DIA YANG TAK TERLIHAT


oleh: Amelia Zuniar 
Siswi kelas IX F di SMPN 3 Limbangan.

Pagi hari yang cerah dengan burung burung yang bertebaran di atas langit biru kekuningan, itu menandakan bahwa aku harus segera pergi ke tempat mencari ilmu. Seperti biasa, aku pergi menaiki angkutan umum beserta teman-temanku yang lain. Sesampainya di sekolah, sang langit merubah warnanya menjadi abu-abu, pertanda bahwa akan turun hujan, karena memang sudah pada musimnya. Akupun melakukan aktifitas seperti biasanya dan mengikuti KBM secara normal.
Kring ... kring ... kring ...!
Tepat pada pukul 10.00, bel istirahatpun berbunyi. Namun sang langit masih saja menunjukkan warna yang sama seperti tadi pagi.
"Dari tadi mendung mulu sih, tapi hujannya gak turun-turun, duh," celetuk Amar dari belakangku.
Beberapa saat kemudian, setelah Amar mengatakan itu, hujan pun turun sekaligus dengan sangat derasnya.
"Nah, ini hujannya turun juga, Mar," kata Dilan sambil menyingkirkan sepatunya agar tidak basah terkena air hujan.
Semua murid memutuskan untuk berdiam diri di kelas, karena mau jajan pun jauh, nanti malah basah kena air hujan, mending diam saja.
"Astagaaa, lapar banget nih. Ampun...!" teriak Indra yang sedang duduk.
"Ya ela, cuma begitu doang. Lebay amat, sih jadi orang," gerutu Imam.
"Lupa tadi gak sarapan, makanya laper," jawab Indra sambil menjitak Imam.
Hujan tak kunjung berhenti, yang ada malah semakin membesar dan menimbulkan angin yang besar juga. Murid-murid semua diam. Membosankan, tak ada hal yang bisa dilakukan lagi. Tiba tiba...
“BRUKK …!!!”
Rapli terpeleset karena ada air yang menggenang di belakang, ya, ternyata genteng bocor.
Spontan semua menertawakan Rapli. Amar sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Rapli yang sangat lucu. Jujur akupun ikut tertawa. Dan ... DUARRR........!!! suara petir yang menggelegar membuat kami terkejut dan menghentikan kebisingan yang terjadi. Kami saling tatap dan mengucap istigfhar. Petir itu suaranya sangat keras hingga sampai menimbulkan cahaya ungu di dalam maupun luar ruangan. Petir menyebabkan mati lampu, ruangan yang tadinya terang, tiba-tiba menjadi gelap, padahal ini masih pukul 10.20. Kamipun memutuskan untuk ber-sholawat dan membaca Al Quran karna takut terjadi apa apa.
Setelah satu jam kami ber-sholawat dan membaca Al Quran, hujan masih belum reda juga dan gurupun tak ada yang masuk.
Aku menutup kitab Al quranku dan melamun sambil melihat ke bawah. Cukup lama aku melamun, sampai tiba-tiba aku mendengar seseorang menangis tersedu-sedu. Suaranya berada di atas. Akupun menoleh ke atas walau sedikit merinding. Aku melihat di atas sana hanya ada sarang laba-laba.
"Huh, sangat mengecewakan. Kukira aku akan melihat hantu, ternyata sarang laba-laba," kataku di dalam hati. Tapi aku masih saja mendengar suara tangisan itu. Aku melihat sekelilingku, tidak ada yang aneh. Teman-temanku masih mengobrol seperti biasanya. Aku pikir mungkin ini hanya halusinasiku saja.
