MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN SISWA-SISWANYA


oleh Isnaini Nasuka Rahamawati*)

       Bangsa Indonesia sedang menghadapi salah satu masalah besar. Di antara sekian masalah pelik bangsa yang sering diperbincangkan adalah tentang rendahnya mutu pendidikan. Ini tercermin dari hasil ujian nasional khususnya bagi peserta didik di Sekolah Menengah Atas. Kualitas guru yang semakin ditingkatkan mutunya oleh pemerintah melalui berbagai program pelatihan atau workshop seperti revitalisasi kegiatan tingkat kabupaten sampai TOT per mata pelajaran di tingkat propinsi. Pelatihan diharapakn dapat membantu meningkatkan mutu lulusan dari SD sampai SMA. Pelatihan tersebut tanpa mengabaikan komponen lain seperti peserta didik, kurikulum/program pendidikan, sarana prasarana dan manajemen sekolah. Semuanya diupayakan oleh pemerintah dalam peningkatan kualitas pendidikan. Alokasi dana pendidikan sebesar 20% dari APBN. Tindak lanjut dari peningkatan kualitas pendidikan, pemerinta melakukan perubahan kurikulum sekolah agar mutu lulusan sesuai dengan kebutuhan pasar, mengalokasikan dana sertifikasi bagi guru yang sudah memenuhi syarat. Sertifikasi sebagai bentuk penghargaan profesionalisme guru pengajar dan tak kalah pentingnya juga diadakannya program pemilihan guru berprestasi. Hal ini supaya guru juga termotivasi untuk selalu maju meraih hasil terbaik dalam mendidik siswa-siswinya. Pada saatnya mengantarkan mereka ke jenjang pendidikan tinggi. Pada akhirnya diharapkan bertambahnya jumlah yang terpilih dalam seleksi undangan (SNMPTN) dan PMDK bagi siswa-siswi SMA/SMK/MA.
       Wujud perhatian dari pemerintah atas prestasi dan dedikasi guru dalam melaksanakan tugasnya mewujudkan pendidikan yang berkualitas, maju dan mumpuni, adalah salah satu tujuan pemerintah dalam mengalokasikan dana pendidikan untuk menyejahterakan guru.  Menambah tunjangan kinerja guru menuntut totalitas guru di sekolah harus full day. Selain bertujuan meningkatkan profesionalisme guru, tunjangan kinerja guru juga memajukan mutu pendidikan di negara kita.
       Selintas pernah melihat video di media sosial facebook bagaimana seorang guru di Turki yang sudah purna mengajar sedang mengadakan perjalanan menggunakan pesawat terbang, karena pilot menyadari ada salah satu penumpangnya adalah guru yang pernah menghantarkannya sampai dia pada posisi sekarang, maka sang pilot menugaskan awak pesawatnya untuk memberikan hand bouquet dan salam takzim kepada guru tersebut. Juga berita viral beberapa tahun lalu tentang bagaimana seorang yang dulunya menjadi siswa kemudina di karirnya yang sukses, dia memberangkatkan seluruh guru-gurunya ketika bersekolah di SMP untuk berwisata ke Singapore. Contoh di atas hanya sekelumit tentang keberhasilan seorang murid yang merupakan kebanggaan gurunya.
       Selain hal-hal tadi yang sudah banyak dibaca dan dikenal oleh umum, yang paling memotivasi saya untuk menulis artikel Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa-Siswanya, adalah kenyataan semakin meningkatnya sarana pendidikan khususnya yang sudah terwujud di beberapa sekolah, begitu juga dengan yang ada di sekolah tempat penulis mengajar. Saya juga mempunyai tujuan menyambut niat baik pemerintah yang telah mendukung kesejahteraan guru-guru bersertifikasi. Namun demikian dengan keadaan tadi belum begitu berarti bertambah meningkat secara signifikan terhadap kualitas pendidikan di daerah kabupaten tempat penulis mengajar, sehingga tetap pada penyadaran masih banyak kekurangan penulis, baik dalam kehidupan pribadi bermasyarakat dan sebagai guru jika diukur dari keempat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.
