Literasi Keluarga dan Rumah Literasi



oleh  Yanyan Hardiana*)

Keluarga merupakan pilar utama bagi proses pendidikan anak. Keluarga seyogyanya menjadi kawah candradimuka pendidikan pertama anak. Peran keluarga menjadi sentral dalam memberikan dasar-dasar pendidikan bagi anak. Penanaman dasar-dasar pendidikan yang dimaksud terutama yang berhubungan dengan keterampilan membaca, menghitung, menulis, dan berbicara. Guna menguasai keterampilan tersebut, dibutuhkan kemampuan literasi yang baik dan tinggi.
Pepatah mengatakan “Buku adalah Gudang Ilmu, Membaca adalah Kuncinya”. Hal itu akan berdampak besar pada perkembangan anak apabila ia mempunyai minat dan budaya baca yang tinggi. Mengapa membaca? Menurut perhitungan matematika 1 x 10 sama dengan 10 x 1, hasilnya sama yaitu 10. Namun, menurut “teori” membaca, akan berbeda hasilnya. Itu terjadi  jika perhitungan tersebut diartikan sebagai “1 x membaca dalam 10 hari” akan berbeda artinya dengan “10 x membaca dalam 1 hari”. Dari pengertian tersebut, jelas terdapat perbedaan makna terutama dalam frekuensi membaca. Seseorang yang melakukan aktivitas membaca hanya 1 x dalam 10 hari, akan berbeda wawasan dan cakrawala berfikirnya, dengan seseorang yang melakukan 10 x membaca dalam 1 hari.
Ilustrasi sederhana tersebut menunjukkan bahwa membaca merupakan aktivitas dahsyat yang dapat mengubah karakter, kepribadian, dan kemampuan seseorang. Membaca menjadi sebuah kata kunci yang handal dalam menggali jagad raya ilmu pengetahuan. Akan tetapi, aktivitas yang relatif murah dan penting tersebut, jarang sekali dilakukan oleh kita, barangkali juga oleh sebagian besar orang Indonesia. Mengapa? Banyak sekali alasannya, yang utama ialah masyarakat belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer.
Kondisi tersebut sedikitnya ditunjukkan oleh beberapa indikasi, diantaranya pertama, masyarakat masih menempatkan buku sebagai kebutuhan yang akan datang, bahkan ada yang menempatkan sebagai kebutuhan mewah. Masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan yang sifatnya instan dan pragmatis yang tinggi. Kedua, orang akan sangat rela mengeluarkan koceknya untuk membeli kuota ataupun gadget baru, namun,berapa jumlah orang mengakses internet untuk mencari ilmu pengetahuan melalui gadget tersebut? Kebanyakan orang mengakses internet hanya untuk hiburan (entertainment), sebut saja aktivitas whatsap, facebook, instagram, dan lain-lain.
Dengan realitas sosial tersebut, keberadaan fasilitas literasi (buku dan akses internet) yang ada belum didukung oleh budaya membaca atau literasi yang tinggi. Karena itu, harus ada solusi yang tepat untuk membudayakan membaca. Lembaga keluarga menjadi basic institution yang strategis untuk memulai hal itu. Pembuatan Rumah Literasi menjadi salah satu alternatif yang dapat digulirkan. Rumah Literasi yang dimaksud ialah menjadikan rumah sebagai tempat aktivitas membaca dengan fasilitas perpustakaan mini.
Pola seperti ini, dapat dilakukan diawali dengan membuat perpustakaan mini berisi kumpulan buku, kliping koran atau majalah. Kumpulan buku dapat terdiri buku-buku yang disukai anak-anak maupun orang tua. Koleksi lainnya dapat dilakukan secara mudah yaitu kliping artikel, puisi, cerpen atau rubrik-rubrik lainnya yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan . Bahan kliping dapat dilakukan dengan berbagai cara. Jika kita berlanggaran surat khabar atau majalah, kita dapat memilih bahan-bahan penting untuk di-kliping atau kita dapat meminta kepada tetangga yang berlangganan koran atau majalah, sebelum habis dibakar atau dijual ke tukang loak. Aktivitas seperti ini, sungguh sangat mudah dan manfaatnya banyak tetapi luput dari pengamatan kita atau kita malas untuk melakukannya. Membuat kliping pun, dapat dijadikan sebuah bentuk usaha, apabila kita mengembangkan dalam bentuk penjualan buku kumpulan kliping.
Keberadaan Rumah Literasi, akan menambah aktivitas baru yang bermakna. Misalnya, seorang ibu rumah tangga, akan rajin dengan kreatif membuat kliping menu makanan dan masakan. Sehingga dia akan membuat aneka masakan sehari-hari lebih bervariatif yang tentu saja akan membawa suasana baru dalam kehidupan keluarga. Fasilitas dalam Rumah Literasi dapat juga dilengkapi komputer dengan akses internet. Dari sini akses informasi semakin luas dalam bentuk buku elektronik. Dengan demikian, orang tua akan dengan mudah membantu anaknya membimbing belajar di rumah jika memiliki koleksi buku-buku dan refesensi lainnya. Dan yang terpenting, orang tua yang mempunyai budaya baca tinggi akan dapat menularkan budaya tersebut kepada anaknya, sehingga proses enkulturasi (pembelajaran) akan lebih bermakna dan berarti.
Dalam konteks pengembangan Rumah Literasi, pranata keluarga semestinya menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak usia dini. Pranata social yang paling mendasar ini menjadi sangat urgen bagi pengembangan karakter anak untuk bekal hidup di lingkungan luar keluarga yang lebih kompleks. Realitas di lapangan,  masih banyak orang tua yang terlalu mengandalkan anak-anaknya untuk dididik oleh guru-guru di lembaga-lembaga formal. Padahal frekuensi waktu guru membimbing anak di sekolah lebih sedikit dibandingkan waktu orang tua di rumah. Karena itu, perlu diimbangi oleh pola pendidikan keluarga yang tepat dan terpadu, dan Rumah Literasi akan mendukung ke arah itu.

*) Penulis adalah Guru Sejarah/IPS SMP Negeri 1 Tasikmalaya dan Lulusan Magister Pendidikan Sejarah Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia(UPI)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Literasi Keluarga dan Rumah Literasi"

Post a Comment