WAJAH DI BALIK CURUG BANGKONG



oleh Vera Verawati*)

       Minggu pagi yang cerah, waktu yang tepat untuk menjelajah, kali ini saya berkunjung ke sebuah curug bernama Curug Bangkong. Curug ini terletak di desa Kertawirama, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tak lepas dari asal usul Curug Bangkong juga memiliki mitos yang berkembang di penduduk sekitar. Air terjun yang memiliki ketinggian 23 meter dan lebar sekitar 3 meter ini dihuni oleh katak berukuran besar yang merupakan jelmaan Abah Wiria, seorang petapa yang berasal dari daerah Ciamis.
       Alkisah  bermula saat Wiria datang ke daerah Kuningan untuk melakukan tarikat, guna menambah ilmu kebatinan yang dimilikinya. Dalam perjalanan itu Wiria merasa tertarik untuk melakukan pertapaan di sebuah air terjun yang secara tidak sengaja ditemukan. Tidak hanya melakukan tarikat, dia juga berhubungan baik dengan warga sekitar. Wiria memiliki kepandaian dalam membuat gula merah. Dengan senang hati Wiria mengajari penduduk cara pembuatan gula merah yang enak. Karena jasanya Wiria pun dipanggil dengan sebutan Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan untuknya.
       Waktu pun berlalu bertahun sudah Abah Wiria tinggal dan melakukan aktivitas rutin sama halnya dengan penduduk sekitar. Namun panggilan batin untuk bertapa kembali datang lagi. Abah Wiria pun melakukan pertapaan di dalam gua yang terdapat di balik air terjun tersebut. Tapi setelah sekian lama Abah Wiriapun tak pernah terlihat lagi. Ketidakmunculan Abah wiria berbarengan dengan suara kodok besar yang tiba-tiba sering terdengar di sekitar curug. Menurut kepercayaan penduduk, Abah Wiria telah menyempurnakan ilmunya dan berubah bentuk menjadi seekor kodok besar. Anehnya suara kodok itu akan menghilang jika kita berusaha mencari asal datangnya.
      Akses menuju Curug Bangkong sangat mudah untuk ditempuh baik kendaraan roda empat ataupun roda dua. Di lokasi tersebut kini tersedia lahan parkir serta jalan yang cukup bagus untuk dilalui. Pemerintah desa setempat bekerja sama dengan Dinas Kepariwisataan telah mengelola Curug Bangkong dengan baik meski masih ditemukan beberapa kekurangan, tertutama kebutuhan toilet dan arena bermain untuk anak-anak.  Diperlukan perbaikan untuk terus menambah daya tarik pengunjung serta memberdayakan pariwisata lokal agar bisa mendunia.
       Selain keindahan Air terjun (Curug) Bangkong juga memiliki keeksotisan lain yakni sepanjang perjalanan menuju ke air terjun kita dimanjakan dengan hamparan sawah nan hijau dan melihat serta mendengar deru air yang mengalir di sepanjang kali dikiri jalan menuju curug. Udara yang segar dan hawa yang sejuk melengkapi perjalanan kita. Namun ada baiknya bagi keluarga yang datang dan membawa anak-anak untuk terus mengawasi mereka karena arus yang ditimbulkan Air Terjun (Curug) Bangkong sangatlah deras dan berbahaya. Hanya penduduk asli yang berani berenang di bawahnya.
       Di Curug Bangkong juga terdapat beberapa pondokan yang bisa dinikmati pengunjung yang datang bersama keluarga, sambil menikmati makan bersama diselingi pengambilan poto bagi mereka yang suka potografi dan swafoto, sungguh liburan yang sangat menyenangkan. Harga tiket masuk yang hanya Rp 5,000,00 terjangkau bagi semua. Nah, tunggu apa lagi, yuk, berlibur ke Curug Bangkong ajak teman dan keluarga. (Juli, 2019).

Penulis: Vera Verawati, lahir di Jambi, 01 Juli 1979. Bekerja sebagai Chef Waroeng Ilmu, Cirendang, Kuningan. HP: 083866062124. Email: veraverawati299@gmail.com



Penyunting: Saiful Amri, M.Pd.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "WAJAH DI BALIK CURUG BANGKONG"

Post a Comment