Tiba-tiba meja guru yang ada di depan kelas, bergeser sendiri. Walaupun hanya bergeser sedikit, itu sukses membuat kami terkejut bukan main. Lalu ada suara kakek-kakek. Siti yang berada di dekatku, langsung menggenggam erat tanganku dan berkata setengah berbisik,
"Mel, kok meja itu bergerak sendiri, ya?"
"Mana aku tahu? Aku juga kan dari tadi di sini," jawabku dengan suara yang aku kecilkan.
Semua terdiam tak ada yang mau bicara, apalagi bergerak menghampiri bangku itu.
"PRANKKKKK...!!!" Teriak Reza yang muncul dari dekat meja guru sambil tertawa terbahak-bahak.
"Gak lucu, Monyet!" kata Amar.
"Yaa, Amar penakut, hahaha. Cuma gini doang," balas Reza dengan tawanya yang terbahak- bahak.
"Za , ini bukan masalah takut atau engganya, kamu gak boleh ngebecandain kaya gini. Bahaya, lho, apalagi berhubungan dengan mistis. Gimana nanti kalau kejadian yang sebenarnya," kata Hasbi dengan penuh emosi.
"Iya, maaf. Aku kan pengen menghibur kalian doang, dari pada bengong mulu, kan gak seru," kata Reza sambil cemberut.
"Ya, ga gini juga kali caranya!" celetuk Sitnur yang berada di depanku.
"Iya, iya, maaf ...." kata Reza.
Aku langsung spontan bertanya, "Terus tadi siapa yang nangis?" tanyaku pada Rapli penuh keingintahuan.
Suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi sedikit memanas. Amar yang kesal beserta teman-teman yang lainnya membiarkan Reza. Dan Reza pun meminta maaf.
"Terus, tadi siapa yang nangis?" tanyaku masih penasaran.
Sontak Reza menoleh ke arahku dengan wajah yang mengerutkan jidatnya.
"Tadi itu ketawa bukan nangis, Ameliaaaaa ...." kata Reza dengan sedikit kesal.
"Iya tahu tadi kamu ketawa, tapi sebelum  meja guru bergeser, aku denger ada suara tangisan, tapi suaranya bersumber dari atas," kataku meyakinkan.
"Iiih, apaan sih, Amel. Jangan becanda, deh" gerutu Nayla.
"Ya ampun,  aku gak bercanda. Kan kata Hasbi juga gak boleh gitu, gak baik," bentakku pada Nayla. Semuanya kembali terdiam dan …
"Assamualaikum anak-anak."
Seorang guru memasuki ruang kelas kami. Kami terkejut, dan buru-buru duduk di tempat masing masing.
"Waalaikum salam," jawab kami serentak.
"Ini ada apa, kok kaya ada yang aneh?" tanya Pak Agus kepada kami.
Raplipun menjelaskan panjang lebar apa yang barusan terjadi.
"Anak-anak, kalian harus percaya adanya makhluk halus, tetapi kalian jangan termakan dengan semua hal yang belum tentu kebenarannya. Dan yang terpenting, jaga ucapan kalian, jangan Sompral," kata Pak Agus dengan suara sedikit tegas. Kamipun mengiyakan apa yang dikatakan beliau.
Apa yang tadi bapak bicarakan menjadi pikiran untukku. "Kenapa bapak bicara seperti itu? Sepertinya ada hal yang mengganjal," tanyaku dalam hati. Aku memutuskan untuk membicarakan ini lebih serius kepada teman-temanku setelah jam pelajaran pa Agus usai.
"Mam, aku masih heran, deh, sama apa yang bapak bicarakan tadi," kataku pada Imam.
"Aku juga sama. Sepertinya ada yang aneh, deh," jawab Imam. Lalu datang Dini menghampiriku. "Lagi pada ngapain, sih? Serius amat, ikut gabung, dong."
"Ini lho, Din, yang tadi bapak ceritain, kayaknya kok rada-rada aneh gitu, ya," jelasku pada Dini.
"Hmm au ah, aku mah takut nyeritain kayka beginian, hhi …," kata Dini sambil pergi.

