Misteri Lipstik di Bajuku

oleh Eka Wijaya SMPN 8 Tasikmalaya

271123031
Hari itu semua mata tertuju padaku, mereka tersenyum aneh melihat diriku. Lantas aku memandang wajah mereka satu persatu, mereka malah tertawa dan saling melempar pandangan satu sama lain saat melihat kekakuan yang ada pada diriku. Entahlah aku merasa bingung dan dibuatnya mati kutu tak berdaya meskipun sejuta tanya mengerubuni pikiranku. Kemudian, secara tiba-tiba pundakku ada yang menepuknya dari arah belakang dan akupun sontak kaget.
“Selamat ya Bram aku salut kepadamu...kiranya kaulah yang pantas mendapatkan kado istimewa darinya” kata Rinu sambil tersenyum kepadaku, ia adalah sahabat terbaikku.
“Oh ya” kataku datar saja menjawab ucapannya.
“Mana kadonya, Rin? Lanjutku sembari aku mengulurkan tangan kananku.
“Hahah...kamu terjebak!” ucapnya puas. Lantas tanpa disadari semua orang tengah mentertawakan aku.
Lalu saat itu Linda menghampiriku sambil membawa cermin ditanganya yang memakai gelang perak berkilau.
“Lihatlah sang pangeran betapa indahnya bukan?” serunya manja sambil mendekatkan cermin kebaju yang di pakaiku.
Sungguh itu diluar dugaanku, betapa tidak kagetnya aku baru kusadari ternyata ada gambar kecupan lipstik yang menempel dikemejaku jelas terpampang. Aku tentu saja kaget kelabakan dan kebingungan menghantuiku.
 “Asyik..Udah Bram santai aja kali...bisa dicuci loh” ucap Rinu sambil terus menggodaku.
Aku gugup dan malu sambil sibuk mengajukan pertanyaan pada diriku sendiri. Ah ternyata aku mendapat kado istimewa di acara reuni 32 tahun yang lalu.
“Ya Allah siapakah pemilik hati yang telah menempelkan lipstiknya kebajuku” aku bergurau dalam hati. “Apakah dia sengaja atau tidak?”.
 Aku tak tahu, ingin marahpun kepada siapa aku tak tahu. Hanya saja aku berharap dalam hati mungkin itu adalah lipstik milik Melati yang menempel di bajuku. “ah berharap apasih aku” jujur saja karena masih terbayang –bayang jelas diotakku dan terngiang-ngiang di telingaku saat dahulu ia mengatakan “Maafkan aku Bram aku tak bisa memenuhi keinginannmu sebab ayah tak membolehkan aku pacaran dulu, aku harus fokus untuk belajar”. Ah saat itu aku tak bisa berkata-apa sebab dengan kelembutan hatinya itu aku bisa menjatuhkan hatiku kepadanya, lantas jujur saja sampai detik inipun aku masih saja memikirkannya. Tetapi entahlah apakah dia masih mengingatkanku atau tidak.
“Ah.. peduli amat aku tak sanggup memikirkannya” gerutuku dalam hati.
Akupun mulai tersadar dari tanyaku yang berkecamuk tentang gadis yang kusukai dulu, aku masuk khayalku tentang Melati padahal pada  kenyataanya andai aku pulang kerumah pasti istriku akan marah besar dan pasti akan terjadi perang. “sadar Bram!” hatiku menggeliat. Tapi batinku tetap saja penasaran perihal gambar bibir dengan lipstik merah merona yang kudapat dikemejaku.
Memang ini terasa sungguh aneh untukku, karena dulu ketika SMA wanita-wanita cantik bisa aku dapatkan dan dirayu dengan gampang hingga mereka dengan mudah saja melabuhkan hati mereka padaku. Saat itu aku merasa populer seantero sekolah. Namun hanya satu wanita yang berani menolakku, Melati. Kau memang berkesan. Sial.
“Tapi kini aku malah ditaklukan oleh istriku sendiri” hatiku bergumam sendiri. “Apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur”.
Mungkin itulah karma dari yang maha kuasa yang menyadarkan aku dari kesombongan masa lalu  mungkin kini saatnya aku harus intropeksi diri dan lebih menghargai perasaan seorang wanita.
“Sudahlah Bram..” suara Rinu memecah lamunanku. Semua teman-teman mengajaku untuk menikmati indahnya pantai dihiasi dengan deburan ombak yang saling mengejar yang tak jauh dari gedung dimana Reuni sekolah dihelat.  Tentu saja pemandangan yang indah berlatar laut yang alami, bau khas pasir pantai, dan suara ombak yang saling berkejaran serta tiupan angin sangat menyejukan hati membuatku merasa tenang, senang juga tentram.  Sehingga membuatku lupa akan waktu yang lama telah berlalu. Ya, masa lalu yang tidak akan kembali diputar. Hanya memori yang mungkin saja bisa ditayangkan ulang. Itupun jika ingatan masih kuat. Kami masih merasakan jiwa muda meskipun usia sudah tidak muda lagi.
