I’M TEACHER, I’M WRITER

oleh Utiyah








E:\Picture\Famy\2017\My Wife\IMG-20171109-WA0005.jpg


Menjadi seorang guru sudah menjadi cita-cita  saya semenjak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Simple saja, kenapa dari kecil saya bercita-cita menjadi guru, karena pada waktu itu sering kali saya ditugaskan guru saya untuk sekedar menggantikan beliau menulis di papan tulis bahkan sampai membantu beliau mengoreksi hasil ulangan teman-teman. Hal ini terus berjalan sampai saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Memikirkan cita-cita merupakan salah satu cara untuk menjalani hidup ini agar lebih terarah --- . Ya mungkin ini alasan kenapa seorang guru sering menanyakan cita-cita siswa-siswinya---. Mungkin beberapa teman atau siapa pun akan merasa biasa saja ketika mendengar ada orang yang bercita-cita menjadi seorang guru, mungkin dalam benak mereka menjadi seorang dokter, polisi, pilot atau profesi lainnya lebih kedengaran “wah”. Apa pun itu pendapat orang lain, keinginan saya menjadi seorang guru masih tetap kuat. Di samping karena saya tinggal di kampung kalau mendengar cita-cita yang profesinya jarang dilihat merupakan hal yang tabu, misal cita-cita menjadi Chef, Pengacara, Desainer, Arsitek dan lainnya. Karena bagi kami, orang dengan profesi Chef, Pengacara maupun Desainer itu hanya milik orang-orang perkotaan.
Menggapai sebuah angan dan cita-cita memang tidaklah mudah, semua butuh proses. Menyadari kenyataan bahwa saya terlahir dalam lingkungan keluarga petani sesekali membuat saya tidak percaya diri untuk menggapai cita-cita tersebut. Tapi hayalan menjadi seorang guru terus saja melintas dalam benak dan anganku. Tidak disangka dan tidak diduga dari berhayal inilah muncul hobi yang entah sejak kapan saya rutin melakukannya, saya mulai hobi atau  senang banget dengan kegiatan membaca dan menulis. Dengan membaca, hayalan kita akan terarah lho. Karena dengan membaca kita bisa berhayal memasuki dunia yang sedang kita baca, menjadi tokoh dari yang kita baca. Begitu pun dengan hobi menulis, dengan menulis kita bisa menuangkan segala hayalan kita ke dalam tulisan yang kita tulis.
Berkembangnya zaman, meluasnya berbagai informasi pengetahuan dan pengalaman bergaul membuat saya sedikit banyaknya, mengetahui banyak hal yang  sebelumnya tidak saya ketahui. Sebagai anak yang tinggal  di perkampungan dan di lingkungan petani, kami …. saya khususnya … hanya mengetahui kalau cita-cita itu seputar menjadi guru, dokter, polisi, dan profesi lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan yang sering kami lihat. Tapi ternyata cita-cita tak sebatas itu, yang membuat saya terkagum-kagum dan penasaran ada sebuah profesi yang baru saya dengar yaitu menjadi seorang penulis, jurnalis atau apa pun itu sebutannya yang berhubungan dengan kegiatan tulis menulis.
Rasa keingintahuan saya tentang profesi sebagai penulis/jurnalis … akhirnya terbayarkan saat saya memasuki dunia perkuliahan. Entah ini namanya kebetulan atau apa pun itu di awal perkuliahan/masa-masa OSPEK saya diperkenalkan dengan sebuah Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) yang bernama Fatsoen, yaitu UKM yang membahas segala tentang jurnalis dan dunia tulis menulis. Tiba-tiba saja, saya merasa bahwa ada harapan dan bahkan mungkin ada cita-cita baru yang muncul dalam benak saya. Pada saat itu juga saya bercita-cita ingin menjadi seorang jurnalis dan penulis.
Eits, ... tunggu dulu, seiring berjalannya waktu, saya memang semakin suka dengan dunia tulis menulis. Hobi saya membaca dan menulis semakin menjadi. Dengan ikut UKM tersebut saya getol untuk menulis berita, opini, resensi, cerpen atau tulisan lainnya yang bisa dimuat di media UKM tersebut. Ssaat itu  ada koran kampus bernama “Methoda”. Sejalan dengan itu entah kenapa cita-cita saya untuk menjadi seorang guru tidak pernah terlupakan. Selain memang pada saat itu saya sedang menempuh perkuliahan Tarbiyah dan Ilmu pendidikan, tepatnya jurusan Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan Agama Islam (T-PAI) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.
Dalam benak saya saat itu, saya ini kuliah di bidang pendidikan guru tetapi kegiatan saya di luar kuliah saya, tulis menulis dan berkutat dalam dunia jurnalisme (yang identik dengan pers). Apakah tidak akan bertolak belakang? Jadi guru itu mulia, saya juga suka. Tetapi jadi penulis juga keren, terkenal, saya pun suka. Lantas apa yang saya pilih?
