SURAT DARI BUNDA (Saat anakku menyiapkan kurbannya sendiri)


oleh : Ummi Mujahidah



Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...!
Semoga kita semua senantiasa ada dalam rahmat, barakah dan magfirah-Nya.

Ananda sayang, saat surat ini dibuat, engkau tengah terlelap dengan menyungging senyum. Meski masih tersisa kelelahan, tetapi ekspresi ikhlas, lega, bangga dan bahagia, jelas memancar di wajahmu. Sementara bunda melewatkan sisa malam dengan perenungan panjang.

Iduladha sekarang adalah iduladha terhebat sepanjang hidup bunda.
Menggunung rasa syukur bunda atas karunia yang tak terhingga ini. Telah hadir jiwa Ismail dalam ragamu, anakku. Dan karenanya sempat menggenangkan air di pelupuk mata bunda.

Anakku, tak kan hilang dari ingatan bunda ... saat engkau datang ke kamar bunda. Antara harap, cemas, bangga, dan ragu, kau sodorkan amplop tebal seraya berkata,” Bunda, aku mau berkurban! Kutitipkan uang ini untuk kurbanku…!”

Subhanallah … tak salah dengarkah bunda? Saat itu bunda terima uangmu dengan hati masygul. Tak tahan untuk tidak memelukmu.
“Anakku terkasih, telah menjelma Ismail yang siap mengorbankan dirinya demi mengharap rida-Nya.”
Bunda tahu, uang ini terkumpul tidak mudah. Hasil perangmu dengan setan yang senantiasa meniupkan nafsu setiap saat ..., di setiap tempat ..., setiap lengah ..., pada setiap langkah ...! Di usia belasanmu, food, fun, fashion, accessories dan gadget melambai setiap saat dengan trend terbaru, untuk menjadi berhala yang harus diikuti. Dan kau mengalahkannya, anakku. Kau sembelih nafsumu, satu demi satu.

“Terima kasih, Anakku sayang.” Entah kata apa lagi yang pantas bunda ucapkan saat itu.

Ingatkah kau, anakku, bunda sering berkata, ”Maafkan Bunda belum bisa menjadi seperti Siti Hajar yang bisa mengantarkan Ismail menjadi anak yang taat dan sabar!”

Itu bunda ucapkan kalau melihatmu lalai dalam melaksanakan perintah Allah. Biasanya kau akan menunduk penuh sesal. Tetapi lagi …, lagi ..., dan lagi kau ulangi. Sampai bunda berkisah tentang kehebatan akidah keluarga Ibrahim.

Bunda yakin, engkau masih ingat, ketika kau bersembunyi di balik meja menahan tangis haru. Saat itu bunda bercerita betapa hebatnya keluarga Ibrahim. Sang Nabi yang berpuluh tahun memohon diberi keturunan, akhirnya mendapatkannya dari Bunda Siti Hajar. Tetapi kemudian Allah mengujinya dengan memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan anak terkasih di lembah Bakkah. Inilah pengorbanan Ibrahim. Meninggalkan orang-orang terkasih di tempat yang sunyi, sepi, tandus, tanpa makhluk apapun ... hanya berdua dengan ibunya, Siti Hajar.

Anakku, engkau akan memegang erat tangan bunda, ketika suara bunda bergetar menahan haru di episode Ismail hampir pingsan kehausan. Bunda Siti Hajarpun berlari-lari kecil antara dua bukit, Shafa dan Marwah. Padahal saat itu, beliau juga sama kehausan. Tetapi besarnya kasih sayang dan tanggung jawab terhadap anak terkasih, amanah Tuhannya, mampu mengalahkan segalanya. Dengan penuh roja dan khauf, antara harap dan cemas, Siti Hajar bolak balik antara bukit Shafa dan Marwah. Sampai kakinya tak bisa melangkah lagi …! Dan saat itu yang bisa dilakukan hanyalah doa, memohon pertolongan, hanya kepada Allah!

Dan pertolongan Allah amat dekat, di antara kaki Ismail muncullah mata air yang memancar. Bunda ingat kau akan tersenyum lega mendengar Ismail-mu bisa minum sepuasnya. Ternyata pengorbanan Ismail dan Siti Hajar berbuah manis, munculnya mata air yang melimpah dan tak pernah kering hingga kini. 

Saat engkau remaja, anakku ... kau masih suka duduk manis saat bunda berkisah di depan adik-adikmu. Bunda tahu, dibalik tubuh kekar remajamu, hatimu selembut Ibrahim. Hingga ketika Bunda berkisah tentang pengorbanan Ibrahim, selalu ada kemilau yang menetes di sudut matamu ….

Saat Ibrahim bermimpi, seolah-olah ada yang menyeru, ”Sesungguhnya Allah telah menyuruhmu untuk menyembelih Ismail!” Ibrahimpun terbangun dan menangis hingga waktu subuh tiba. Ada penolakan yang besar dalam hatinya, ingin mempertahankan putranya. Bersanding dengan ketaatan yang kuat untuk memenuhi perintah Tuhannya. Bisakah kau rasakan, anakku?

Lalu Sang Nabi datang setelah bertahun-tahun meninggalkan anaknya di lembah nan sunyi. Datang dengan kerinduan yang membuncah, disela ingatan untuk menunaikan perintah terberat, mengorbankan anak yang baru bisa dipeluknya kini. Dan inilah pengorbanan Ibrahim berikutnya.
“Dandanilah anakmu dengan pakaian yang paling bagus. Karena ia akan kuajak bertemu Tuhannya,” demikian titah Ibrahim pada Siti Hajar.