Lalu kamipun naik perahu bersama seolah tak ada kekhawatiran, ada kurang lebih 2 rombongan perahu, sebagian ada yang tak ikut dan malah bertukar cerita digedung reuni karena banyak sekali yang mengikuti reuni sekolah. Kami yang menaiki perahu menyebrangi laut untuk sampai kesebrang menikmati pasir putih yang bersih alami dan tentu saja panoramanya lebih memanjakan mata. Laut dan pantai memang selalu menawarkan keindahan pada siapa saja yang menikmatinya. Kita tertawa lepas tak ada beban pekerjaan yang menjadi tugas kita sekarang, untunglah karena ini waktu libur kami menikmatinya sebagai reward sebelum nanti berkutat lagi dengan pekerjaan.  Hari itu  yang ada hanyalah suasana hati yang asyik, masa-masa indah ketika sekolah kembali dikenang bersama teman- teman. Namun waktu rasanya bergulir begitu cepat ketika bersama orang- orang yang menyenangkan. Matahari telah kembali ke peraduannya, menenggalamkan hari cerah menjadi gelap langit malam bertaburkan bintang.
Akhirnya kamipun pulang dengan membawa sejuta kenangan dan biarlah kerinduan menjadi saksi perjalanan hidup kami. Cerita SMA memang akan selalu dikenang dan sekolah menjadi artefak kenangan tentang pertemanan, cinta, pengetahuan dan segalanya. Lantas setelah bersalaman dengan semua rekan- rekanku, aku berjalan menuju mobilku, menyalakannya lalu menutup pintunya rapat. Akupun menggas mobilku dan meninggalkan tempat reuni perlahan sambil memperhatikan sekitar karena banyak yang berlalu lalang menuju kendaraannya masing- masing untuk bergegas pulang. Semuanya bubar, namun kenangan sekolah tak akan bubar begitu saja. Lalu tanpa disadari ada seseorang yang kurasa tak asing dimataku ia melewati mobilku cepat dengan sedikit berlari dan langsung menuju mobilnya yang berwarna hitam metalik. “kayaknya aku kenal... tapi siapa?” aku bahkan memberinya klakson karena kaget tiba- tiba ia tepat melewati mobilku yang sedang melaju namun pelan.
Akhirnya aku berlalu pergi menjauh dari tempat itu. Hari ini kudapat cerita baru, bernostalgia dengan teman- teman tentang masa sekolah dulu dan menikmati liburanku yang sebentar. Tapi tetap saja aku masih penasaran tentang hal itu.  Tapi aku harus sadar toh hari ini aku rasanya tak melihatnya. Mungkin juga ia tak datang ke Reuni. Jika ada, aku mungkin bisa menyapanya tadi. Ah sudahlah. Setelah lama mobil melaju, aku lantas mendaratkan mobilku tepat dihalaman sebuah masjid bercat krem dengan hiasan kaligrafi yang sangat apik disetiap sudutnya. Aku mengambil wudhu untuk menunaikan solat magrib dan teringat ucapan Rinu tadi untuk mencuci bekas lipstik merah itu, dan aku mencuci kemejaku dengan air seadanya sebelum aku benar- benar pulang kerumah dan bertemu istriku. Aku tak ingin istriku mengajukan berjuta pertanyaan dan terjadi salah paham, padahal aku sendiri tak tahu siapa yang mendaratkan bibir merahnya tepat dibajuku. Ah tapi tetap saja aku penasaran akan hal itu. Namun biarlah ia yang telah menggoreskan lipstiknya di bajuku menjadi mistri saja dari perjalananku hari ini untuk selama-lamanya.
Penulis : EKA WIJAYA
LANJUTAN...
“Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
 Kan kujadikan kau kenangan
 Yang terindah dalam hidupku”
Suara nyanyian Bram melengking riang didalam kamar mandi. Ia berhasil menyanyikan sebait lagu Kenangan Terindah milik Samsons tersebut.
 Setelah sampai rumah ia bertemu istrinya lalu bergegas ke kamar mandi setelah mengambil baju kaos warna biru untuk dipakainya tidur. Ia tak langsung mandi malam itu, ia kekamar mandi untuk mengganti pakaian dan membersiahkan wajahnya.
“Gimana tadi reuniannya sayang? Seru gak?” tanya istrinya Rose pada suaminya yang terlihat sumringah. Wajah bahagia itu jelas terlukis dan tak bisa ditutupi oleh Bram.
Bram menaruh baju kotor tadi diwadah cucian, sementara Rose berdiri sambil menggengam gagang mug yang berisi coklat hangat favorit suaminya yang sudah ia buat saat Bram sedang mengganti pakaiannya.
“Emmm ya begitulah sayang seru- seru aja sih, nostalgia aja waktu zaman dulu,”
“Eh itu buat aku?” tanya Bram. Ia buru- buru mengalihkan pertanyaan itu pada segelas coklat hangat  yang terlihat masih mengepul agar pembahasan tak berlanjut panjang.
Tapi perasaan wanita mana yang bisa dibohongi. Feeling seorang wanita itu kuat. Ia bisa merasakan perbedaan yang terjadi meskipun itu sekecil ujung kuku. Wanita itu peka, perasa dan pemikir. Bahkan instingnya bisa tajam melebihi peramal sekalipun. Ah tapi percayalah pada Tuhan karena ia yang maha tahu segalanya. Insting seorang wanita itu kuat, sekuat pemangsa melihat buruannya. Wanita bisa merasakan manakala hatinya mulai dihianati. Seperti halnya yang dirasakan Rose sekarang kini. Pasti ada sesuatu hal yang telah terjadi yang membuat suaminya pulang dengan hati yang sangat senang lalu bernyanyi dikamar mandi dengan riangnya. Rose sangat yakin.
