Menebar Asa di SMPN Satu Atap

oleh Lilis Yuningsih, S.Pd. M.M.
.
Sejak selesai mengikuti diklat calon kepala sekolah di LP2KS Solo dan dinyatakan lulus pada tahun 2014, selanjutnya saya dan teman-teman satu angkatan sebanyak 27 orang menunggu pengangkatan dan pelantikan sesuai prosedur dan aturan yang telah ditentukan pemerintah setempat. 

Sementara itu tugas saya sebagai Wakasek Humas dan guru pengajar Mapel matematika di SMPN 2 Sindang Indramayu tetap saya jalankan dengan sepenuh hati. Sudah sekitar tujuh tahun mengemban amanah sebagai pembantu kepala sekolah atau PKS, dari mulai PKS kesiswaan sampai kurikulum dan terakhir dari tahun 2013 sampai dengan 2015 sebagai wakil kepala sekolah bidang humas. 

SMPN 2 Sindang yang merupakan salah satu sekolah favourite di kabupaten Indramayu. Sekolah kami dipilih menjadi sekolah rintisan SBI pada tahun 2006 berdasarkan SK Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas saat itu. 

Sejak itu kami terus membenahi diri agar dapat dianggap layak memenuhi kriteria atau standard seperti yang telah ditentukan, termasuk sumber daya manusianya. Saya ingat betul bahwa pembelajaran MIPA harus disampaikan dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Kami para guru MIPA harus mempersiapkan diri dengan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kami. Jadi kami guru MIPA khususnya, sering dikirim untuk mengikuti workshop-workshop, maupun bintek yang diselenggarakan pihak direktorat, masing-masing selama dua minggu. 

Bahkan Alhamdulillah saya mendapat kesempatan training di Malaysia selama satu bulan. Pernah juga dari program internal sekolah, kami dikirim ke kampung Inggris Pare di Jawa Timur untuk memperdalam bahasa Inggris kami.

 Dengan pengalaman-pengalaman yang saya dapat di sekolah ini, maka ketika saya mengikuti seleksi calon kepala sekolah dan lulus test serta lulus dari pelatihan calon kepala sekolah di Solo, saya sedikit berharap dapat menerapkan semuanya ini kelak di sekolah tempat saya bertugas.

Satu persatu teman-teman mendapat panggilan pengangkatan, pelantikan dan penempatan di tempat yang tersebar di seluruh wilayah Indramayu. Umumnya kepala sekolah baru, ditempatkan di sekolah satu atap dengan jumlah rombel sedikit otomatis jumlah siswanya juga sedikit. Kalau dipelajari secara logika, kebijakan seperti ini tentu sangat berdasar, kepala sekolah baru tentu saja perlu merintis mengasah kompetensi kepemimpinannya mulai dari mengelola sekolah kecil dengan komponen yang dipimpin atau dikelolanya relative berjumlah sedikit dengan segala tantangan dan permasalahannya.

Untuk bisa saling berbagi pengalaman dan diskusi tentang permasalahan yang ada, calon kepala sekolah alumni LP2KS Solo membentuk grup WA. Baik yang sudah mendapat kesempatan diangkat dan ditempatkan di sekolah yang tersebar di seluruh kabupaten Indramayu maupun yang belum mendapat giliran diangkat.

Suatu hari saya dipanggil oleh kepala sekolah menghadap di ruangan beliau, disampaikan kepada saya bahwa ada permintaan untuk bertugas menjadi kepala SMP swasta dari pimpinan YPI (Yayasan Pesantren Islam Irsyady). Pimpinan yayasan tersebut bapak Profesor Dr. Ikhwanudin Mawardi, M.Sc. meminta guru dari SMPN 2 Sindang untuk dijadikan kepala sekolah SMP IT Mutiara Irsyady dengan status sebagai dpk (diperbantukan). Kebetulan kandidat kepala sekolah lulusan LPKS Solo di SMPN 2 Sindang ada dua orang, saya dan yunior saya wakasek kesiswaan yang bernama ibu Dra. Elly Heryani., M.M. Setelah dimusyawarahkan dan Bu Elly memberi kesempatan kepada saya yang katanya lebih senior, saya kemudian diskusi dengan keluarga dan senior-senior saya. 

