GERAKAN LITERASI SEKOLAH MENDONGKRAK KREATIVITAS SISWA


oleh Eti Nurhayati, S.S., M.Pd.*)

Dalam dunia pendidikan dewasa ini, literasi merupakan suatu hal yang sangat penting. Kegiatan menulis dan membaca merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Realistis saja, bagaimana bisa maju suatu masyarakat apabila masyarakat itu ketinggalan dalam ilmu dan teknologinya. Memang, disadari atau tidak, membaca akan menambah ilmu kita. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan. Demikian pula dengan menulis. Menulis menjadi suatu kebutuhan yang mendesak sekarang ini. Gerakan Literasi menjadi program bersama dalam mengatasi permasalahan rendahnya budaya literasi di Indonesia. Budaya literasi di Indonesia pada Tahun 2012 sangat menyedihkan. Hal ini terungkap dari hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assesment) yang menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia menempati posisi ke 64 dari 65 negara yang diteliti. Inilah yang melandasi lahirnya gerakan literasi di Indonesia. Pada saat ini, gerakan literasi merambah ke berbagai lini kehidupan, terutama di bidang pendidikan.
Dalam hal ini, Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan program WJLRC (West Java Leader Reading Challenge) yang mendapat sambutan baik dari berbagai pihak. Program WJLRC benar-benar berdampak positif bagi siswa, terutama dalam peningkatan kreativitasnya.
Literasi utamanya mencakup hal-hal yang berhubungan dengan budaya membaca dan menulis. Lebih jauh lagi, literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Selain itu, literasi  bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).

Membaca
Buku merupakan gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Untuk membuka cakrawala seseorang terhadap sesuatu hal, maka ia harus membaca. Membaca merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan bila kita ingin maju. Tentu saja hal itu tidaklah mudah, mengingat budaya ini masih rendah dalam  masyarakat kita. Perlu upaya-upaya maksimal untuk membangkitkan budaya literasi ini.
Beberapa definisi membaca menurut para ahli:
Juel (dalam Sandjaja, 2005), membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan, sehingga hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan. Soedarso (1996: 4), membaca adalah bukan hanya sekedar membunyikan lambang-lambang bunyi bahasa yang tertulis. Membaca adalah aktivitas yang kompleks yang mengarah pada sejumlah besar tindakan yang berbeda-beda. Farris (1993:304),membaca adalah pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca.

Menulis
Menulis pada hakikatnya adalah akumulasi ide. Pada awalnya, menulis merupakan suatu hal yang sulit. Namun, hal itu bisa diatasi dengan latihan secara terus menerus. Ada beberapa dorongan yang melatarbelakangi seseorang dalam menulis, di antaranya:
Menulis merupakan hobi
Bagi yang hobi menulis, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis bukanlah suatu masalah. Setiap momen yang terjadi merupakan bahan inspirasi untuk ditulis. Ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan materi apabila tulisannya selesai.
Menulis untuk dokumentasi
Apabila seseorang ingin mendokumentasikan peristiwa atau sejarah yang penting, maka dia bisa menuliskannya. Pengalaman hidup yang ditulis bisa menjadi dokumentasi pribadi dan inspirasi bagi yang membacanya. Dengan demikian, tulisan bisa berguna untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain.
Menyebarluaskan info
Guru biasanya menulis materi pelajaran sebagai bahan bacaan untuk anak didiknya. Tulisan guru dapat berupa buku, diktat, modul, dan sebagainya yang dapat dipelajari bersama maupun mandiri.

Gerakan literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Adapun peraturan yang melandasi diselenggarakannya gerakan literasi sekolah ini adalah Permendikbud no 28 tahun 2016 dan Permendikbud RI no 23 tahun 2015.
       WJLRC merupakan bentuk dukungan dan penguatan implementasi Gerakan Litersi Sekolah di Jawa Barat. Dalam pelaksanaannya setiap siswa diberi tantangan untuk membaca sebanyak 24 buku dalam kurun waktu sepuluh bulan. Selanjutnya siswa diminta untuk menulis review buku yang telah dibacanya dalam berbagai teknik, yaitu Ishikawa Fishbone, AIH (Alasan, Isi dan Hikmah), Y Chart dan Infografis. Tentu saja kegiatan-kegiatan tersebut memerlukan kesungguhan memicu kreativitas siswa dalam pelaksanaannya.
       Kreativitas menurut Santrock adalah kemampuan untuk memikirkan tentang sesuatu dalam cara yang baru dan tidak biasanya. Sementara itu, NACCCE (National Advisory Committee on Creative and Cultural Education) mendefinisikan kreativitas sebagai aktivitas imaginatif yang menghasilkan hasil yang baru dan bernilai. Namun, Munandar menyatakan bahwa hasil yang dihasilkan dari kreativitas tidak selalu hal-hal baru, tetapi dapat juga berupa gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
       Dalam aktivitas gerakan literasi siswa, kreativitas nampak jelas pada cara siswa dalam membuat review bukunya. Seringkali seorang guru perintis atau guru pembimbing terpesona dan kagum terhadap hasil review buku yang dibuat siswa. Misalnya dalam penggunaan warna dan gambar yang kreatif dalam Ishikawa fishbone, Y Chart dan infografis. Selain itu juga penggunaan bahasa yang menarik dalam teknik review AIH dan presentasi menjadi salah satu tolak ukur kreativitas siswa. Hal-hal tersebut dihasilkan dari cara berpikir kreatif siswa yang dibangun melalui WJLRC.

Daftar Pustaka
Disdik Jabar. (2016). Gerakan Literasi Sekolah di Jawa Barat melalui WJLRC.
Munandar, S. C. U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Republika. (2017). Literasi Indonesia Sangat Rendah. [Online]. Tersedia :
www.republika.co.id [Diakses pada 20 Mei 2017]
Tim Literasi Provinsi Jawa Barat. (2016). Teknik Menulis Review.

*) PENULIS

Eti Nurhayati lahir di Tasikmalaya, 13 November 1972. Penulis menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Penulis senang menulis karya sastra. Beberapa event kepenulisan telah diikuti dan dibukukan. Beberapa karyanya dimuat di Koran Suara Merdeka, Majalah Hayam Wuruk dan Majalah Hibar Sabilulungan. Penulis telah menerbitkan buku-bukunya yang berjudul Pengantar Sastra dan Jejak-jejak dalam Sajak. Penulis bergabung dalam Forum Gumeulis (Guru Menulis) dan Komunitas Pegiat Literasi Jawa Barat.  Penulis aktif mengajar di SMPN 1 Sariwangi, Tasikmalaya.  Informasi selengkapnya di facebook atau  email etinurhayati206@gmail.com.

Penyunting: Saiful Amri, M.Pd.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GERAKAN LITERASI SEKOLAH MENDONGKRAK KREATIVITAS SISWA"

Post a Comment