Sanksi Yang Mendidik



Oleh : Agus Suwanda,S.Pd.



SMKN Tegalbuleud berdiri 15 tahun yang lalu tepat pada tahun 2004 yang silam dengan  kategori SMK kecil yang menginduk pada SMPN Tegalbuleud sebagai sekolah rintisan kejuruan, pada saat itu hanya terdiri satu kompetensi keahlian Pengolahan Hasil Perikanan atau (TPHPi). Setiap kepala sekolah tentunya memiliki misi untuk mengembangkan lembaga yang dipimpinnya agar tumbuh menjadi sekolah yang besar sesuai dengan kriteria Sekolah berstandar nasional (SSN).
Keberadaan sekolah ini hanya  bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau memanfaatkan jasa transportasi  ojek  (motor) tidak ada pilihan transportasi umum lain yang lebih murah dan efektif. Letak domisili siswa yang menyebar di pelosok bukit  dan berjauhan, memungkinkan bagi  siswa siswi datang terlambat ke sekolah, kurang lebih sepuluh siswa setiap harinya datang terlambat karena alasan “Klasik” rumah jauh dari sekolah, harus jalan kaki.
Pada satu sisi perlu menumbuhkan kedisiplinan para siswa agar terbiasa  tidak datang terlambat dengan di beri punishment (sanksi) mulai dengan teguran lisan supaya datang tepat waktu sampai pemanggilan orang tua untuk membangun jalinan harmonis sebagai tanggung jawab bersama, di sisi lain sanksi atau hukuman yang diberikan bagi para pelanggar harus yang bersifat mengedukasi (Mendidik) dan efektif,  sehingga menciptakan kesadaran  yang bermanfaat bagi diri siswa yang sering mendapat sanksi, kalau tidak mau pasal kekerasan anak menjerat  dan  menodai sekolah (dunia pendidikan),
Terinspirasi dari permendikbud tentang gerakan literasi sekolah dan moto sekolah SMART school atau sekolah cerdas yang digagas oleh kepala sekolah yang  tertuang dalam KTSP, kepala sekolah selalu senantiasa mendorong para guru untuk tidak memberi sanksi yang tidak  mendidik atau sanksi kekerasan fisik serta tidak bermanfaat, munculah inovasi punishment yang dianggap mengedukasi  bagi      siswa yang melanggar, mereka diberi sanksi membaca buku, mereka bebas menentukan buku yang disukainya, mulai dari buku islami, novel, puisi, mapel dan lainnya yang telah tersedia, ini jauh akan memberikan kontribusi positif dalam minat baca mereka.
Dengan sajian buku yang mereka sukai dan sesuai dengan karakter perkembangan psikologinya, diharapkan akan menumbuhkan kesadaran  budaya membaca sehingga kalau sudah terbangun kesadaran membaca dan menjadikan literasi  sebagai kegemaran, tentunya membaca bukan lagi suatu punishment  melainkan achievement yang berguna bagi mereka.
Di akhir punishment ini, siswa harus membuat resume dari buku yang dibacanya, mengisi jurnal Gerakan Literasi Sekolah, dengan menuliskan nama sendiri, judul buku, isi bacaan dan halaman yang dibaca. Meskipun terkesan  Punishment yang mengedukasi ini  seolah olah mengaharap  agar siswa datang terlambat sehingga melaksanakan kegiatan GLS, namun sejatinya esensi  dari  hukuman ini   membiasakan sanksi bagi siswa yang terlambat dan melanggar aturan lainnya  dengan hukuman yang memberi  nilai positif dan memperoleh predikat Literat sejati meskipun karena sanksi. Siswa yang terlambat juga memiliki hak dan kewajiban yang sama di sekolah, mereka harus patuh terhadap aturan sekolah dan mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan pendidikan optimal. Sanksi merupakan bentuk konsekuensi dari aturan yang dilanggar, pada saat mendapatkan sanksi,  siswa tersebut kehilangan kesempatan belajar materi tertentu di dalam kelas, untuk mengejar ketertinggalannya,  siswa tersebut di sanksi membaca buku tertentu dan pelajaran. Sanksi itu dianggap lebih humanis dan relevan.  mereka bukan pesakitan, mereka peserta didik yang perlu dibina agar aturan di patuhi, haknya juga terpenuhi.


Agus Suwanda, Lahir di Sukabumi 10 Maret 1977 dari dua saudara, Lulusan Sastra Perancis UNPAD dan pendidkan Bahasa inggris STKIP Pasundan. Mengabdi di SMKN Tegalbuleud sejak 2008.
No Rekening BRI 3455-015159-53-9


Editor: Iwan Al-aswad 



























Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sanksi Yang Mendidik"

Post a Comment