Setelah dipertimbangkan masak-masak dari berbagai sudut pemikiran, akhirnya saya terima tawaran itu. Dan jadilah saya kepala SMP IT Mutiara Irsyady tmt Juli 2015 sampai dengan Desember 2017. Kurang lebih selama dua tahun setengah menjalankan tugas memimpin SMP IT Mutiara Irsyady yang berada kurang lebih 5KM dari pusat kabupaten Indramayu, Alhamdulillah merupakan pengalaman berharga bagi saya. Kalau saja tidak ada isyu dan rumor bahwa PNS tidak lagi diperkenankan menjadi kepala sekolah swasta, mungkin saya akan lanjutkan mengabdikan diri di sekolah ini karena pimpinan yayasan sendiri masih berharap saya dapat terus melanjutkan mengemban tugas ini.

Akhirnya tibalah saatnya saya mendapat surat tugas berupa SK untuk memimpin SMPN Satu Atap 1 Lelea dan dilantik dipendopo kabupaten Indramayu . Setelah survey tempat bersama keluarga pada hari Minggu ternyata jarak sekolah ini dari rumah kurang lebih 28 KM. Setelah dipertimbangkan dan berunding dengan keluarga maka untuk menghemat energi, maka saya putuskan untuk mengontrak/menyewa rumah yang dekat dengan sekolah. 

Setelah serah terima jabatan dengan kepala sekolah lama yang merupakan PLT serta berkenalan dengan seluruh warga sekolah, saya dimasukkan grup WA sekolah oleh bapak wakil kepala sekolah. Dari dua puluh orang karyawan yang ada, baru tiga orang guru dan satu orang TU yang statusnya PNS. Sedangkan yang lainnya adalah tenaga honorer. 

Keberadaan grup WA menurut saya sangat efektif untuk alat komunikasi dan diskusi antara kami. Sebelum bisa saling mengenal lebih jauh secara langsung, saya bisa mempelajari segala sesuatu tentang teman guru dan TU dari percakapan via WA ini. 

Pertama kali saya mengajak diskusi teman-teman adalah tentang analisis SWOT, melalui diskusi ini saya ingin mengetahui sejauh mana teman-teman memahami lembaga sekolah tempat kami mengabdikan diri ini dari sudut pandang mereka, mungkin semacam evaluasi diri. Dengan cara ini saya harap teman-teman punya persepsi tentang apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari lembaga ini sejauh yang mereka pahami secara sadar dan tidak. Dari langkah ini saya akhirnya bisa menentukan skala prioritas yang harus saya ambil. Tentu saja dengan terlebih dahulu menyamakan persepsi dengan seluruh komponen yang ada agar bisa saling bersinergi.

Walaupun fasilitas sekolah dan kemampuan financial, juga intelektual orangtua siswa yang saya hadapi sekarang sangat jauh berbeda dengan sekolah tempat saya bertugas dulu. Namun saya punya keyakinan bahwa kemampuan dasar siswa kami tidaklah jauh berbeda. Sementara itu hasil dari analisis SWOT kami tentang sekolah yang punya sebutan Nesata ini adalah sebagai berikut:

