Rumah dan Perjuangan (Nasehat untuk anak-anakku)


An elevated view of a girl's hand drawing the family and house with colored pencil on drawing paper Free Photo

oleh Ummi Mujahidah

Rumah kita, nak, kami canangkan sebagai rumah perjuangan. Memperjuangkan segala kebaikan dalam melawan segala keburukan. Dan itu bisa apa saja, luas sekali. Seluas masalah hidup yang akan kita hadapi.

Maka ketika engkau menetapkan rencana, tentukanlah,  kebaikan apa yang tengah kau perjuangkan? Keburukan apa yang tengah kau hindari atau perangi? Sebab Allah mengilhamkan jalan hidup itu cuma dua, jalan kebaikankah? Atau jalan keburukan? Allah SWT berfirman:
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا 
"maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams 91: Ayat 8). Dan jalan yang akan kau tempuh itu, bertolak dari rumah.

Maka jangan heran ,nak, bila di rumah kita, semua aktifitas ditakar dengan pertanyaan itu. Karena rumah kita adalah rumah perjuangan. Yang di dalamnya berisi manusia-manusia pejuang.

Kau tahu, nak, jalan pejuang kebaikan itu berujung di surga. Dan jalan menuju surga, terjal dan berliku, mendaki lagi sukar. Untuk itulah, perlu jiwa pejuang untuk dapat mencapainya. Dan itu semua, sekali lagi kukatakan, berawal dari rumah.

Untuk jadi pejuang tangguh, perlu latihan dan tempaan yang kuat. Tengoklah seorang atlet yang akan bertanding dan dicanangkan untuk jadi pemenang. Dia akan melalui latihan yang ketat dan berat. Kalau perlu nge_camp_ . Makan, istirahat, dan semua aktifitas benar-benar diperhitungkan.  Bahkan kalau bisa, pikiran pun hanya boleh terpusat pada pertandingan saja.

Begitu pun kita. Taruhannya adalah surga, maka latihannya tak main-main. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, semua harus _on the rule_. Prototipe tokohnya adalah Muhammad sang Rasul. Seberapa miripkah jalan yang kita tempuh dengan beliau?

Tugasku adalah memastikan kau dan saudara-saudaramu telah merekam jejak Sang Rasul dan mengawal aplikasinya  dalam setiap aktifitasmu. Karena Allah, Tuhan kita telah mengingatkan "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...." Maka latihan itu bukan saja untukmu, tapi untuk kami juga.

Mari, nak, kita bersama-sama berjalan pada jalan-Nya. Berdampingan, berpegangan tangan yang erat, jangan sampai terlepas.  Bila salah satu diantara kita lengah, mari saling ingatkan. Semua harus terus terjaga, dalam modus siaga penuh. Dalam naungan cahaya Illahi, kita buka panduan Quran dan kita tapaki jejak Sang Rasul, setapak demi setapak. Tak mengapa jalan kita lamban, asal tetap dalam track yang disediakan.

Embusan bisikan setan, meniup dari berbagai arah. Tarikan tangan-tangan setan menggapai dengan berbagai cara. Fokus, nak. Jangan terpedaya. Yang indah di kiri kanan, hanya halusinasi, jebakan setan laknatulloh. Bagaikan _black hole_, sekali terjebak, berat untuk bisa kembali.

Jalan kita jalan yang lurus. Meski mendaki dan sukar, tak ada pilihan lain. Kita jalani dengan tabah, ikhlas, sabar dan tawakal. Bersama dalam keluarga, insya Allah kita kuat. Jangan cengeng dan jangan lemah. Kita adalah pejuang. Yang kita perjuangkan adalah kebaikan di setiap sisi kehidupan.

Sementara atmosfir di sekeliling kita, mulai sarat dengan racun. Kita tak bebas lagi melangkah. Keburukan begitu kental di setiap sudut. Kebobrokan merekah di setiap lapisan masyarakat.  Kehancuran merebak di setiap bangunan jiwa. Rintihan dan keluhan begitu akrab berbaur dengan gelegar tawa pongah para pengikut setan.

Kita harus siaga. Nyalakan terus cahaya Illahi di hati kita. Teriakan terus kalam Illahi dalam setiap langkah kita. Kita cari keluarga-keluarga lain yang berada pada jalan yang sama. Kita jalin kerja sama, saling dukung, saling dorong, saling ingatkan, saling doakan. Itu yang dicontohkan Sang Rasul. Kita kuak tabir penghalang, agar jelas batas jalan benar dan salah. Kita atur langkah, kita rapikan barisan, kencangkan ikatan.

Ah, harus ada dalam satu komando, nak. Di rumah, komandannya adalah ayahmu. Maka, maafkanlah jika adakalanya kau ditarik mundur, bila jalanmu tak tepat. Meski kau yakin itu benar. Kebenaran bukan apa yang nampak di mata, atau dirasa di hati. Kebenaran adalah apa yang seharusnya menurut Allah, menurut kitabullah, menurut jejak Sang Rasul.

Barangkali, kau salah membaca jejak. Atau kurang tepat membaca petunjuk. Dan itu sangat mungkin, mengingat pesaing kita begitu ingin kita kalah. Mereka akan membuat pengecoh dengan menghalalkan segala cara. Maka, dengarkan komando ayahmu, nak. Selama jelas dan sesuai petunjuk Quran dan jejak Sang Rasul, jangan ragu, kita ikuti ayahmu, Sang Komandan di rumah kita.
Namun, bila satu saat kau melihat ada yang kurang tepat pada perintah ayahmu, katakanlah. Sebab ayahmu bukan malaikat yang selalu benar. Itu sebabnya di rumah kita, ada waktu-waktu khusus untuk bermusyawarah. Sekecil apapun langkah yang kita jalani, harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Maka semua langkah, harus terpastikan benar niatnya, benar prosesnya, benar tujuannya.
Mari, nak, kita perkokoh rumah perjuangan kita. Terus menerus, dalam segala hal, tanpa kecuali. Batasnya adalah kematian. Jadi, selama kita bernapas, selama itu pula kita akan terus berjuang. Memperjuangkan kebaikan dalam segala hal dengan segenap kemampuan kita. Semoga kita semua senantiasa ada dalam bimbingan dan rida-Nya. Aamiin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rumah dan Perjuangan (Nasehat untuk anak-anakku)"

Post a Comment