“Tak seperti biasanya” pekiknya dalam hati.
Ada sesuatu yang mulai mengganjal dihati Rose, ada yang berbeda, tentu saja ia merasa ada yang aneh. Rose bisa merasakannya. Namun semuanya tak bisa dijelaskan. Pikirannya mulai berkecamuk. Beribu tanya menghujani pikirannya dan kecurigaan menjalar dibenaknya.
“Oh iya tentu saja ini untukmu, lalu untuk siapa lagi” Rose tersenyum namun  sedikit kaku lalu menyerahkan minuman coklat itu pada Bram.
Bram segera menyuruputnya hingga habis.
“Eno sudah tidur?” tanya Bram. Kebetulan memang Reno anaknya sedang berada di rumah karena libur kuliah.
“Sudah tuh dikamarnya”
“Ayo kita juga tidur ini sudah malam” ajaknya pada Rose.
“Baiklah” seru Rose pasrah.
Tak ada percakapan lagi hingga keduanya terlelap tidur. Bram yang memang kelelahan karena menyetir mobilnya cukup lama langsung tertidur pulas. Sementara Rose masih merasakan sesuatu yang mengganjal dihatinya itu. Tapi setelah beberapa lama akhirnya ia tertidur juga.
Bram yang sempat tertidur, tiba- tiba terbangun karena kedinginan. Selimut yang melekat ditubuhnya tertarik oleh istriya hingga ia tak berbalut selimut lantas kedinginan. Tanpa mengganggu istrinya untuk menarik selimut, Bram memilih untuk mengambil selimut yang lain didalam lemari.
Lalu ia berbaring sambil menatap langit- langit kamarnya. Sekarang ia tak bisa tidur dan malah memikirkan bekas gambar lipstik yang ia dapat di reuni tadi.
“Melati.. haha lucu sekali..aku harap itu kamu Melati” serunya dalam hati.
“Apakah itu kau? Seperti apa ya kamu sekarang?”
Bram tak hentinya- hentinya mengingat tentang Melati, pikirannya mulai bercabang megenai masa lalu, masa- masa yang sudah lama mengendap didasar tiba – tiba menyembul kembali ke permukaan. Lampu temaram malam itu membuat suasana yang cukup mendukung untuk membuka memori masa lalu. Terlebih ia memang tak bisa tidur lagi setelah  terbangun tadi.
“Seandainya waktu itu kita benar- benar bisa bersama ya Mel.. mungkin sekarang yang berbaring disampingku bukan Rose, tapi kamu” Bram berandai.
“Aduh aku mikir apa sih sadar Bram lo udah nikah!!!” pikiran baiknya mulai menyelaraskan dengan kenyataan.
Melati memang sangat berkesan dihati Bram, Melati yang baik, periang, lugu, membuat Bram benar- benar menyukainya bahkan mencintainya. Sangat. Begitupun para lelaki satu sekolahan dulu juga sangat mengidamkan untuk bisa dekat dengan Melati atau bahkan jadi kekasih Melati. Tapi itulah Melati ia tak ingin dulu berpacaran dengan siapapun karena permintaan orang tuanya untuk fokus pada sekolahnya saja. Saat SMA memang cinta Bram ditolak oleh Melati, meskipun ia terbilang tampan disekolah dan semua perempuan juga menyukainya. Tapi hanya Melati yang mampu membuat Bram menjatuhkan hatinya begitu dalam. Pada akhirnya saat kuliah, mereka berhasil menyatukan kerajaan cinta mereka. Ya, mereka akhirnya menjalin tali kasih asmara bersama- sama, namun memang tak banyak orang yang tahu. Mereka benar- benar saling mencintai. Melati akhirnya luluh dengan usaha Bram saat itu yang tidak gentar untuk mendekatinya dan selalu memberinya perhatian.
“Mel aku ingin nikah sama kamu ya nanti setelah lulus kuliah pokoknya” ucap Bram serius, ia menggenggam tangan Melati lembut lalu tersenyum. Saat itu mereka sedang berada ditaman kampus.
Dikampus mereka lebih sering bertemu, dan bersama, ke perpustakaan bersama, ke kantin bersama, meskipun mereka berbeda jurusan. Setiap hari dunia rasanya milik berdua. Bram sering mengantar melati kemanapun menggunakan kuda besinya yaitu vespa berwarna biru muda. Itu vesva kesayangan Bram yang dibelikan ayahnya saat masih SMA.
Hingga  suatu hari kejadian besar yang menyedihkan tiba dan meruntuhkan cinta keduanya.
Saat itu setelah lulus kuliah, Bram berniat untuk menemui orangtua Melati, Bram ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Namun saat itu bagaikan petir di siang bolong. Ia mengetahui dari Melati sendiri bahwa ia sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
Tentu saja keduanya berontak, Melati tak ingin menikah dengan orang yang tidak ia cintai, dan Bram juga tak terima dengan hal itu. Sampai akhirnya mereka tak tahu harus berbuat apalagi karena Melati merasa sangat bingung.
“Mah pa aku gak mau nikah sama yang dijodohkan kalian, karena aku sudah punya pilihannku sendiri, yaitu Bram!!!”