Suatu ketika saya pernah mendengar ucapan seorang penulis dalam sebuah acara infotainment di salah satu stasiun televisi katanya begini: “Menjadi seorang penulis itu, bukan saja sebagai profesi. Karena profesi apa pun seseorang tidak menjadi hambatan untuk bisa jadi penulis. Dokter misalnya, ketika dia sedang tidak praktik maka dapat menyempatkan waktunya itu untuk menulis, menulis pengalamannya menjalani praktik dokter dan lain sebagainya. Begitu pun dengan profesi lainnya. Makanya siapa pun orangnya, apa pun profesi atau pekerjaannya, dia dapat pula menjadi seorang penulis.”
Lalu bagaimana dengan profesi guru? Dokter saja yang berkutatnya dengan alat-alat medis bisa punya kesempatan menjadi penulis. Apalagi dengan guru yang setiap harinya berkutat dengan buku dan pena, dua alat manual yang digunakan untuk menulis. Lalu apa yang bisa ditulis guru? Banyak sekali.
Secara awam mungkin pekerjaan menulis bagi guru, hanya seputar mengabsen dan menilai ulangan siswa. Setelah memasuki dunia perkuliahan ternyata saya ketahui bahwa banyak juga kegiatan tulis menulis yang dilakukan seorang guru. Diantaranya menyusun administrasi pendidikan, mulai dari merinci pekan efektif, menyusun Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prosem), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan masih banyak lainnya. Kesemua admnitrasi itu kalau kita telaah dan kita pahami sebenarnya membuat administrasi pendidikan sama saja seperti membuat skenario pendidikan, dengan membuat administrasi pendidikan kita (sebagai seorang guru) bisa mengatur jalannya pendidikan supaya lebih terarah. Kegiatan pembelajaran pun bisa lebih kreatif dan inovatif.
Salah satu tokoh pendidikan yang menyebut administrasi pendidikan sebagai skenario pendidikan adalah Bapak Munif Chatib. Dan tidak dipungkiri bahwa bekal saya untuk menjadi guru salah satunya adalah dari karya buku beliau yang judulnya pun beda dari buku-buku lainnya seperti, buku Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Sekolah Anak-anak Juara, serta buku-buku beliau dengan berbagai judul “Quantum”nya.
Pendidikan itu memanusiakan manusia, begitu Pak Munif menuliskan dalam salah satu bukunya. Bahwa mendidik itu harus dengan hati, objek yang kita hadapi adalah makhluk bernyawa maka sudah sewajarnya memperlakukan peserta didik layaknya makhluk hidup yang dinamis dan beragam. Pendidikan pun tidak kaku, tapi luwes namun tetap terarah. Hal inilah yang membuat saya mencoba menjadi Gurunya Manusia.
Tahun 2012, saat saya masih duduk di bangku perkuliahan semester 4 saya mendapatkan kesempatan mengajar di salah satu DTA di daerah Cirebon yaitu di DTA Al-Aziz Cipeujeuh Kulon Kabupatrn Cirebon. Tempatnya lumayan jauh dari kampus dan kos tempat saya tinggal, jadi saat itu ketika ada jadwal mengajar saya selalu menginap di tempat saudara saya yang memang dekat dengan sekolah tempat saya ngajar. Mulai dari situ saya mencoba mempraktikkan apa yang saya tahu tentang pendidikan dari materi perkuliahan sampai buku-buku yang pernah saya baca, terutama bukunya Pak Munif Chatib.
Dalam mengajar saya ingin menciptakan suasana yang menyenangkan dan berkualitas. Tidak ada lagi siswa yang “takut atau sungkan” kepada gurunya. Karena jika guru sebagai panutan “ditakuti” maka saya pastikan tidak akan ada komunikasi yang baik antar guru dan siswa, pembelajaran pun tidak akan efektif. Dan salah satu hal yang penting dalam diri seorang guru yaitu tidak pernah memandang siswa-siswinya itu bodoh. Karena setiap siswa itu berbeda, setiap mereka adalah istimewa. Seorang guru harus paham dengan sebutan Multiple Intellegent (kecerdasan yang beragam). Dan terlebih bahwa tujuan pendidikan bukan hanya tentang tingkat nilai pengetahuan, tetapi lebih dari itu kita harus mampu mendidik peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan emosional dan spiritualnya.
Entah kebetulan atau tidak, selama pengalaman mengajar dalam satu kelas ada saja satu atau beberapa siswa yang memang harus ditangani khusus, baik dalam segi pengetahuan ataupun emosionalnya. Dan jika kita telaah dengan baik-baik, anak-anak yang kurang dalam pendidikan atau bisa dikatakan tertinggal dari teman-teman lainnya itu banyak dipengaruhi beberapa faktor, terutama faktor lingkungan, baik di keluarga atau masyarakat atau lingkungan terdekatnya.
Sebagai seorang pengajar dan mahasiswa, saya sadar dalam persiapan mengajar guru harus menyiapkan administrasi pembelajaran. Salah satunya yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Saat itu saya belum mendapatkan contoh RPP untuk DTA atau sederajat, tetapi berbekal mata kuliah yang memang pada semester itu sedang  adanya mata kuliah “Pengembangan Kurikulum”, sedikitnya saya mengetahui contoh RPP secara umum. RPP yang saya buat pada saat itu saya sesuaikan saja dengan keadaan sekolah. Dan yang menjadi acuan buat saya adalah bahwa dalam RPP itu harus ada skenario pembelajaran. Dimana dalam RPP, ,  umum ditulis sebagai langkah-langkah pembelajaranyang jelas.