Jam sudah menunjukan pukul 15.00 WIB, waktunya semua murid sekolah bubar. Amanda yang dari tadi pagi diam, membuatku penasaran dan mendorongku untuk bertanya padanya.
"Man, kenapa sih diem mulu dari tadi. Ayo cepet pulang atau mau nginep di sini?" tanyaku dengan sedikit tawa. Manda hanya tersenyum dan mengangguk, aku pikir dia sedang tidak enak badan saja.
"Manda, ayo pulang bareng," ajak Renisa sambil menghampiri Manda.
Manda masih saja tetap diam tak menjawab. Aku dan Renisa pun saling tatap dengan raut wajah yang mengisyaratkan bertanya kenapa? Aku hanya menggelengkan kepalaku saja.
“RAPIKAN KEMBALI MEJANYA!” teriak Indra Sang KM ganteng.
"Ya ela, ntar juga berantakan lagi sama hantu-hantu di sini, hehe," celetuk Odang dari arah belakangku.
"Kalo ngomong tuh jaga! Jangan sompral gitu, dong!" emosi Ndin (panggilan buat Dini A) mulai naik.
"Ih, becanda doang, sewot amat, sih," jawab Amar.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
Terdengar suara tangisan di pojok kelas. Sekarang bukan hanya aku yang mendengar, tapi semuanya mendengar. Kami saling bertatapan dan terdiam.
"Kata Pa Agus juga apa? Kalo ngomong, tuh, jangan sompral, jadinya gini, kan!" tiba-tiba Solihin pun marah pada Indrian, memecah keheningan.
"Aaaaaaaaa.....!" Milea berteriak sambil lari terbirit-birit keluar. Spontan semuanya pun ikut takut dan keluar lari, begitupun dengan diriku sendiri.
Tapi tidak dengan Manda. Ia masih terdiam di dalam kelas dan ketika kami melihat kembali ke dalam kelas, rupanya Manda terlihat sedang berbincang dengan seseorang. Tapi … di dalam kelas itu hanya ada Manda seorang. Kamipun memutuskan mendatangi Manda bersama sama.
"Manda kamu berbicara dengan siapa?" tanya Hasbi yang mewakili kami.
"Ini temanmu, Hasbi," jawab Manda dengan suara yang pelan.
"Dia tidak terlihat, Manda!" teriak Dwi yang ketakutan.
"Ya iyalah gak keliatan, orang aku ngomong sendiri," jawab Manda datar.
Kami sangat terheran-heran dengan apa yang Manda katakan.
"Iya maaf, tadi yang nangis itu, aku. Aku diem di bawah, di sini (kolong bangku). Aku sakit gigi. Gigiku bolong, hiks .... Aku gak jawab pertanyaan dari Renisa sama Amel itu, ya karena aku susah jawab gara-gara giginya sakit, hehe …. Maaf, ya."
"Lah terus kenapa kamu sekarang bisa ngomong. Kan tadi enggak, gegara sakit gigi?" tanyaku.
"Sekarang mah udah mendingan, hehe."
"Ya ampun, Mandaaa …. Bikin kita tegang aja, deh," keluh Dina yang berada di sampingku.
Huh, ternyata suara tangisan itu, bukan suara hantu atau apalah. Kami pun merasa lega karena kebenarannya sudah terungkap.
"Kata Pa Agus, kita gak boleh sompral itu, agar bicaranya dijaga, tidak asal ngomong,” celetuk Hasbi. Kami pun paham dengan apa yang dikatakan Hasbi.
Tapi …. Siapa dong yang tadi nangis pas ssebelum meja bergeser? Jangan-jangan ....  Aah sudahlah, aku tak menghiraukannya lagi, mungkin aku hanya berhalusinasi saja.***

Disunting oleh Nurlaela Siti Mujahidah.

Penulis, dengan nama lengkap Amelia Zuniar Nur Zahra adalah siswi kelas IX F di SMPN 3 Limbangan. Lahir di Garut, 14 Juni 2005, memiliki hobby berpuisi, menggambar dan berpetualang. Tulisan ini dibuat secara spontan sebagai jawaban atas tantangan wali kelasnya untuk membuat buku bersama. Mudah-mudahan tulisan teman-temannya yang lain menyusul.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DIA YANG TAK TERLIHAT"

Post a Comment