“Bram siapa? Pokoknya kamu harus menikah dengan Rian. Dia anak temen papa, kalau kamu menolak kamu bisa mempermalukan papa Melati!lagi pula calon suamimu punya masa depan yang cerah ia seorang dokter” suara ayahnya meninggi kala itu hingga ayahnya terkena serangan jantung. Tak biasanya Melati ngotot dan berontak pada kedua orang tuanya, namun kali ini demi mempertahankan cintanya, ia berani berbuat seperti itu pada ayah ibunya. Melati benar- benar sedih, ia sangat mencintai Bram, namun disisi lain ia juga menyayangi orang tuanya. Perjodohan sialan itu sudah membuatnya merana. Tapi, tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak- anaknya. Tapi terkadang mereka tidak tahu apa yang menjadi keinginan anaknya. Bahkan menentang. Melati sudah dihadapkan atas dua pilihan, di makan ibu mati, tidak di makan ayah mati bagaikan makan buah simalakama. Melati menangis menjerit dalam hati, tak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain menuruti kedua orang tuanya. Saat itu ayahnya segera dibawa ke rumah sakit. Melati makin kacau. Rasanya ingin berteriak setinggi langit. Tapi ia tak kuasa. Sungguh dia berada dipersimpangan jalan yang tidak bertepi. Sedih, sakit hati, kecewa semua menjadi satu. Benar- benar membuatnya gamang dan perasannya perlahan hancur berkeping- keping.
Malam itu, Bram menyusul Melati kerumah sakit, ia ingin sekali bertemu dan melihat Melati. Melati yang saat itu mengantar ayahnya bersama ibunya, pergi meninggalkan ruangan tempat ayahnya dirawat dan menemui Bram ditaman rumah sakit.
“Melati, semoga ayahmu cepat pulih” suara Bram serak.
Melati terdiam, sesekali airmatanya berlinang ia benar- benar bingung dan sedih.
“Maaf Bram” ucap Melati tersedu.
Lalu tanpa ragu, Bram memegang tangan Melati. Lalu memberikannya cincin perak cantik didalam kotak merah.
“Mel, aku ingin kamu simpen cincin ini ya, boleh aku memakaikannya? Tadinya hari ini aku berniat untuk melamarmu Mel..tapi apalah dayaku Mel” seru Bram, air matanya menggenang dipelupuk mata.
Melati mengangguk pelan, lalu jari manisnya dipasangkan cincin perak bermata satu kenang-kenangan dari Bram.
Lalu Bram memeluk Melati erat. Dunia seakan berhenti berputar bagi keduanya. Dingin, haru, mencekam menjadi satu kesatuan. Malam penuh bintang seakan menjadi malam yang kelam. Air mata keduanya berjatuhan. Cincin perak itu kini telah melingkar manis dan menjadi saksi biksu perpisahan mereka ditempat itu. Mereka dua insan yang terpaksa harus terpisahkan.
“Sebentar saja Mel, aku ingin seperti ini”
Bram memeluk melati seolah tak ingin melepaskannya sama sekali. Tapi Bram tahu nanti ia tidak akan bisa melakukannya lagi karena Melati akan menikah. Dia akan menjadi milik orang lain.
Selang beberapa waktu, Melati dicari oleh ibunya, dan merekapun berpisah.
Sejak saat itu, Melati menjadi tertutup, ia lebih sering diam dirumah, dan jarang  berkomunikasi lagi dengan Bram. Ia harus mengikuti keinginan orang tuanya. Apalagi saat itu ayahnya masih belum sembuh. Namun cinta Bram dan Melati masih tetap ada dihati mereka masing- masing.
Setelah sekian lama tidak berkomunikasi. Akhirnya Melati memberanikan diri menelepon Bram.
“Bram.. sekali lagi maafkan aku..” suara Melati tampak berat ditelepon. Ia menangis sambil menelpon Bram. Melati sangat Rindu pada Bram. Tapi ia harus segera mengambil keputusan.
“Tidak Melati, sebenarnya aku masih berharap kamu menikah dengan orang lain. Tolong jangan lakukan itu” pinta Bram.
“Tapi Bram ini permintaan kedua orang tuaku, Bram asal kamu tahu aku sangat mencintimu”
“Aku juga sangat mencintaimu Melati”
“Bram..” melati tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya. Ia menghela nafasnya, mempersiapkan diri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
“Iya Mel..kenapa?”
“Bram.. mungkin ini terakhir kalinya aku menghubungimu, jaga dirimu baik- baik..semoga kamu bahagia selalu..kamu harus bahagia!!!”
“Melatiii tidaaaak aku tak bisa tanpamu” teriak Bram di saluran telepon.
Teleponpun terputus seketika itu juga dan saat Bram mencoba menghubungi nomor Melati lagi. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan” hasilnya nihil. Hanya ada suara operatornya saja. tanda bahwa telepon mati. Melati sudah menonaktifkan Handphonenya dan membuang kartu tersebut ke luar jendela kamarnya.
“Melati jangan menangis seandinya aku ada disana sekarang aku akan memelukmu dan menghapus air matamu” guraunya.
