CINCIN


Close-up wedding rings with a rose


oleh Neng Noer


Lelaki paruh baya itu menatap wajah lelah istrinya dengan penuh kasih. Perlahan, dibetulkan selimut lusuh hingga menutupi dada. Ah, bukan selimut sungguhan, bekas bed cover pemberian kakaknya lima tahun yang lalu. 
Lelaki bernama Karim itu baru pulang. Ia tak tega membangunkan Laila istrinya yang seharian super sibuk mengurus warung, rumah dan anak-anaknya. 

Begitu datang, selalu tak sabar ia ingin segera menatap wajah istrinya. Ada senyum di wajah damai yang tertidur lelap itu. Ya, dari dulu selalu begitu. Istrinya suka protes kalau ia pulang tak dibangunkan, tapi ia selalu tak tega membangunkan istrinya.  Tetapi kali ini ia punya alasan untuk membangunkan istrinya. Tadi sebelum pulang, Karim menyempatkan membeli nasi Padang kesukaan istrinya.

Terbayang, wajah sabar istrinya ketika ia pergi sore tadi ....
"Kang, maaf, ya, tak ada nasi buat makan malam. Terakhir, dimakan si bungsu. Semoga ada rezeki kita buat makan besok. Setidaknya malam ini Akang bisa makan di sana," katanya pelan, seperti menyesal karena tak ada makanan yang tersaji.
"Ya, gak apa-apa, semoga nanti pulang bisa bawa makanan untukmu. Kau belum makan juga, kan?" Karim tersenyum menenangkan istrinya.
"Akang bawa kunci, ya. Kalau kamu ngantuk, tidur aja. Gak usah ditunggu. Nanti dibangunkan kalau Akang pulang bawa makanan,"  katanya sambil berpamitan. Diciumnya kening istrinya setelah istrinya mencium tangannya. Anak-anak masih di masjid menunggu waktunya salat isa.

Lelaki itu berjalan menyusuri kegelapan malam. Meski agak jauh ke jalan raya, ia tak mau naik ojeg. Biar uangnya buat menambah beli beras. Selagi masih bisa berjalan, ke manapun ia berjalan. Pekerjaannya menuntut ia untuk bisa pergi kapanpun pelanggan membutuhkan. Ia tak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Istri dan anak-anaknya bangga padanya. Kalau ditanya pekerjaannya, mereka akan menjawab tegas. "Ayahku dai dan tukang pijat profesional."
Anak yang sulung malah menjawab, "Ayahku seorang helper. Ia siap menolong siapa saja yang membutuhkan!"

Mereka tak menghitung berapa rupiah yang bisa ia berikan. Yang mereka tahu, ayahnya dihormati dan disayang orang dari berbagai kalangan. Mulai dari dosen, dokter, pengusaha berumah mewah, sampai tukang becak yang mengontrak di rumah petak. 

Karim tersentak dari lamunannya ketika ia mendengar bunyi perut istrinya. Ah, meski tidur menyungging senyum, sebenarnya istrinya lapar sejak sore tadi. Bergegas ia mengambil piring dan memasukkan nasi bungkus yang dibelinya. Tak lupa segelas air hangat ia bawa pula. Sesekali memanjakan istri, pikirnya. Perlahan dikecup kening istrinya. Ia tahu, gerakan sedikit saja bisa membangunkan istrinya. 

Perlahan mata lelah itu membuka. "Eh, sudah pulang, Kang. Sudah minum?" 
Dengan agak kaget istrinya bergegas bangun.
"Sudah. Nih, hadiah buat kamu." 
Karim menyodorkan nasi bungkus. Yang segera disambut dengan mata berbinar. 
"Wah, alhamdulillah. Terima kasih, Kang. Aku memang lapar sekali." 
Diambilnya piring dari tangan suaminya. 
"Kau cape. Duduk aja. Aku suapin, ya?" 
Karim tidak menyerahkan piring pada istrinya. Istrinya mengangguk sambil tersenyum. 

Suap demi suap dimakan dengan nikmat. Sampai tiga suapan, istrinya berhenti. 
"Akang gak makan? Aku suapin juga, ya?" 
Dengan cekatan istrinya mengambil sendok dari tangannya dan menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ingat waktu pengantin, ya?" 
Karim bergumam sambil menatap istrinya. Istrinya tersenyum mengangguk.

Tiba-tiba ada haru yang menyeruak, kala ingatannya melayang ke masa 15 tahun yang lalu ....
Laila, gadis cantik dan manja itu, tidak minta apa-apa. Ia hanya ingin diajari berislam yang benar. Ia hanya ingin dibimbing agar menjadi ahli syurga. Meski untuk itu, ia harus rela meninggalkan segala kesenangan hidup yang melimpah. Ya, ia anak bungsu dari seorang pengusaha sukses. Ia yang berkali-kali menolak dengan halus tiap ada lelaki yang mencoba mendekat. Ia yang sarjana pendidikan dengan nilai sangat memuaskan. Ia yang memilih lelaki sederhana seperti dirinya untuk menjadi imam bagi keluarga yang akan dibangun. 

Karim menghela napas panjang tak pernah menyalahkan takdir. Ia tak mungkin berkata, nasib tak berpihak padanya. Tidak .... Karim tahu, Sang Penulis skenario, tak kan salah memberi skrip untuk ia jalani. Hanya memang saat ini, ia dan keluarganya tengah menjalani ujian hidup. Lima tahun yang lalu, perusahaan tempat ia bekerja, bangkrut. Uang pesangon, ia belikan rumah kecil di pinggir kampung, jauh dari keramaian kota. Sisanya dipakai untuk warung kecil-kecilan. 