Duhai anakku, saat kukisahkan ini, bunda yang tercekat menahan haru, kulirik engkau …. Kubayangkan engkau yang kudandani, kuberi minyak wangi, kusisir rapi rambutmu, kuantar ke pintu untuk dibawa ayahmu, dan … hanya akan kembali nama!

Lalu, bagaimana Ibrahim mengabarkan berita ini kepada putranya? Tentu bukan hal yang mudah, kan? Anakku, tengoklah dialog Ibrahim dengan Ismail yang diabadikan dalam Al Quran.

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu? (QS Ash Shaffat:102).
Ia (Ismail) menjawab ,”Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insya Allah kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.“ (QS Ash Shafaat: 102).

Sungguh, jawaban yang melegakan, hingga Ibrahim bertahmid sebanyak-banyaknya. Andai Ismail menolak, Ibrahim akan kehabisan kata untuk menjelaskan. Karena sebenarnya hatinyapun berat.

Untuk melaksanakan tugas ayahnya, Ismail dengan tegar mengingatkan ayahnya untuk bersabar. Iapun berpesan kepada ayahnya.

“Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak dan merepotkanmu. Telungkupkan wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkan lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika bunda melihatnya akan turut berduka. Tajamkanlah golok dan goreskan segera di leherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada bunda agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan salamku kepadanya. Katakan pada bunda,”Wahai Bunda! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.”

Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah bunda sehingga semakin menambah duka, janganlah dipandang seksama hingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah,”sambung Ismail.

Ibrahim tak mampu berkata banyak, beliau berkata “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah adalah kau, wahai putraku tercinta.”
Setelah memenuhi pesan-pesan putranya, Ibrahim tak menunda lagi untuk menggoreskan golok tajamnya sekuat tenaga ke leher putranya, namun beliau tak mampu menggoresnya. Kembali ketegaran dan kesabaran Ismail terbukti, dia berkata, "Wahai ayahanda! Lepaskanlah tali pengikat tangan dan kakiku agar aku tidak dinilai terpaksa dalam melaksanakan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat mengetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalankan perintah semata-mata karena-Nya.”

Ibrahimpun melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya. Lalu beliau hadapkan wajah Ismail ke bumi dan langsung menggoreskan goloknya ke leher putranya sekuat tenaga. Lagi-lagi beliau tak mampu melakukannya, hingga Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata (bagimu). Dan kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.”(QS Ash Shafaat : 106).

Malaikat Jibril pun terkagum-kagum dengan mengagungkan asma Allah, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Ismail yang tersadar bahwa pengorbanannya telah diterima dan diganti seekor domba turut bertakbir, “Allahu Akbar walillahil Hamdu.” Kemudian bacaan-bacaan itu dibaca pada setiap hari raya Qurban.

Demikianlah anakku, lewat surat ini, bunda ingin berterima kasih atas keridaanmu untuk taat pada perintah Allah dengan menunaikan ibadah kurbanmu. Pengorbanan yang engkau lakukan, terhadap kesenangan-kesenangan yang menggoda telah berhasil kau tepiskan. Hingga rupiah demi rupiahmu tidak tercecer untuk hal yang sia-sia, namun terkumpul untuk menuai pahala.

Terima kasih anakku, seperti Ismail yang sangat memudahkan ayahnya, engkaupun begitu. Kau sembelih nafsumu dank au laksanakan ibadah kurbanmu sendiri. Hingga ayah dan bunda tak perlu bersusah payah mengajari adik-adikmu karena engkau telah memberi contoh nyata. Sungguh, ini adalah anugrah Allah yang tak terhingga.

Anakku, jangan berhenti beramal saleh, mendekatkan diri pada-Nya dengan segenap kemampuanmu. Karena hanya Dialah yang akan menyelamatkanmu kini, kelak, dan selamanya. Takarlah pikir, sikap dan langkahmu dengan kalimat, “Ridakah Allah jika aku berpikir, bersikap, bertindak begini…?” Tebaslah berhala-berhala yang akan merintangi langkahmu. Kalahkan setan yang menggoda setiap saat dengan banyak beramal saleh. Setiap kebaikan yang kau lakukan, pada hakekatnya sedang menghinakan dan mengalahkan setan. Jika engkau mengalahkan setan, maka engkau telah melangkah mendekati surga. Dan setiap engkau meninggalkan kebaikan - apalagi melakukan ketidakbaikkan, maka engkau tengah memanjakan setan hingga setan menang. Jika engkau turut serta membantu setan untuk menang, maka engkau tengah melangkah menjauhi surga.

Jalinlah silaturahmi dan berkumpullah dengan orang-orang saleh, bicarakan kebaikan-kebaikan dan ketakwaan, sebarkan dengan berbagai cara. Bersihkan dirimu dan hartamu dengan zakat, infak dan sedekah. Banyaklah berkarya, karena muslim yang baik itu yang paling banyak manfaatnya bagi lingkungan.

Demikian surat ini bunda akhiri dengan doa, semoga kita bisa saling mendukung untuk mengharap rida-Nya, seperti keluarga Ibrahim. Semoga kita bisa berkumpul kembali di surga-Nya yang sengaja disediakan untuk orang-orang terpilih. Semoga kita bisa memiliki dan memelihara jiwa-jiwa Ibrahim, Ismail, Siti Hajar, dan semua utusan-Nya di dalam dada kita. Dan mewujudkannya dalam karya nyata, segala bentuk ibadah dan amanah yang sampai pada kita.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Dari Bunda yang selalu sayang.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SURAT DARI BUNDA (Saat anakku menyiapkan kurbannya sendiri)"

Post a Comment