Melati memang sosok wanita yang baik, ia selalu patuh pada kedua orangtuanya. Akhirnya waktu itu tiba. Melati dan lelaki pilihan kedua orang tuanya menikah tanpa sepengetahuan Bram. Memang ada rasa keterpaksaan di pernikahan itu karena Melati hanya mencintai Bram begitupula Bram hanya mencintai Melati, wanita idamannya sejak masih SMA. Hubungan mereka terputus sejak saat itu. Setelah menikah, selang satu hari Melati harus ikut suaminya pindah ke luar kota. Karena seorang dokter, jadi suaminya harus pergi ke luar kota dan bertugas disana. Bram menjadi sulit untuk menemui Melati. Bahkan menelepon sekalipun sangat susah. Disisi lain Melati tak ingin menghianati suaminya, sebagai wanita yang baik ia juga harus patuh terhadap suaminya sekarang. Melati memantapkan hatinya untuk mencintai suaminya, Rian. Karena untuk sekarang lebih baik dicintai dari pada mencintai. Rian sendiri memang sudah lama menyukai Melati dan kebetulan ayahnya melati adalah rekan kerja ayahnya Rian. Akhirnya mereka dijodohkan, selain untuk mempererat bisnis, Rian memang sudah jatuh hati pada Melati sejak dari bangku SMA. Tapi semuanya tak ada yang tahu, karena seperti yang dilakukan Melati, Rian juga sibuk belajar demi mengejar cita- citanya menjadi seorang dokter.
Hati Melati sudah tertutup untuk siapapun, ia juga sedikit demi sedikit mulai melupakan Bram. Karena ia tahu Rian juga sangat mencintainya. Melati membulatkan tekadnya untuk menutup pintu hatinya untuk orang lain termasuk Bram. Kini ia akan mencoba untuk mencintai suaminya. Ya, bahkan ia sudah mencintainya.
Sementara itu Bram, ia tentu saja saat itu merasa hatinya terhempas, jatuh berkeping- keping. Tak ada kabar dari Melati selama bertahun- tahun. Membuat perasaanya terombang ambing bagaikan kapal karam ditengah laut. Hatinya seperti disayat sembilu karena mengetahui kenyataan bahwa Melati yang menjadi pujaan hatinya harus manjadi milik orang lain. Hidup Bram bagaikan kerakap tumbuh di batu. Hidup segan matipun tak mau. Padahal saat itu Bram sudah memberikan cincin pertunangan di bulan Desember. Namun tentu saja gagal. Karena orang ke tiga, Rian. Perjodohan yang membawa duka untuk cinta keduanya.
Waktu berlalu begitu saja. Tentang cerita cinta manusia yang tak bersatu, lalu cinta itu malah berlabuh pada manusia lain. Cinta memang tidak bisa ditebak. Tapi perihal apakah keterpakasaan bisa menjadi cinta, tidak ada yang tahu itu. Itu misteri hati. Karena sejatinya cinta memang dimiliki oleh hati setiap insan. Harapan Bram bersama Melati memang telah kandas. Sudah berada dikehancuran. Pada akhirnya Bram menikahi Rose istrinya sekarang, yang sebenarnya tak ia cintai, ia hanya sedih melihat Melati yang sudah menikah sementara dirinya masih terkatung- katung. Akhirnya karena panas hati Bram menikahi Rose. Sampai akhirnya karena Rose selalu bersikap baik, Bram juga mulai mencintainya. Begitupun Melati jauh diluar sana, ia sudah menerima Rian direlung hatinya. Sementara perasaannya untuk Bram terkurung bagaikan burung dalam sangkar. Perasaan itu tertahan oleh tembok kokoh. Kini hanya ada cinta untuk suaminya, Rian. Ya begitulah, kehidupan harus terus berlanjut, Melati kini sudah menjadi seorang guru di sebuah SMA, sementara Bram sudah menjadi pengusaha yang sukses.
Cahaya senja sudah menampakan dirinya, Bram baru selesai bekerja, ia lalu pergi ke super market untuk membeli pesanan istrinya. Namun tanpa disengaja ia bertemu dengan temannya semasa sekolah dulu, Cinta. Bram sedang asyik memainkan handphonenya sambil menunggu pesanan makanan untuk dibawa pulang. Lalu Cinta menghampirinya dengan menepuk pundak Bram perlahan.
Bram yang saat itu duduk terpaku pada layar handphonenya tentu saja kaget. Ia langsung menoleh.
“Tunggu..kamu..bukannya..” Bram mencoba menerka.
“Cinta..aku Cinta Bram, anak kelas XII IPA 5 dulu temannya Melati”
“Ohi ya Cinta, sedang apa kamu disini?” tanya Bram.
“Belanja lah,” jawanya sambil menunjukan keresek- keresek makanan persediaan bulanan di rumahnya.
“Kamu sendiri ngapain?” lanjut Cinta balik bertanya.
“Ini membeli pesanan istriku” seru Bram sambil mengunci layar HPnya lalu memasukannya ke saku depan kemejanya.
“Istri?” nadanya sedikit meninggi.
“Iya..” jawabnya datar.
“Ngomong- ngomong kamu menikah dengan siapa Bram?” tanya Cinta penasaran.
“Rose”
“Oh gitu..salamin ya.. eh Bram, kamu udah dengar kabar Melati lagi? Padahal kamu dulu sangat mencintai Melati, tapi sayang ia malah dijodohkan. Aku turut prihatin Bram.” Ucapnya lirih. Cinta memang teman dekat Melati. Jadi ia tahu segala hal tentang keduanya. Mereka juga satu SMA dulu.
Tiba- tiba saja Bram teringat kembali tentang Melati. Ia terdiam dan merenung.
