Tak Sepahit Si Pahit Lidah

oleh Kusyoto 

Swarnabhumi, awal abad  XXI


      Dari lamping bukit terjal Ngarai Sihanok sosok lelaki berpakaian hitam ini hentikan langkah, hembusan angin timur menyibak rambutnya yang gondrong sebahu seraut wajah tegas dengan sorot mata setajam sembilu pandang sekeliling ngarai, pandangan matanya membentur sebuah air terjun disebelah utara dan dengan sekali hentakan kaki sosok berpakaian hitam ini telah sampai sepuluh langkah di hadapan air terjun.
“Inyiek Sam Mato Ampat, harap unjukan diri awak…!”
Gema suara orang ini begitu dahsyat,  memecah gemuruh air terjun dan merontokan daun perdu yang bergayut di dinding tebing, sipapun dia sudah dipastikan memiliki tingkat tenaga inti sempurna dalam dirinya, hanya gemuruh air terjun dan kicauan unggas yang terdengar,  orang berpakaian hitam ini tampak gusar, sekali lagi dia berteriak lantang  hingga batu kerikil disekitarnya terangkat beberapa senti dan guyuran air terjun terhenti beberapa detik lalu kembali mengguyur bebatuan gunung dibawahnya. 
“Hahahahah, tenaga inti waang bukan gurauan anak kecik.”
Sebuah suara terdengar bergema di seantro ngarai Sihanok, disusul sekelebatan bayangan keluar dari dalam derasnya guyuran air terjun, sosok ini tampak jungkir balik diudara kejap berikutnya telah berdiri tiga langkah dihadapan orang berpakaian hitam.
“Inyiek,  ambo datang nak jemput Dirul anak ambo.”
“Hahah..tak usah gusar dia baik-baik sajo.”
“Apo sebenarnyo maksud inyiek culik Dirul anak ambo?”
“Bardat, si Pahit Lidah, sekian tahun menarik diri dari dunia pesilatan dan insaf setelah  ribuan orang tak berdosa karena kutuk dan sumpah serapah waang mereka menjadi batu, samsaro masa depannyo karena ucapan waang,  enak betul waang insaf bagitu sajo.”
“Lalu apo mau inyiek?”
“Asal waang tahu, salah satu korban waang adalah mamak ambo.”
“Jadi inyiek sengajo menculik Dirul,  untuk tujuan iko?”
“Tepat, hari ini lidah waang yang pahit akan ambo musnahkan.”
“Ambo tak mencari lantai tarjungkat, tapi tantangan inyiek pantang dibuat surut.”
Akhirnya, Duel kedua  pendekar ini begitu seru, jurus demi jurus berlalu dengan cepat hingga satu ketika sebuah bambu kuning entah datang dari mana dengan kecepatan sulit dihindari telak menancap dimulut Bardat, sosok lelaki ini terhuyung ke belakang  dan tercebur kedalam air terjun dengan tubuh menempel di dinding air terjun bersama  potongan bambu kuning masih tertancap dimulut Bardat dan. Berakhirlah riwayat Bardat si Pahit Lidah.