Laila tak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum menenangkan. Bahkan ketika cincin kenangan pernikahannya, satu-satunya perhiasan yang ia miliki, terpaksa dijual untuk menambah modal. Ia cuma tertawa kecil, seraya berkata,
"Jual aja, ga apa-apa. Tapi janji, kalau kelak punya uang, ganti, ya." Laila melepas cincinnya sambil tersenyum tulus. Karim mengangguk dan bertekad, satu hari nanti ia akan mengganti cincin itu. Itu satu-satunya permintaan Laila.

Dan kini, sudah lima tahun, sejak obrolan itu, Karim masih belum memenuhi janjinya. Laila tak pernah menagih, tapi Karim selalu mematri janjinya dalam dada. Beberapa kali menabung, selalu ada keperluan yang tak bisa ditunda. Anak sakit, bayaran sekolah, modal warung, dan banyak lagi alasan untuk membuka tabungannya.

"Kang, ada masalah? Kenapa dari tadi melamun terus?"
Karim tersentak. Ia memandang piring yang sudah kosong di tangan istrinya.
"Eh, engga. Akang cuma ingat waktu kita pengantin dulu. Kamu cantik sekali."
Karim tidak berbohong. Memang Laila bintangnya di daerah mereka. 
"Masa cuma ingat itu, melamunnya lama sekali," kata istrinya seperti menyelidik.

"Akang punya utang yang belum dibayar. Tapi uang Akang selalu tak cukup. Gimana, ya, baiknya?" 
Dengan ragu, Karim melepas unek-uneknya.
"Ya, Allah ..., Kang. Hutang pada siapa? Kenapa engga bilang sama aku?" 

Laila nampak kaget. Seingatnya, ia tak pernah setuju kalau harus meminjam uang. Mereka sepakat untuk bertahan apa adanya. Lebih baik mereka menahan lapar, kalau kebetulan tak ada uang, daripada meminjam pada tetangga, apalagi pada bank.

Belum sempat Karim menjawab, istrinya bergegas menuju lemari. Tak lama ia menghampiri Karim yang masih duduk termangu. 
"Maaf, ya, Kang. Aku engga bilang pada Akang. Selama ini aku nyicil nyimpen uang. Aku ingin tahun ini kita berkurban. Uangnya sudah cukup, lebih malah. Bisa sekalian membagikan berasnya juga pada tetangga." 
Laila menarik napas perlahan.
"Kalau Akang memang butuh, ambil saja uang ini. Mungkin belum saatnya tahun ini kita berkurban."

Karim melongo, menatap amplop tebal yang disisipkan istrinya di tangannya. Dia tak pernah berpikir sedikit pun, istrinya punya rencana mulia ini. 
"Buka, Kang. Hitunglah. Mudah-mudahan cukup buat membayar hutang Akang."
Ucapan istrinya, menyadarkan Karim. Tak kuasa untuk ditahan, buliran air bening menetes dari matanya. Ia memeluk istrinya, berbisik pelan, "Terima kasih, Sayang. Semoga menjadi ahli syurga."

Tanpa bertanya hutang pada siapa? Bekas apa? Serta merta istrinya bangkit dan memberikan uang itu. Karim yakin, istrinya berusaha keras agar bisa menyimpan uang sebanyak itu. Perlahan ditimang amplop di tangannya itu. Mana tega ia merusak rencana mulia istrinya. Lagi pula mana bisa ia mengganti cincin istrinya dengan uang istrinya juga. Tak sadar Karim menggelengkan kepalanya.

"Kenapa, Kang? Uangnya engga cukup? Ah, maaf, ya, aku cuma punya segitu ...."
Laila menatap suaminya penuh penyesalan.
Karim menunduk, membenahi hati yang gemuruh penuh syukur dan haru.
"Kang, mungkin bulan depan, aku bisa nambahin. Minta waktu aja dulu." Laila dengan semangat berkata.
Karim makin terharu. Ia meraih tangan istrinya seraya berkata," Utangku adalah sesuatu yang seharusnya nempel di sini. Lima tahun yang lalu aku janji untuk menggantinya." Karim membelai jari manis istrinya. Lima tahun yang lalu, ada cincin kecil yang tak pernah lepas. 
"Aduh, Kang .... Aku kira utang ke siapa. Sudahlah, Kang. Aku anggap lunas. Lagian waktu itu aku ngomong minta diganti, cuma bercanda, kok." Seru Laila sambil memeluk Karim dengan senyum lega menghias bibirnya.
"Alhamdulillah, kalau Akang tak ada keperluan lain, boleh, kan, uang ini buat murban?" Kata Laila sambil melepaskan pelukan dan menatap Karim penuh kasih. Karim cuma bisa mengangguk sambil tangannya sibuk menghapus air yang berdesakan dari matanya. Tuhan Maha Kaya. Karim tahu, dan yakin itu. Dia cuma harus menunggu memaksimalkan usahanya dan beroda untuk bisa mengganti cincin istrinya.
Dengan istri sesabar Laila, Karim tahu ia punya cukup banyak waktu untuk mewujudkan janjinya.*


PENULIS
Neng Noer adalah nama pena dari Ummi Mujahidah atau Nurlaela Siti Mujahidah, penulis, aktivis keagamaan dan literasi, guru IPA SMPN 3 Limbangan Kab. Garut.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CINCIN"

Post a Comment