“Ah iya, sejak saat itu dia malah sulit dihubungi dan entah dia dimana dan kemana sekarang. Sedih rasanya. Cintaku tragis sekali” Bram menghela nafas.
“Sabar Bram mungkin bukan jodohnya” lerai Cinta saat itu.
“Eh tapi kamu tahu kan dimana Melati, kamu kan sahabatnya” tukas Bram.
Cinta teridam, Cinta sebagai sahabat Melati sudah berpegang teguh untuk tidak membocorkan keberadaan Melati sekarang. Ia tentu saja tahu dimana Melati, karena Melati sering curhat padanya. Tentang kejadian itu dan tentang sekarang setelah bertahun” ia menkah. Mereka masih tetap berteman. Melati tak ingin mengusik kebahagiaan orang lain dan diusik oleh orang lain. Maka dari itu Melati sudah mewanti- wanti jika Bram bertanya tentang dirinya, jangan sampai dibocorkan. Cinta dan Bram memang tinggal satu kota. Tapi mereka juga tak pernah bertemu. Hingga hari ini waktu tiba dan membawa mereka untuk saling bercengkrama.
“Cinta, kamu tahukan dimana Melati saat ini?” Bram mengulang pertanyaannya. Ia sangat penasaran.
“emmmm” Cinta tampak ragu- ragu.
Namun Bram terus memaksanya. Ia tak kehabisan akal untuk tahu informasi mengenai Melati dan menanyakan keberadaan Melati saat ini.
Namun sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, begitu pula sepandai-pandainya Cinta menyimpan rahasia Melati, tetap saja terbongkar. Cinta tidak tega melihat Bram dengan wajahnya yang penasaran dan meohon-mohon padanya.
“Kalo gitu aku boleh minta nomor HPnya, ayolah tolong” pintanya pada Cinta.
Cintapun luluh dan memberikan nomor HP Melati pada Bram. Ia membawa HPnya yang berada di dalam tas berlogo Guccinya lalu memindai nomor Melati dikontak HPnya.
“Inih” Cinta menyerahkan HPnya pada Bram.
Bram dengan segera merogoh HP yang berada disakunya lalu segera memasukan nomor Melati ke kontaknya dengan bersemangat.
“Tapi Bram mungkin Melati sekarang sudah bahagia dengan suaminya, semoga kamu tak mengusik kebahagiannya” serunya gusar pada Bram.
“Tenang saja”
“Oh ya terimakasih nomornya. Aku pergi dulu.” Brampun pergi. Begitu juga Cinta ia segera menuju ke parkiran dan memasukkan semua belanjaannya kedalam mobil HR-V hitam metaliknya.
Dengan mendapatkan nomor Melati atas bantuan Cinta, kemudian suatu hari dihubunginya Melati lewat telepon. Awalnya ia ragu namun dengan sedikit tegang akhirnya Bram memberanikan diri untuk menelepon Melati.
Tak butuh waktu lama, teleponpun tersambung.
"Halo ..bisa bicara dengan Melati? ya...ada yg bisa saya bantu..” sahut seorang wanita dari telepon. Suara itu memang tidak asing ditelinga Bram. Lembut dan bersahaja.
Bram sedikit bergetar manakala kata- kata itu meluncur  disaluran telepon. Itu memang benar- benar Melati. Wanita yang dulu sangat ia cintai. Wanita yang dulu sempat menjadi kekasih hatinya.
“Melati” bisiknya pelan.
“Ya.. dengan siapa?” Melati penasaran.
“Melatiiiiiiiiii” seru Bram keras. Untung hari itu istrinya sedang tidak ada dirumah, Rose sedang pergi arisan bersama ibu- ibu komplek dan Bram juga sedang libur kerja. Sementara anaknya sedang kuliah jurusan kedokteran diluar kota dan pulang jika ada waktu luang.
“Bram” katanya pelan tapi pasti. Melati tanpa ragu langsung mengenalinya.
“Bumi ini seakan bergetar, seperti hatiku saat ini. Rasanya aku ingin melompat dan pergi untuk bertemu denganmu tapi ternyata jarak yg membatasi kita” serunya lirih.
"Bram...dari mana kau tahu nomor HPku?”
“Sudahlah Melati semua itu tak penting bagimu... tapi aku sungguh ingin bertemu denganmu..."
“Maaf Bram aku tak bisa..karena sekarang sudah berbeda.” Katanya tegas.
“Tapi Melati, apakah cinta kita sudah berbeda?”
Disana Melati hanya terdiam membisu.
“Mel..”bisik Bram pelan.
“Apakah masih ada cincin pertunangan yg dulu ku berikan padamu?”
 Melati terdiam lagi, tapi tangisnya meledak kali ini.
“Bram maafkan aku dulu cincin itu hilang, maafkan aku Bram. Aku bukan tak bisa menjaga amanatmu tapi itu murni kekhilapanku” Melati menghela nafas.
Bram kemudian mengganti mode voice call di aplikasi Whatsapp nya dengan mode video call. Ia tak sabar ingin melihat wajah Melati yang sekarang, setelah bertahun- tahun berpisah dan tak bertemu. Kemudian Bram memperlihatkan cincinnya yg satu lagi yang ia ambil dari laci lemari miliknya.