       Sadar akan kekurangan-kekurangan diri, sebelumnya penulis bertanya kepada teman-teman pengajar lain, apakah ada di antara anak-anak didiknya yang menyatakan kangen diajar jika kita sudah tidak lagi mengajar mereka karena pergantian tahun pelajaran dan lain sebagainya? Pada akhirnya jawaban mereka memang sangat membantu pemahaman diri penulis, bahwa ada poin-poin tertentu pada cara mengajar kita sehingga kita menjadi guru yang dirindukan siswa-siswa kita. Karena di antara jawaban mereka adalah salah satunya tentang pengalaman mengajar yang sudah puluhan tahun, terlepas dari sarana media pembelajaran yang digunakan selama proses belajar dan mengajar. Mengalami dan merasakan bagaimana mengajar dengan fasilitas seadanya dari tahun ke tahun, sering membuat kita bermimpi dan betul-betul ingin mewujudkan mimpi itu dengan membeli sendiri perlengkapan media mengajar seperti membeli laptop setelah mendapatkan sertifikasi dan mulai juga berpatungan membeli infocus, seiring kebutuhan tambahan pengetahuan dan pemahaman teknologi informasi. Bukan dengan sengaja kita bisa menjadi guru yang dirindukan siswa-siswa kita, dengan tambahan pengamatan teman-teman pengajar pada kegiatan kita yang dinillai selalu penuh semangat dalam menjalankan tugas mengajar meskipun jarak tempuh rumah dengan sekolah puluhan kilometer yang rata-rata  ditempuh dengan kendaraan roda dua, tanpa pernah terlambat. Dalam menjalankan tugas, selalu tertanamkan disiplin dalam diri dan budaya malu jika datang terlambat, sehingga siswa-siswa tidak lama menunggu di jam pertama. Jika berhalangan hadir pun, alangkah eloknya di hari besoknya meminta maaf kepada siswa-siswa dan mereka akan menyatakan kehilangan karena mereka antusias mengikuti pelajaran yang mereka anggap sebelumnya pelajaran yang membosankan.
       Siswa-siswa menganggap cara menyampaikan materi mata pelajaran yang kita ampu membuat mereka termotivasi ingin lebih bisa mendalami mata pelajaran tersebut. Hal ini terbukti mereka mencari kita di kantor di sela-sela jam istirahat kita, hanya karena ingin menanyakan lebih jelas materi di kelas tadi, atau sekedar memantapkan jawaban mereka atas tugas yang kita berikan. Mereka juga menemui kita dengan menggunakan bahasa Inggris di keseharian mereka atau bahkan beberapa yang mantap menetukan pilihan ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi dengan memilih bidang pendidikan/non pendidikan dengan mapel yang mereka minati karena sangat terinspirasi oleh guru yang dirindukan tadi.
       Akhirnya penulis makin memantapkan pemahaman awal bahwa beberapa poin selain dalam cara mengajar kita adalah juga how to transform knowledge to our students’ brain / bagaimana menjelmakan pengetahuan ke benak siswa kita, seperti yang dikutip dalam salah satu artikel dari Academia.edu “Teacher identity influences the ways in which teachers “construct their own ideas of ‘how to be,’ ‘how to act,’ and ‘how to understand’ their work and their place in society” (Sachs, 2005, p. 15). Kekhasan guru mempengaruhi caranya dalam membentuk ide-ide bagaimana menjadi, bagaimana bertindak, dan bagaimana memahami pekerjaannya di masyarakat. Bagaimana ilmu yang sudah kita sampaikan itu kena dan singgah lebih lama di benak siswa-siswa kita, jadi mereka akan mengingat kita bahkan hingga mereka sudah sukses di kehidupan mereka. sampai pada kesimpulan bahwa apabila kita bekerja memnyampaikan ilmu mata pelajaran kita dengan menggunakan HATI dan JIWA yang mengedepankan kepentingan anak-anak didik kita. Kita juga harus memiliki totalitas dalam penyampaian materi dengan metode dan strategi pembelajaran yang tepat sesuai tema, merangkul dan mendekati, menanyai siswa yang terdiam karena belum memahami pelajaran di hari itu, serta  ikhlas menegur dan membimbing mereka demi anak-anak didik berperilaku yang sesuai amanat Undang-Undang Sisdiknas th 2003 tentang anak-anak didik yang berkarakter. Hal ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.  Maka kita pun sebagai pendidik akan menjadi guru-guru yang dirindukan oleh siswa-siswa kita ketika kita masih mengajar ataupun sudah berganti tahun pelajaran.

*) Isnaini Nasuka Rahmawati, M.Pd. adalah seorang guru SMAN di Serang, Banten.

Penyunting:  Saiful Amri, M.Pd.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN SISWA-SISWANYA"

Post a Comment