PUISI-PUISI KUSYOTO

Tempat Cuci Mobil, Mobil, Warna Biru

Balada Tukang Cuci

Kusyoto

Daun-daun kering luruh mencumbui tanah basah, 
sebagian jatuh bergulir di antara gelombang rambut ikalnya, 
lentik jemari menari bersama serpihan sabun cuci yang meruar ke langit hayalan, 
tak peduli berapa kali tunggangan manusia silih berganti digelutinya tiada niat sedikit pun untuk menguasai ranahnya 
duhai sang tukang cuci ketulusan hatimu sunguh hakiki rupa warna tungangan manusia kau cumbui tak terdetik sedikit pun untuk dimangsa sendiri.

Bayangan Hitam, Ibu Jari, Turun, Longgar

Sang Pecundang

Kusyoto

Senyummu itu palsu. 
berlaku bagi kaum kalian, 
dalam bayang gelap menelisik lintah darat menghisap, 
carut marut lalu pergi tanpa bekas hanya berlaku bagi golongan kalian sedang kami hanya menjadi umpan, 
kalimatmu itu busuk menggemburkan tanah kemudian menginjaknya tanpa arah,  
kalian padamkan gejolak jiwa yang mengembara membenamkan tunas unggul sambil meremas hingga hancur luluh lantak tanpa bercak, 
pecundang tetaplah pecundang di mana pun bumi dipijaknya akan hancur luluh dilumat ucapannya.

Dahaga Empati

Kusyoto

Tangan bebas sejatinya terbelenggu, 
demi menguatkan kepalanmu kau tega membutakan mata batin memalingkan wajah menutup kuping, demi takhta semu yang tanpa sadar menggerogoti nalar, 
berjalan dalam bayang dengan arah yang kini tidak bisa dikuasai sebagai jati diri sengaja butakan hati tepis rasa empati hapus rasa empati hapus rasa kasih dibalur aspal debu jalanan, 
lumut tebal menoreh jelaga hitam pekat membuat sekarat dengan apa yang disekat-sekat.



Ini Tentang Rasa
Kusyoto

Adrenalin membuncah ruah, 
menyengat sangat geletar rasa mengalir deras seperti poison yang disemburkan dari buntut kalajengking
api semeru meluap melahap genangan darah kotor itu sampai lumat sangat geletar rasa itu sampai ke ubun-ubun menghentak luncuran lava dalam sekam jelaga hitam
kulumat dengan diam
kuhancurkan dalam hening
lebur hanyut hilang kemudian semuanya kembali ke awal.

Diam Itu
Kusyoto

Kemana kalimat itu kau sampaikan. 
bisu tuli buta lumpuh dialektikamu gubris mengikis tanda yang tak pernah manis, 
telan saja suara sia-sia itu dalam jurang, 
buang saja bibir tipis itu dalam lumpur lalu lebur bersama titik embun yang jarang menyapa dalam tutur,  
diam itu racun pelan tapi pasti menycengkeram tabir-tabir penghalang zikir.











Tentang penulis
K U S Y O T O, lahir di Indramayu 02 Juli 1977 silam, anak sulung dari dua bersaudara ini mulai menulis sejak SMA, sangat terinspirsi dengan ayahnya yang notaben sebagai sutradara sebuah sandiwara keliling atau Massres yang menjamur pada masa itu, dari sanalah jiwa jurnalnya menulis bergenre kisah fiksi Sejarah berlatar Kerajaan membuncah dalam dadanya.
Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu, Komite Sastra.
ALAMAT PENULIS
Rumah Sakit. MM. Indramayu
Jl. Let.Jen, Soeprapto no. 292 Kepandean Indramayu
NO.HP: 081380790380//081320118558
Akun Facebook: Kusyoto, kyt
Email: kkusyoto@gmail.com
No. Rek: 4239.01.007726.539  BRI. Unit Tugu. An. KUSYOTO







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PUISI-PUISI KUSYOTO"

Post a Comment