**

Ngarai Sihanok, Masa sekarang


      Rembang petang melingkupi wilayah lembah yang menghijau ini, kabut tipis perlahan meluncur dari lereng pegunungan Singgalang sebelah barat dan lereng Merapi dari sebelah timur. Tak jauh dari lamping bukit disebelah utara air terjun lima orang pemuda dengan cekatan mendirikan sebuah tenda, dan tak lama tenda itu berdiri dengan kokohnya.
“Pardede, mau kemana waang?”
“Aden nak mandi di air terjun, mau iko kah awak-awak ini?”
“Ah, kau sajolah dulu, aden nak buat api unggun.”
Pemuda berperawakan jangkung dengan alis tebal ini segera melangkahkan kakinya mendekati air terjun, dan tanpa membuka bajunya Pardede ceburkan dirinya kedalam sungai kecil berbatuan dibawah air terjun, entah berapa lama Pardede berenang di sungai berbatu sebesar kerbau ini, sudut matanya tiba-tiba melihat sesuatu menyembul diantara dinding air terjun, dengan penasaran Paedede dekati , setelah diamati ternyata sesuatu yang menyembul di dinding air terjun itu adalah seruas bambu kuning yang menancap dan anehnya dari ujung bambu itu mengalir deras air yang sangat jernih.
“Kata orang air dari pegunungan bisa langsung diminum, kebetulan aden haus….”
Tanpa ragu Pardede teguk air yang mengalir dari ruas bambu kuning tersebut 
“Fffuuuuttt..kenapa rasanya pahit ya,” 
Dengan bersungut-sungut Pardede usap bibirnya beberapa kali, namun satu teguk air dari bambu kuning telah masuk ke dalam tenggorokannya setelah itu Pardede kembali menemui teman-temannya di tenda menceritakan tentang keberadaan ruas bambu kuning yang mengeluarkan air pahit. Keesokan harinya pardede dan keempat kawannya mendatangi air terjun
“Dimana waang melihat ruas bambu itu?”
Segera, Pardede tunjuk salah satu dinding air terjun yang ada ruas bambu kuningnya, kelimanya lantas mengerumuni ruas bambu kuning yang memancarkan air  sangat jernih itu, satu persatu kawan-kawan Pardede meneguk  air yang memancar dari ruas bamboo kuning 
“Awak ni gimana, air segar nan sejuk dibilang pahit,” gumam keempat temannya.
“Benar aden nak bohong, kemarin rasanya pahit sekali.”
“Coba waang nak rasakan sendiri.”
Dengan ragu Pardede tangkupkan kedua tangannya menampung air yang keluar dari ruas bambu kuning, ketika di teguk …air itu terasa tawar dingin dan menyegarkan.
“Aneh, kemarin kenapa pahit ya.”
“Apa kata aden, waang mengada-ada sajo.”
“Ah, dasar waang –waang ni baruak gadang, semuanyo..” umpat Pardede
Deeeeessssssssssss..!
Mendadak, segumpal kabut tebal melingkupi tempat tersebut, dan ketika kabut perlahan sirna keempat kawannya telah raib dan yang berada dihadapan pardede sekarang adalah empat ekor baruak gadang atau kera besar tak berekor.
**    
  Pardede tersentak dari lamunannya, begitu sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya, wajahnya yang tegang berangsur surut ketika dihadapannya seraut wajah ayu tersenyum manis  pada dirinya. 
“Uda sedang melamun apa?”
“Ah, tak ado yang uda lamunin dek Sari.”
“Mulut uda bilang bagitu, manun mata uda tak bisa bohong.”
Pemuda jangkung dengan alis tebal ini sesaat tarik napas dalam-dalam , peristiwa sepuluh tahun lalu ketika dirinya masih kuliah dan bersama keempat kawannya kemping di ngarai Sihanok kembali berputar dengan jelas dibenaknya, perlahan  kisah sepuluh tahun lampau itu diceritakan kembali pada Sari yang kini menjadi istrinya.
“Begitulah ceritanya dek Sari, sampai sekarang uda tidak mengerti kenapa setiap sumpah serapah yang uda ucapkan selalu nyata dan merugikan orang lain, setiap perusahaan yang mempekerjakan uda selalu bangkrut, ketika uda menyumpahi Direkturnya yang menurut uda tidak adil, apa salah  uda hingga menanggung azab seperti ini.”
Sari, sang istri tampak terdiam, direngkuhnya tubuh Pardede suaminya dalam pelukannya, wanita anggun ini tak menyangka kisah perjalanan sang suami begitu sulit dipahami dengan nalar namun kenyataan memang  terjadi seperti itu. 
“dek Sari, yang lebih menyakitkan justru terjadi pada Sutan Alit keponakan uda.”
“Maksud uda,  Sutan Alit yang sekarang bekerja di luar negri..”
“Benar itu semua terjadi karena sumpah serapah uda.”
“Maksud uda?”
“Ketika kito baru setahun menikah, uda memelihara beberapo ikan di empang..”
“Yaa..adek, ingat..lalau hubungannya dengan Sutan Alit?”
“satu ketika bocah itu bersama kawan-kawannya bermain dengan ikan yang menyebabkan banyak ikan uda yang mati, uda marah..uda sumpahi dia agar menjadi pembantu selamanya diluar negri, dan sumpah serapah itu terjadi, entah sekarang nasib Sutan Alit bagaimana di luar negri.” 
“Astagfirullah uda, jadi begitu ceritanyoo?”
“Benar dek, dan sekarang bekas Direktur yang perusahaannya bangkrut gara-gara sumpah serapah uda, tengah berupaya menjebloskan uda ke penjara.”
**