  1. Strengths atau Kekuatan dari Nesata, diantaranya:
  • Merupakan SMP satu-satunya yang ada di Desa Tempel Kulon dengan SD penyangga yang ada di sekitarnya sebanyak tujuh buah SD.
  • Seluruh tenaga pendidiknya lulusan S1 dengan jumlah yang mencukupi dan punya semangat pengabdian yang tinggi dan sebagian besar mempunyai jiwa wirausaha yang tinggi.
  • Berada di tepi jalan aspal yang cukup mudah dijangkau
2. Weaknesses atau Kelemahan dari Nesata, diantaranya:
  • Karena sebagian besar karyawan masih berstatus honorer maka sebagian besar dana Bantuan Operasional Sekolah, mau tidak mau terserap untuk membayar honor karyawan. Itupun dalam nominal yang jauh dari layak.
  • Pengelolaan keuangan yang amburadul disebabkan kelemahan kemampuan bendahara
3. Opportunities atau Peluang yang dimiliki Nesata, diantaranya:
  • Memiliki bangunan Musholla yang belum selesai walau sudah sejak tahun 2012 dibangun fondasinya dan saat saya datang awal Januari tahun 2018 baru tahap 20% berdiri karena mulai digarap kembali pembangunannya oleh kepala sekolah pelaksana tugas (plt)
4. Threaths atau ancaman, diantaranya:
  • Keberadaan warnet yang merupakan satu-satunya di Desa Tempel Kulon dan sangat ramai dikunjungi pelanggannya. Yang mengkhawatirkan adalah karena sebagian besar pengunjung warnet tersebut merupakan siswa kami yang memang berdomisili di sekitar tempat warnet berada. Tentu saja semua memahami plus minus pengaruh internet bagi kaum remaja khususnya apabila mereka tidak ada yang mengontrol dan mengarahkan.
 Dari hasil analisis SWOT maka kami mencoba menyusun program-program baru yang bisa memaksimalkan kekuatan dan menangkap peluang, meminimalisir kelemahan kami dan menjadikan ancaman yang ada sebagai tantangan bagi kami. Program baru tersebut antara lain:
  1. Membangun kemitraan yang lebih erat dengan berbagai fihak, mulai dengan orangtua sebagai mitra terdekat, lembaga keuangan Bank, Dinas Kepolisian, Pamong Desa setempat, Kecamatan dan masyarakat sekitar sekolah.
  2. Mengangkat bendahara pendamping yang dianggap lebih kompeten.
  3. Menggerakkan aksi pengumpulan donasi pembangunan Musholla At Ta’awun
  4. Menyusun program Pengembangan Kewirausahaan Sekolah dan Siswa dalam bentuk Pelatihan Keterampilan membuat handmade yang bernilai jual tinggi
  5. Menyelenggarakan kursus Keterampilan Komputer Bagi Siswa, bekerjasama dengan pemilik warnet yang ada di Desa Tempel Kulon dan kebetulan berjarak tidak begitu jauh dari sekolah.
Tentu saja dalam menyusun program-program baru tersebut, kami selalu melibatkan orangtua siswa untuk diajak bermusyawarah dengan dihadiri dan difasilitasi komite sekolah. Dalam program eskul TIK, untuk sementara kami mencoba mengadopsi program eskul TIK seperti yang sudah berjalan di SMPN 2 Sindang. Dimana siswa mendapat pelatihan program Word, Excel, Animasi dan Corel Draw juga jaringan internet. Tenaga pengajarnya dari guru yang ada yang pinter dan menguasai TIK. 

Alhamdulillah semua pihak sepertinya sangat antusias menyambut keberadaan program-program baru ini, baik orangtua, siswa, komite maupun masyarakat, khususnya pemilik warnet. Bahkan dengan penuh semangat pemilik warnet menambah fasilitas AC di ruangan tempat nanti siswa kami belajar komputer. Semoga semua program kami ini berjalan lancar dan sukses sehingga pada gilirannya dapat sedikit banyak meningkatkan kesejahteraan warga sekolah dan kami tidak lagi terlalu bergantung sepenuhnya pada dana BOS yang cairnya hanya tiga bulan sekali kadang bahkan ngaret sampai 5 bulan. 

Semoga upaya kami menebar asa di SMPN SATAP 1 Lelea ini mendapat ridha dari Alloh Subhanahu Wata’ala, Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Penulis
Kepala SMPN SATAP 1 Lelea, Indramayu, juga penyiar radio Cinde FM Indramayu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menebar Asa di SMPN Satu Atap"

Post a Comment