 “Lihatlah Mel ini punyaku masih tersimpan, tapi tidak aku pakai karena sama halnya dirimu sekarang aku juga sudah menikah dengan wanita lain” kini wajah mereka saling bertatapan di video call tersebut.
Wajah yang sudah lama tak saling bercengkrama. Bram masih tetap Bram, dan Melati masih tetap Melati. Meski sekarang wajah itu sudah dimakan usia. Tapi mereka tetap mengagumi satu sama lain. Memori indah masa lalu kembali terngiang, saat saat dimana mereka masih muda dan saat saat mereka masih menjadi sepasang kekasih yang saling jatuh cinta kala itu. Semuanya masih berkesan.
“Aku tahu” Melati terdiam, terlihat dari gambar video ia mengusap matanya karena sedikit berkaca- kaca.
“Bram.. maaf.. biarlah cincin itu yg hilang tapi hatiku masih tetap milikmu..hari ini dan selamanya..sampai hari menutup mata...Bram biarlah kita berjalan di persimpangan jalan namun hati ini tetap sama dari dulu, masih tetap milikmu..." jelas Melati.
“Iya..”kata Bram pelan.
Bagi Bram rasanya sudah tidak ada ganjalan lagi karena sekarang perasaannya sudah terobati, ia bisa menemukan Melati lagi dan bahkan melihat wajahnya di video call.
Bram sangat yakin cinta suci yang sejati tidak akan pernah mati. Tetapi itulah Cinta, kadang membuat kita menderita juga membuat bahagia. Bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
“apa perasaan itu masih ada Bram?” Tanya Melati.
“Ah...sungguh aku tak sanggup Mel, manakala mengingat semua kenangan kita. Sebab aku dulu merintis dari nol aku sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kita..sungguh Mel...aku jadi kuat, jadi hebat..berkat kau...yang sangat kucinta” Bram mengeluarkan isi hatinya yang belum tersampaikan.
“Duh Mel motor vespa yg dulu..masih ada tersimpan di gerasi rumahku. Ia masih setia menemaniku hingga sekarang, kita dulu sering jalan- jalan pake itu. Kadang aku menangisinya Mel. Aku laki- laki yang kuat tapi..kenyataannya..aku tak mampu berdiri sendiri tanpa kekuataanmu”
Sesekali Melati hanya tersenyum mendengarkan ucapan Bram.
“Kalau kau tak menanyakan kesetiaanku tak akan kujabarkan satu persatu kenangan bersamamu...sungguh..sampai detik ini aku masih berharap kamu menjadi istriku. Begitupula kamu berharap aku menjadi suamimu juga bukan? Itulah pertanyaan- pertanyaan yg selalu kutanyakan pada diriku sendiri Mel andai kamu tahu semua itu”
 “percayalah pasti ada satu laki- laki di dunia yang masih setia mencintai dan menunggumu sampai bertahun- tahun lamanya..yaitu aku..32 th yg lalu..kenangan manis itu masih terasa indah dipelupuk mataku, masih hidup, masih mewarnai relung hatiku yang paling dalam Mel”
“tentu saja Bram aku tahu itu, dulu memang indah sebelum perjodohan itu terjadi” Melati tersenyum ketir.
Melati dan Bram asyik menguak masa lalu dan kenangan- kenangan mereka dulu. Hampir satu jam mereka melakukan video call. Tanpa ada yang menganggu.
“Sekarang apalah artinya hidup bagi diriku seandainya kamu tak ada di sampingku..kamu terbaik bagiku, kamu gadis lugu yg selalu memberi cinta, kasih sayang terhadapku dan.. ibuku ia juga sangat sayang kepadamu.. kamu perhatian dan sungguh luar biasa...tapi mengapa kamu tak sanggup mempertahankan cinta kita? kenapa kamu malah memilih dia? Dan pergi begitu saja tanpa kabar lagi” Bram mulai merajuk. Ia sedih dan kesal. Namun sebenarnya tak ada yang bisa ia salahkan karena ini semua sudah takdir dan sudah digariskan Tuhan padanya dan Melati.
“Bram..sudahlah..” pekik Melati.
“Andai kamu tahu betapa terlukanya hatiku saat itu.. aku juga tak sanggup hidup tanpamu saat itu..tapi..sungguh andai tidak ada orang ke 3 yang masuk kedalam hubungan kita, tentu kita akan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Maafkan aku Bram..cintaku tulus suci dan murni tak terganti walaupun batu karang berdiri diantara kita. Cinta kita tak akan terkikis oleh waktu dan itu akan selalu menjadi hal terbaik bagi kita berdua” Melati mencoba menangkan Bram.
“Ya..Allah..apakah itu yg dinamakan cinta sejati..tanpa saling menyakiti?”
Mereka terjebak dalam lautan kebingungan. Namun nyatanya perasaan Melati dan Bram masih terukir indah di dalam relung hati mereka yang paling dalam.
Hari itu mereka selesai berbicara lewat video call. Saling mencurahkan kerinduan, isi hati dan kenangan- kenangan masa lalu yang kembali mencuat. Mereka tidak tahu apakah itu adalah sebuah dosa atau bukan karena pada kenyataannya sekarang mereka telah memiliki pendamping masing- masing. Tapi perasaan itu benar- benar masih ada. Tak bisa dibohongi. Apalagi hati selalu jujur dengan apa yang benar- benar sedang dirasakan. Kerajaan cinta mereka yang tak terbangun membuatnya masih menaruh harapan, mimpi dan keinginan yang tak sempat terwujud. Tapi mereka berdua juga tak bisa berbuat apa- apa. Cinta memang gila.
