Balada Yatim Piatu Penghuni Asrama Putri

oleh Lilis Yuningsih

Selesai menghadap memenuhi panggilan-Mu di siang itu
Tak terbendung air mata ini
Menganak sungai ....
Semakin lama semakin membuncah bak air bah

Mungkin ini tangisan pilu seorang nenek
Seusai berkunjung ke desamu, Nak
Desamu yang berjarak 3,8 Km saja dari sekolah kita

Kami menyusulmu, Nak
Ingin tahu kenapa gerangan, tak jua kembali ke asrama putri, tempat kita biasa bernaung bersama?

Sepenggal cerita tentangmu, Nak
Yang tertutur dari adik nenekmu

Ibu dan nenekmu lama sudah tiada
Menyusul mereka, tak lama ayahmu pun pergi
Dua kakak lelakimu telah cukup sibuk dengan keluarga kecilnya
Kakak perempuanmu demikian pula
Dia tengah berjuang di negeri orang dengan bekal hanya ijazah SMP-nya, juga demi keluarga kecilnya ....

Tapi tetaplah bersyukur, Nak
Kepala desa di kampungmu cukup peduli dengan mengirimmu ke asrama putri ini, ke sekolah harapannya ini ....

Memang, Nak pasti tidak mudah
Berkumpul di tempat yang menurutmu banyak aturan
Perlu hati sabar dan jiwa besar, ketika datang kerabat, dari kebanyakan teman-temanmu, menengok mereka

Sedangkan kamu, Nak, hanya bisa melihatnya dengan tatapan hampa

Ayah, ibu, nenek, kakak mereka, bergantian datang.
Sedangkan kamu, Nak, hanya bisa gelisah dalam penantian tak berujung

Tetaplah bersyukur, Nak
Kepala desamu mengkhawatirkanmu, dan coba selamatkan salah satu warga kecilnya ....
Tuk selamatkanmu dari iming-iming dunia kerja yang ditawarkan orang-orang penjual manusia pada remaja belia seusiamu

Bersyukurlah, Nak, kamu terdampar di sini
Kami, guru dan teman-temanmu sayang padamu
Biarlah ayah, ibu, dan nenekmu tenang di alam sana
Jadikanlah lbu ini ibu atau nenekmu, Nak
Jika kamu rindukan mereka

Bersemangatlah, Nak, songsong masa depan penuh harapan ... tuk merubah nasib menuju kehidupan yang lebih baik .

Indramayu, Oktober 2016
Sepulang Home Visit ke Desa Rawa Dalem

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Balada Yatim Piatu Penghuni Asrama Putri"

Post a Comment