KADO CINTA RAISYA BUAT IBU


oleh Vera Verawati*)

       “Seminggu lagi ulang tahun Ibu, ya, Bu?” Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibir Raisya, gadis kecil Kelas V SD ini, sambil asyik meneruskan hobinya bermain slaime. Sementara perempuan setengah baya itu tetap melanjutkan pekerjaan di dapur dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan putri kecilnya.
       “Bu, boleh minta uang enggak nanti kalau Ibu ulang tahun, Raisya ingin membeli hadiah buat Ibu.” Sejenak perempuan itu berhenti dari pekerjaanya.
       Sambil tersenyum dia menggoda Raisya, “Wah, mana boleh mau ngasih hadiah ulang tahun untuk Ibu, kok, minta uangnya ke Ibu. Bukannya ngumpulin sendiri dari uang jajan Raisya, kan, bisa.”
       Sambil tersenyum malu Raisya merajuk manja, “Ih, Ibu, mah, ya, sudah kalau memang Ibu nggak punya uang, Raisya ngumpulin, deh, dari uang jajan sekolah Raisya.”
       Kesibukan sang ibu  yang harus bekerja dari pagi hingga malam menyebabkan kehilangan waktu bersama kedua buah hatiny. Setelah memutuskan untuk hidup sendiri selama 6 tahun lebih dengan mengakhiri pernikahan yang dipenuhi konflik dan kekerasan yang diterimanya. Dimas (17 tahun) dan Riasya (10 tahun)  adalah kekuatan yang menjadikan perempuan ini terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tanpa disadari sang ibu, obrolan ringan kemarin memberinya sebuah cerita berbeda yang tak akan bisa dilupakan sepanjang hidupnya.
     Pagi itu, 01 Februari 2019 di Subuh buta Ibu Raisya terbangun. Ketika berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan berwudhu, tiba-tiba langkahnya terhenti, dilihatnya sebuah kado mungil di atas meja kayu di samping tempat tidurnya, menarik perhatianya disentuh kado itu, dilihatnya sebuah tulisan rapih di sampul kado, “Teruntuk: Ibu.” Perlahan dengan penasaran Ibu Raisya membuka kado itu didapatinya sebuah foto Kabah dan ribuan umat yang sedang thawaf.
       Di belakang foto tersebut sebuah kalimat tersusun rapi tulisan tangan putri kecilnya. “Ibu, selamat ulang tahun yang ke-40, yah, kenapa Raisya memberi foto ini? Karena Raisya berdoa pada Allah semoga kita bisa sampai di sana untuk berhaji dan jika sampai di sana Raisya ingin meminta satu saja sama Allah, Raisya minta seorang ayah  yang baik untuk ibu, Aa dan Raisya.”
       Gemetar tangan Ibu Raisya, perlahan dia mendekap foto tersebut. Tergesa ditemuinya putri kecilnya yang masih terlelap tidur, dicium dan didekap penuh kasih putri kecilnya seraya berbisik, “Terima kasih, De, dan semoga doamu terkabul.”
       Beranjak Ibu Raisya ke kamar mandi bergegas membersihkan diri dan berwudhu. Waktu menunjukan 04.00 dini hari dihamparkan sajadah dan mulailah Ibu Raisya Salat Tahajud yang telah menjadi rutinitas dini harinya. Dalam tangis dan syukur yang tak terhingga Ibu Raisya pun bedoa yang sama dengan doa Raisya yang ditulisnya dalam Kado Cinta Raisya buat ibu.
      Tanpa disadari sepasang bola mata mungil mengintip di pintu ruang salat sambil tersenyum dan berbisik dalam hati, “Terima kasih, Ya Allah, Raisya bahagia melihat Ibu tersenyum meski Raisya harus mengumpulkan rongsok dan barang bekas demi bisa membelikan hadiah ini buat ibu, karena Raisya tahu pengorbanan ibu jauh lebih besar dari apa yang dilakukan Raisya saat ini. Terima kasih juga karena telah memberi Raisya seorang ibu yang hebat yang selalu tersenyum dan membagikan senyumnya pada semua orang.”

Vera Verawati lahir di Jambi, 1 Februari 1979. Hobinya membaca dan menulis. Ia berprofesi sebagai juru masak di Waroeng Ilmu, Cirendang, Kuningan.


Penyunting: Saiful Amri, M.Pd.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KADO CINTA RAISYA BUAT IBU"

Post a Comment