainnya. Usai kegiatan Ia pun digendong kembali masuk kelas. 
       Bu Guru berkata, Doakan Bu Guru, ya, agar bisa mewujudkan kamu bisa turut belajar di luar kelas, tanpa harus digendong.”
      Annisa bertanya,Bagaimana caranya Bu Guru?”
      ”Nanti Bu guru akan kasih kamu kejutan. Yang terpenting sekarang, kamu tetap semangat   belajarnya, ya!
       Baik, Bu,  jawab Annisa.     
       Ternyata Bu Guru hendak mengupayakan kursi roda. Bu Guru mengirim tulisan ke media sosial tentang keinginannya menghadiahkan kursi roda untuk siswanya. Ternyata  gayung bersambut. Ada beberapa orang di luar sana yang tergerak hatinya ingin turut membantu mewujudkan keinginan sang guru. 
       Setelah dibuat kesepakatan, akhirnya ada beberapa donatur yang turut membantu pengadaan kursi roda tersebut. Setelah satu minggu, dari sebuah toko online tiba-tiba memberi kabar, kalau kursi roda siap dikirim. 
       Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Seperti biasa, bel tanda masuk pun berdering. Bu guru sudah bersiap di luar kelas, mendampingi anak-anak berbaris sebelum masuk kelas. Begitu anak-anak sudah masuk kelas dan sudah berdoa. Tiba-tiba pintu kelas diketuk tanda ada tamu. Ketika pintu dibuka, ternyata kursi roda untuk Annisa sudah tiba. Anak-anak semua tepuk tangan. Semua mengucap syukur. 
       Hore  ,   Annisa   sekarang   bisa   bergerak   bebas   karena   ada   kursi   roda, “ Ucap   teman-temannya. 
       Annisa pun nampak tersenyum. Lalu Ia dipindahkan ke kursi roda. Dengan bimbingan guru, Ia mencoba menggunakan kursi roda hingga bergerak maju mundur. Anak-anak tepuk tangan tanda senang dan memberi dukungan serta semangat padanya. Sebagai guru kelasnya, Bu Aisyah sangat senang melihat siswanya bisa beraktivitas seperti teman-teman lainnya. Diharapkan pemberian kursi roda ini akan menambah semangat dan memotivasi belajarnya. Hari itu kebetulan ada kegiatan membaca buku cerita bersama di halaman sekolah. Ia pun keluar halaman dengan menggunakan kursi roda. Terlihat rona kebahagiaan dari wajahnya  terpancar. Bu Aisyah pun turut merasakan apa yang dirasakan Annisa. 
       Seluruh anak-anak berbaris tertib per kelas. Kegiatan diawali dengan nyanyi bersama tentang membaca. Annisa mendapat giliran presentasi atas buku cerita yang sudah dibacanya. Annisa terlihat lancar dan penuh percaya diri saat presentasi. Bahkan ada seorang temannya membaca puisi yang dipersembahkan untuk Annisa, dengan judul Kursi Roda untuk Annisa.  
       Tuna daksa juga punya semangat dalam segala hal. Termasuk belajar dengan segala kegiatannya. Mari kita wujudkan impian dan cita-citanya. Agar kelak menjadi insan yang mandiri dan bertanggung jawab.

Penulis: 
Siti Rohayati, S.Pd.SD (Guru SDN Sumber Jaya 04, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi).
Penyunting: Saiful Amri, M.Pd. (Pegiat Literasi Kab Kuningan).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kursi Roda untuk Annisa"

Post a Comment