Selain administrasi formal yang harus saya buat sebagai laporan program kerja saya ke pihak sekolah, saya pun membuat skenario pembelajaran untuk pegangan pribadi saya. Dalam skenario tersebut saya membuat format seperti daftar nama siswa, identifikasi kecerdasan siswa, moment spesial yang terjadi saat pembelajaran dan pengalaman-pengalaman mengajar saya yang perlu saya catat sebagai bahan pembelajaran sendiri guna mengenal karakteristik masing-masing peserta didik.
Kesemua administrasi tersebut tetap saya buat sampai saya mengajar di SMP IT Mutiara Irsyady Pekandangan Jaya Indramayu. Saya masuk pada tahun ajaran 2015/2016. Selain sebagai guru Mata Pelajaran PAI (mata pelajaran pokok) saya juga mendapat tugas mengajar pelajaran mulok yaitu pelajaran Qur’an. Tidak hanya itu, saya juga mendapat kepercayaan untuk menjadi wali kelas di kelas siswa baru yaitu di kelas 7B. Dengan berbagai tugas yang saya emban ini membuat saya lebih bersiap-siap untuk menyiapkan segala sesuatunya. Sebagai guru mulok saya berusaha menyesuaikan administrasi pembelajaran dengan materi yang  akan disampaikan pada siswa jenjang SMP yang kiranya materi itu tidak akan membosankan untuk disampaikan tanpa mengurangi esensi dari mata pelajaran tersebut.
Sebagai wali kelas, ini kesempatan saya untuk belajar mengembangkan kembali administrasi pembelajaran pribadi saya seperti yang telah disebut di atas. Saya mulai mengaplikasikan  format-format tersebut di kelas 7B sehingga sebagai wali kelas saya ingin benar-benar memahami karakteristik mereka. Dan untuk format identifikasi kecerdasan siswa saya pergunakan untuk masing-masing peserta didik yang saja  ajar. Hal ini bertujuan agar saya mampu memahami gaya belajar siswa yang berbeda-beda. Diharapkan jika peserta didik diajarkan dengan gaya belajar sesuai karakter mereka akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual terlebih saya sendiri  sebagai guru agama yang sedikit banyaknya harusmampu menjaga akhlak para peserta didiknya.
Dengan mengenal dan memahami karakter siswa maka dengan sendirinya kita sebagai guru akan merasa dekat dengan siswa kita tetapi tetap pada batasannya. Dengan seperti ini maka siswa akan betah di sekolah dan label “orang tua ke-dua”yang disematkan kepada guru untuk siswanya benar-benar akan terwujud. Siswa akan dengan mudah mencurahkan isi hatinya kepada gurunya terutama jika ada permasalahan di sekolah sehingga guru akan dengan mudah mengetahui masalah siswa dan bisa bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut. Hal tersebut yang saya rasakan dari beberapa murid saya, mereka dengan terbuka dan tidak senggan menceritakan apa yang mereka rasakan di sekolah. Dan tidak hanya itu, dari mereka bahkan selalu cerita tentang masalah pribadinya, dan bahkan keluarganya. Sebenarnya ini sangat membantu kita sebagai guru untuk mengetahui latar belakang keluarga dari siswa-siswi kita (tanpa harus mencampuri urusan keluarga lebih jauh, hanya sebatas membantu sesuai dengan porsinya). Sedikit banyaknya hasil belajar siswa juga dipengaruhi karena latar belakang keluarga dan lingkungannya.
Dari pengalaman sering mendengarkan cerita siswa, maka jika ada masalah pada siswa saya tidak sungkan untuk menghubungi orang tua mereka untuk sekedar konsultasi atau berkunjung ke rumah ataupun homevisit. Dan Alhamdulillah selama 3 tahun menjadi wali kelas pada anak yang sama, saya bisa mengenal keluarga dan orang tua mereka. Bahkan karena mungkin usia saya yang terbilang masih muda  ada juga orang tua siswa yang menganggap saya seperti anaknya. Namun tetap kita sebagai guru harus profesional dalam menjalankan tugas sebagai guru.
Pelajaran yang bisa saya ambil dengan banyak berkomunikasi dengan siswa-siwi, orang tua siswa, rekan kerja dan bahkan elemen sekolah lainnya seperti para pedagang di sekolah membuat saya banyak tahu informasi. Menjadi pendengar untuk celotehan mereka membuat saya mencoba memahami berbagai karakter orang. Membuat saya belajar banyak hal dan bahwasanya saya harus tetap rendah diri supaya bisa membumi dengan yang lainnya. Dengan banyak mendengar dan melihat, kita akan banyak belajar Dengan banyak menulis, kita berharap tulisan kita bisa bermanfaat untuk khalayak banyak (semoga-Insya Allah).