Dilain hari, tiba-tiba ponsel Melati berdering. Ada panggilan masuk. Bram.
"Hallo..bisa bicara dengan Melati?” serunya bercanda.
“Aku tahu kamu Bram, aku sudah save nomormu” Bram menelepon Melati di jam istirahat sekolah selepas solat Dzuhur.
“Oh ya kamu sedang istirahatkan?” Bram sudah tahu melati adalah seorang Guru di salah satu sekolah di kota Bandung.
“Iya lagi free nih, ada apa Bram?” tanya Melati ditelepon.
“Tidak aku hanya ingin meneleponmu saja Mel”
“Ngomong- ngomong kamu hari itu ikut reuni kan Mel?” Bram belum sempat menyakan soal itu, karena waktu itu ia sibuk mengingat kenangan masa lalu. Dan Ia masih penasaran akan hal itu sampai detik ini. Tentang gambar bibir dengan lipstik merah dikemajanya. Ia masih berharap itu memang Melati.
“Reuni?” seru Melati heran.
“Iya reuni sekolah SMA kita dulu”
Melati tak bergeming.
“Hey”
“Oh.. yang tanggal 20 Desember kemarin itu?” Melati merespon setelah bergelut dengan pikirannya.
“Iyaa yang itu, aku kok gak lihat kamu.. tapi aku yakin pasti itu kamu ya? harusnya kamu menyapaku Mel..bukan hanya meninggalkan bekas saja dibajuku itu” gerutu Bram pada Melati.
“Bekas apa? Aku tak mengerti maksudmu haha” Melati tertawa renyah.
“Ituloh lipstik kamu kan menempel dikemejaku, kamu sengaja ya Mel? Haha” Bram ikut tertawa.
“Aku gak tahu Bram soal itu” Melati membela diri. Karena ia memang tidak tahu. Tapi Bram malah kekeh dengan pernyataannya.
“Gaktau bagaimana ah kamu lupa kali”
“Eh Mel kata kamu, kamu kan punya anak perempuan, bagaimana kalau anak aku Reno..kita jodohkan saja dengan anakmu Amanda setuju gak?” tanya Bram.
“Perjodohan? Aku trauma haha bagaimana jika ia tak bahagia sama sepertiku dulu dan merasa terpaksa” jelas Melati. Ia tak ingin anaknya merasakan hal yang sama.
“Hmm iya juga tapi...Mel kau tidak akan kecewa karena anakku seorang dokter, pasti akan nyambung  dengan suamimu dokter Rian itu..” ucap Bram sambil meledeknya.
“Ah kamu bisa aja, aku jadi malu dan sedih..sudahlah biarlah mereka tidak harus tahu hubungan kita dulu. Yang penting untuk melanjutkannya biarlah anak- anak kita yang meneruskan cinta kita. Dan suatu saat kita kenalkan anak- anak kita.. Tapi biarlah mereka menentukan pilihan hatinya..apakah mau di lanjut atau tidak” jelas Melati serius.
“Iya aku setuju, tapi pada akhirnya nanti biarlah itu hak mereka, jika mereka saling suka ya syukur” seru Bram.
“Oh ya dan soal lipstik itu aku tidak tahu menahu Bram, karena aku tidak ikut reuni hari itu aku sedang liburan ke rumah orang tua suamiku di Jakarta.” Jelas Melati soal lipstik merah yang dimaksud Bram.
“Apaaa?” Bram kaget. Selama ini dia berharap bahwa gambar bibir dengan lipstik merah itu adalah milik melati. Selama ini ia hanya terobsesi. Dan pada akhirnya mendapati kesalahpahaman dan kenyaan pahit. Melati di hari reunian sekolah itu memang tidak datang.
“lantas milik siapa itu?” gumamnya dalam hati.
“siapa yang mendaratkan bibirnya dibajuku ya?”
Pikiran Bram mulai memuat kembali kejadian hari itu, perempuan yang buru- buru lewat didepan mobilnya memang tidak asing. Ia sengaja lewat didepan mobil Bram untuk mencari perhatian Bram. Namun Bram tidak menyadarinya. Ia hanya berpikir itu adalah milik Melati. Padahal yang sebenarnya gambar kecupan bibir merah itu adalah milik seorang wanita yang dulu sangat menyukainya di SMA. Wanita itu tak pernah berani bercerita kepada siapapun, ia hanya memendamnya sendirian. Wanita itu takut jika ada yang tahu tentang perasaannya. Mungkin bisa saja melukai orang terdekatnya. Bahkan mungkin Bram sendiri juga tidak akan percaya jika Cinta, yang juga sahabat Melati menaruh hati padanya sejak lama. Hari itu Cinta datang ke reuni sekolah, ia sempat melihat Bram, namun Bram tak mengenalinya karena semua orang tampak berbeda. Hari itu Cinta tidak sengaja mendaratkan bibirnya di kemeja Bram, karena disana berdesakan untuk saling bersalaman. Karena yang ikut reuni memang satu angkatan. Namun Cinta tentu saja masih mengenali wajah Bram meskipun sekarang sudah tak muda lagi. Ia masih tetap keren seperti dulu.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Misteri Lipstik di Bajuku"

Post a Comment