GURU MODEL KPK PLUS K



oleh RASTO, M.Pd.
(Guru SMA Negeri 1 Terisi-Indramayu)

Guru berprestasi adalah guru model yang menjadi panutan bagi murid-muridnya dan menjadi inspirasi bagi teman-teman sejawatnya, dalam bekerja. Guru model juga seorang pendidik yang profesional yaitu bekerja sesuai dengan profesinya. Profesi berasal dari bahasa latin "Proffesio"  yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan, bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan "apa saja" dan "siapa saja" untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik. Guru Professional yaitu seorang guru, yang ahli dalam bidang keilmuan yang dikuasainya dituntut bukan hanya sekedar mampu mentransfer keilmuan ke dalam diri anak didik, tetapi juga mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik, maka bentuk pembelajaran kongkret dan penilaian secara komprehensif diperlukan untuk bisa melihat siswa dari berbagai perspektif.
 Guru Model mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru Model juga menguasai kompetensi   (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memili kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk mencapai jadi guru model bukan pekerjaan yang mudah, penulis memiliki konsep dimana guru harus mampu menjadi sosok seorang KPK plus K (Karakter, Prilaku dan Karya plus Komitmen).
Pertama, Karakter. Kata "karakter" berasal dari kata Yunani: charaktêr, yang semula digunakan sebagai tanda terkesan atas koin. Ada pula yang memaknai karakter berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Dalam hal ini penerapan budaya malu sangat tepat, artinya menerapkan budaya malu jika tidak melakukan sesuatu yang baik misalnya malu karena orang lain cepat datang, malu karena orang lain berhasil, atau mungkin malu karena siswa lebih pintar internet, dll. Dengan menerapkan budaya malu pada diri sendiri akan membuat kita berfikir rasional sehingga membantu kita dalam memahami orang lain.  
Kedua, Prilaku. Prilaku merupakan hasil dari produk intelegensi seseorang. Mengandung arti kemampuan dari seseorang untuk  bertindak dengan penuh tujuan, berfikir rasional dan menghadapi lingkungan dengan efektif. Bertindak dengan penuh tujuan mengandung arti prilaku harus mempunyai arah dan tujuan tertentu, yakni ia harus mempunyai motif. Banyak dari kita bertindak tidak dengan tujuan yang jelas. Mengikuti irama atau keinginan orang lain sehingga tidak menimbulkan pikiran positif terhadap kehidupan. Berfikir rasional mengandung pengertian rasio dan pemahaman penting agar tercipta cara berfikir yang positif, jika kita memiliki fikiran positif tentang diri kita sendiri hal itu akan membantu kita mengembangkan kita berfikir rasional sehingga membantu kita dalam memahami orang lain. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk selalu berpikiran positif, berbuatlah sedaya mampu kita, jangan hanya jadi penonton atau sekali-kali hanya menyalahkan apa yang dilakukan orang lain. Kompetensi Inti (KI 2) dalam kurikulum tahun 2013  yaitu mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan duniaDalam hal ini penerapan prilaku harus dimulai dari diri pribadi guru itu sendiri.. Aplikasinya sebagai contoh guru ingin menerapkan disiplin kepada siswa, maka kita sebagai guru yang harus lebih dulu disiplin. Ketika kita melarang siswa tidak boleh merokok di lingkungan sekolah, maka sebagai guru model kita tidak boleh merokok dilingkungan sekolah dan dilihat oleh peserta didik. Satu perbuatan akan lebih bermakna bagi peserta didik daripada seribu kata-kata yang tidak diimbangi dengan contoh keteladanan.
Ketiga, Karya. Karya adalah wujud dari cipta dan rasa manusia yang diwujudkan dalam bentuk benda yang bisa dilihat dan dirasakan oleh orang lain keberadaannya. Karya yang dimaksud oleh penulis adalah akumulasi karakter, kepribadian dan prilaku. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh guru model untuk mewujudkan karyanya seperti; dengan membaca dan memahami banyak jurnal atau makalah ilmiah lainnya dalam bidang pendidikan yang terkait dengan profesi guru, maka guru dengan sendirinya dapat mengembangkan profesionalisme dirinya. Selanjutnya untuk dapat memberikan kontribusi kepada orang lain, guru dapat melakukan dalam bentuk penulisan artikel/makalah karya ilmiah yang sangat bermanfaat bagi pengembangan profesionalisme guru yang bersangkutan maupun orang lain. Guru model  juga bisa melakukan penelitian tindakan kelas yang merupakan studi sistematik yang dilakukan guru melalui kerjasama atau tidak dengan guru lain dalam rangka merefleksikan dan sekaligus meningkatkan praktek pembelajaran secara terus menerus juga merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme guru. Kegiatan ekstrakurikuler guru model bisa diwujudkan dengan menjadi pembina kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Paskibra, PMR, Pencinta Alam, Olah Raga Prestasi dan juga pembina Karya Ilmiah Remaja(KIR) atau Olimpiade Sains, yang ending-nya akan membawa prestasi sekolah. Guru yang sukses salah satu indikatornya adalah peserta didik yang dibimbing, dibinah dan dilatihnya meraih prestasi yang lebih baik daripada gurunya, karena setiap siswa mempunyai potensi yang berbeda yang perlu dikembangkan secara optimal. Guru  model juga harus berperan aktif di kegiatan kemasyarakatan seperti menjadi anggota BPD, LPM atau bisa juga pengurus RT/RW, sehingga keberadaan guru model dimasyarakat juga bisa dirasakan manfaatnya.
Keempat, Komitmen. Kata komitmen mempunyai makna kesungguhan terhadap apa yang sudah direncanakan serta dilakukan secara terus menerus. Komitmen juga sebagai keselarasan antara niat didalam hati, perkataan, dan perbuatan sehingga adanya “keajegan” dalam kehidupan. Kaitannya dengan kurikulum tahun 2013, yang paling menentukan berhasil atau gagalnya pelaksanaan K13 adalah adanya komitmen guru dalam merubah paradigma dalam proses pembelajaran. Komitmen juga harus tertanam dalam diri guru model, yang diawali dari adanya visi, misi serta tujuan yang terukur sebuah sekolah yang disosialisasikan dan harus didukung dari seluruh steakholder sekolah – dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, tata usaha dan siswa – berhasil atau tidaknya suatu visi dan misi serta tujuan sekolah ditentukan oleh seluruh sistem organisasi yang ada.
Harapan penulis dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru, untuk menjadi guru model, maka adanya reward dan funishmen bagi guru yang terencana. Sehingga guru termotivasi untuk bersaing secara sehat dan sportif. Selama ini penulis merasakan masih kurangnya perhatian kepala sekolah selaku pimpinan, sehingga para guru merasa “kurang” termotivasi untuk berkarya.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GURU MODEL KPK PLUS K"

Post a Comment