Penyunting : Lilis Yuningsih

Biodata Penulis
Utiyah, lahir di Indramayu pada tanggal 16 bulan Agustus tahun 1991 saat ini aktif mengajar di salah satu Sekolah Mengengah Pertama (SMP) swasta di Indramayu, tepatnya di SMP IT Mutiara Irsyady Pekandangan Jaya Indramayu. Yaitu sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendidikan terakhir, penulis tempuh di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon dan lulus pada Oktober 2014.
Selama kuliah, penulis berkesempatan untuk mengajar di beberapa TK/TKQ/MDTA di Cirebon. Dan setelah lulus kuliah tidak langsung bekerja sebagai guru. Satu bulan setelah kelulusannya sebagai sarjana pendidikan penulis mendapat tawaran bekerja menjadi wartawan/reporter di salah satu redaksi majalah lokal di Cirebon yaitu di kantor redaksi Majalah Qalby (sekarang bernama Majalah Kirana), majalah yang bertemakan tentang perempuan dan keluarga. Tawaran ini penulis terima karena memang secara pribadi, penulis menyukai dunia jurnalis dan tulis menulis.
Saat sekolahnya mengikuti program WJLRC, Literasi Jabar, penulis yang diberi tanggung jawab sebagai penanggung Jawab program GLS di sekolah tempatnya mengajar, berhasil membawa dua orang siswa SMP IT Mutiara Irsyady menembus Jambore Literasi pada tahun 2017. Penulis juga termasuk guru pendamping yang berhasil lulus menjawab tantangan menyelesaikan membaca sepuluh buku dalam sepuluh bulan, sebagai salahsatu program WJLRC.
 

Editor: Lilis Yuningsih

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "I’M TEACHER, I’M WRITER"

Post a Comment