 Tiga bulan kemudian


      Seorang sipir buka jeruji-jeruji besi itu dengan kunci yang ada ditangannya
“Saudara Pardede, hari ini anda bebas silahkan bereskan barang-barang anda..”
“Pak sipir, siapa yang membebaskan ambo?”
“Anda lihat saja diruang tunggu.”
Dengan tergesa Pardede langkahkan kakinya meninggalkan sel yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, di ruang tunggu tampak Sari, istrinya, kakaknya Mario beserta istrinya, ayah dan ibunya serta seorang anak muda gagah berumur dua puluh lima tahun tampak tersenyum padanya.
“Sutan Alit…, benarkah waang sutan alit keponakan ambo?”
“Mamak Pardede…, apa kabar? benar ambo Sutan Alit.”
Dengan segera dipeluknya anak muda ini dengan erat
“Sutan, maapkan mamak, karena mamak Sutan menderita dirantau..”
“Sudahlah mamak, justru ambo berterimakasih sekali pada mamak..”
“Maksud sutan?”
“Serapah mamak  waktu lampau, memacu semangat ambo untuk berjuang dan menjadi lebih baik agar ambo tidak benar-benar menjadi pembantu seperti sumpah serapah mamak, akhirnya gusti Allah mengabulkan cita-cita ambo menjadi seorang pengacara dan sekarang bisa membalas budi dengan membebaskan mamak dari penjara..” 
“SubbahanAllah,  mamak benar-benar menyesal, sekali lagi terimakasih Sutan Alit.”
Pemuda gagah ini hanya mengangguk sambil tersenyum,
“Ada sesuatu yang musti waang ketahui,” ucap Datuk Marajo ayah dari Pardede
“Apakah itu ayah?”
“Kisah ini diceritakan oleh eyang buyutmu, eyang buyutmu memilki ayah bernama Dirul anak dari Bardat yang dizamannya dikenal sebagai pendeka gadang dengan julukan si Pahit Lidah, ketika si Pahit Lidah tewas ditangan musuhnya dengan diam-diam dirul anaknya pada satu malam meloloskan diri dari tawanan Sam Mato Ampat yang menculiknya, Dirul menyelamatkan jenajah ayahnya, namun bambu kuning tetap menancap erat tidak bisa dicabut,  dan rupanya setelah puluhan dekade ruas bambu kuning itu masih menyimpan aura mistis dari sipahit lidah,  maka itulah kenapa waang memiliki ucapan tajam dan lidah yang pahit setelah meminum air dari pancuran ruas bambu kuning sepuluh tahun yang lampau ketika waang kemping di ngarai Sihanok, kata Datuk Marajo kemudian menghisap rokoknya yang hampir padam
“lalu, apa yang musti waang lakukan agar  lidah waang tidak merugikan orang lain ayah.”
“Pergilah kembali ke ngarai Sihanok, kirim Basmallah untuk Bardat sipahit lidah, insya Allah lidahmu tak sepahit sipahit lidah lagi..”
“Baik ayah, besok waang akan pergi ke ngarai sihanok.”
Indramayu, 2019


Tentang Penulis.
KUSYOTO, lahir di Indramayu 02 Juli 1977 silam, anak sulung dari dua bersaudara ini mulai menekuni dunia literasim atau ia lebih suka menyebutnya dunia sunyi sejak duduk di bangku SMA, menulis baginya adalah sebuah terapy dan ajang silaturahim dalam menyampaikan ide, pesan dan gagasan, selain menulis cerpen dan puisi ia juga menulis novel genre Sejarah fiksi ia juga seorang paramedik di sebuah Rumah Sakit swasta di bilangan Indramayu, juga bergiat di Dewan Kesenian Indramayu, sebagai Komite Sastra, beberapa tulisannya baik puisi dan cerpen di muat di berbagai media Koran dan majalah nasional.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tak Sepahit Si Pahit Lidah"

Post a Comment