YANG TERSISA DARI IDUL ADHA (Cerita Singkat dari Sebuah Perkenalan Dengan Makhluk Allah Bernama Sapi)

Cow, Allgäu, Cows, Ruminant

Oleh Saeful Taryana


Cerita ini bertempat di Depot Sapi Sudirman, sebuah depot tempat penjualan sapi untuk memudahkan pekurban mencari hewan kurban, bertempat di jalan Sudirman. Aku di sini dalam posisi sebagai relawan, membantu apa saja demi terselenggaranya berbagai kemudahan bagi hamba Allah yang ingin berkurban.  Dan kisah ini tentang persahabatanku dengan para sapi yang dipelihara sementara, untuk diantarkan pada hamba-hamba Allah yang siap berkurban.

O, iya, depot ini menyediakan hewan kurban dan memberikan layanan pemeliharaan dan pengantaran sesuai keinginan konsumen. Jadi, hewan yang sudah terjual tidak serta merta langsung diambil dari depot. Pada umumnya konsumen, minta diantar sapinya pada H-2 sampai H + 2. Beberapa ada yang minta dipotong di depot juga.

Pertemuanku dengan para sapi berawal pada tanggal 20 Juli 2019, malam hari.  Saat itu pertemuan pertamaku dengan delapan ekor sapi. Selang satu hari kemudian, datang lagi dua ekor sapi.  Sejak saat itu, banyak sekali yang harus aku kerjakan dan benar-benar baru bagiku.

Awalnya aku malu-malu dan ragu, bagaimana harus bersikap pada mereka? Jujur, ini kali pertama aku berinteraksi langsung dengan sejumlah sapi, dan aku menjadi salah seorang yang bertanggungjawab dalam pemeliharaan mereka selama di depot ini. Aku tidak biasa melakukan pekerjaan ini. Namun, aku berpikir bahwa pekerjaan ini amanah mulia yang harus aku tunaikan.

Mulailah aku memberanikan diri berkenalan dengan mereka, dengan rasa gugup dan sedikit takut karna melihat perawakannya yang gede-gede. Hari-hariku diisi dengan memperhatikan satu persatu sapi, termasuk dari warna, jenis dan karakternya. Aku juga selalu sigap menyediakan pakan dan memelihara kesehatan mereka. Beberapa hari kemudian aku mulai terbiasa dengan pekerjaan baruku ini.

Tetapi pada minggu kedua, aku mulai merasa jemu dengan pekerjaan yang cuma begitu-begitu saja. Aku berdiskusi dengan teman-teman, bagaimana supaya pekerjaan ini bisa nyaman. Hingga kami mendapatkan kesimpulan,  sekiranya aku mengerjakannya dengan penuh CINTA, akan mendapatkan ‘penemuan’ yang luar biasa. Dan  akupun mulai mencoba larut dalam cinta itu, sehingga aku bisa jauh lebih dekat dan mencoba berkomunikasi dengan mahluk Allah yang satu ini.

Maka, diawali sejak pagi hari, aku sudah nongkrong di kandang ditemani dua sahabat partner kerja. Diiringi lagu Iwan Fals, segelas kopi dan sebatang rokok, kumulai hariku dengan penuh cinta. Aku lebur dengan kecintaan terhadap mereka. Aku memandikan mereka,  membersihkan kandang dari kotorannya,  memberi pakan dan minumnya , dan mengecek kesehatannya. Dalam setiap pekerjaan itu, aku mencoba berkomunikasi dengan mereka. Misalnya, ketika memberi pakan, aku katakan,” Makan dulu, Sobat, biar kamu sehat.” Atau ketika akan memandikan, kubilang,” Mandi, ya, biar ganteng. Biar kamu jadi sapi yang terpilih.” Dan mereka mengerti perkataanku, sehingga semua perkerjaan jadi lebih mudah dan menyenangkan. Suasanapun semakin akrab dengan mereka.

Pernahkah kau lihat orang ditendang atau diseruduk hewan peliharaannya? Kurasa itu karena mereka menyepelekan perasaan hewannya dan memperlakukan dengan tidak baik. Aku yakin mereka punya perasaan dan mengerti ketika diajak berkomunikasi. Beberapa temanku memperhatikan, menjelang magrib, kadang mereka gelisah, tetapi ketika mendengar adzan, mereka menjadi tenang dan tak lama kemudian tidur dengan damai.

Pada suatu hari, aku mendapat ujian … jatah makan mereka terlambat datang karena mobil mogok. Aku begitu panik, apa yang harus aku lakukan? Saat itu aku dengan dua sahabat rekan kerja memutuskan untuk mencari pakan seadanya. Dan ketika akhirnya pakan datang sore hari, hatiku riang kembali. Tanpa banyak pikir, langsung kuambil pakan dan kukasihkan pada sahabatku. Hatiku lega dan bahagia sambil duduk memandang mereka yang makan begitu lahap.

Sampailah  pada waktu yang cukup membuat hatiku pedih, merasa kehilangan. Satu persatu sahabatku meninggalkanku.  Meninggalkan kesan yang teramat dalam. Dalam  imajinasiku mereka berkata padaku, “TERIMA KASIH, SOBAT, KAMU TELAH MERAWATKU DAN MENGANTARKANKU MENUJU RIDA-NYA ...” Dalam hati akupun menjawab - dengan rasa iri karena mereka telah menemukan kemudahan jalan menuju RIDA-NYA ... “Selamat jalan sahabat-sahabatku, kalian telah memberi pelajaran yang sangat dalam bagiku.” Tak terasa ada yang menetes dari mataku, beberapa rekan kerjaku juga, terlihat sedih, setiap kali mengantarkan mereka menuju mobil pengangkut. Tetapi hati kami lega, berhasil membantu mereka, menjadi hewan kurban yang sehat, bersih dan gemuk. Semoga kami pun diberi kemudahan seperti mereka untuk menggapai RIDA-NYA... Aamiin Yaa Rabb.

Saeful Taryana, kenangan ketika menjadi  Relawan Depot Sapi Sudirman.
Disunting oleh Nurlaela Siti Mujahidah.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "YANG TERSISA DARI IDUL ADHA (Cerita Singkat dari Sebuah Perkenalan Dengan Makhluk Allah Bernama Sapi)"

  1. Subhanalloh....
    Hanya beberapa orang saja yang bisa mengambil hikmah dari apa yang mereka lihat dan mereka lakukan...
    Ya Alloh masukan aku ke dalam golongan mereka ...dan masukan aku ke dalam golongan orang beruntung...Aamiin

    ReplyDelete