KETIKA ILMU MENDAHULUI AKHLAK DI ERA DISRUPSI TEKNOLOGI


 Big data technology for business finance Premium Photo

oleh Yati Mulyawati

Yatimulyawati654321@gmail.com




Wacana tentang era revolusi Indoustri 4.0 sedang hangat dibicarakan. Sebuah perubahan yang sangat bombastis terjadi, ditandai oleh otomatisasi teknologi di semua bidang, salah satunya adalah bidang teknologi informasi. Saat ini, dunia seolah-olah berada dalam genggaman. Bila diibaratkan selembar kertas, kecanggihan teknologi abad ini bagaikan kertas yang dilipat dan terus di lipat hingga bersatu dalam lipatan paling kecil. Artinya, batas ruang aktifitas menjadi bukan masalah besar lagi, bahkan sama sekali bukan merupakan masalah. Hanya dalam satu pijitan nomor-nomor telpon maka kita bisa mendengar suara bahkan wajah dari orang yang hendak kita ajak komunikasi. Hal tersebut tentunya secara disadari atau tidak,sangat mempengaruhi pola interaksi masyarakat dunia. Sistem kerja kolektif pun bisa dilakukan dalam ruang yang berbeda, namun pekerjaan yang harus diselesaikan bersama bisa diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan. Kemudahan-kemudahan tersebut menjadi sebuah ciri kehidupan manusia modern di semua belahan dunia.
Akses informasi pun bukan merupakan sebuah kendala bagi manusia modern di dunia. Kita bisa mengakses informasi perkembangan dunia dari chanel-chanel televisi.Kita cukup memindahkan saluran-saluran televisi tersebut hanya dengan memijit remote control televisi. Kemudahan akses informasi tersebut dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Tentunya generasi muda Indonesia yang berada di lingkungan ini sangat merasakan perkembangan teknologi tersebut. Oleh karenanya, sangat tidak heran apabila banyak dari kaum generasi muda yang termasuk dalam generasi Z (igeneration), lebih memilih mengotak-atik perangkat teknologi daripada yang lainnya. Mereka pun lebih memilih profesi menjadi vlogger dan youtuber. Mereka lebih memilih menjadi seorang bos bagi dirinya sendiri daripada bekerja konvensional dengan mengabdikan diri kepada perusahaan atau lembaga pemerintahan, yang terikatoleh jam kerja,dan menuntut rutinitas yang tidak berubah. Mereka mencoba untuk membebaskan diri dari kungkungan pikiran yang dipabrikkan. Target masa depan, mereka tentukan dan perjuangkan sendiri. Setidaknya pilihan mereka tersebut menjadi alternatif pekerjaan yang mulai dilirik oleh generasi muda Indonesia lainnya di era ini. 
Inspirasi tersebut tidak selamanya berpengaruh positif. Tidak jarang industri kreatif tersebut dimanfaatkan oleh beberapa generasi muda Indonesia yang mengharapkan perhatian masyarakat luas dengan mengunggah hal-hal yang tidak bermanfaat. Mereka sangat bangga bila hal negatif yang dilakukannya, diketahui oleh banyak orang dan mendapat label “viral”. Sebuah kata yang membius dan memicu daya keinginan untuk di puja dan dipuji oleh masyarakat banyak. Seperti peristiwa yang kemarin terjadi di sebuah sekolah swasta di Gresik. Seorang siswa nampak menarik kerah baju seorang guru, lalu meledeknya, tertawa keras sambil merokok di dalam ruangan kelas. Sejumlah siswa lainnya, nampak ikut tertawa dan mengolok-olok guru tersebut yang terlihat tidak berdaya. Salah seorang siswa mengabadikan peristiwa tersebut dan mengunggahnya di media sosial hingga menjadi “viral”. Peristiwa tersebut benar-benar menjadi perhatian masyarakat. Dunia pendidikan seperti mendapat bogem mentah karena perilaku siswa tersebut jauh dari yang diharapkan. Secara kasat mata masyarakat memberi tanggapan negatif yang bermuara pada satu simpulan, yaitu, dunia pendidikan Indonesia gagal membentuk karakter generasi muda abad 21 yang bermartabat di era revolusi industri 4.0.
Semestinya, seorang pelajarbisa menunjukkan sikap hormat kepada guru sebagaimana mereka menghormati kedua orang tuanya. Guru adalah sosok pentransfer ilmu yang posisinya adalah orang tua bagi siswa di sekolah. Berdasarkan undang- undang  No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosesn Bab I pasal 1 No. 1 menyatakan bahwa, “ Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.  Ketujuh tugas pokok tersebut harus dilaksanakan oleh guru dengan baik. Untuk mewujudkannya, maka diperlukan strategi yang baik untuk mempersiapkan kegiatan belajar, mulai dari pengkondisian kelas yang salah satunya adalah mempersiapkan mental dan pengetahuan dasar siswa sehingga kondisi kelas kondusif. Dalam kondisi yang normal, pengkondisian kelas tentu hal yang tidak terlalu berat, namun bila dilihat dari peristiwa yang terjadi di sekolah swasta di Gresik, seperti terjadi degradasi mental melanda siswa di sekolah tersebut, sehingga terjadi penurunan kualitas karakter. Haltersebut merupakanpotret buram dunia pendidikan Indonesia. Ternyata dengan menggenjot angka-angka nilai sebagai syarat kelulusan, pada akhirnya memunculkan sebuah kenyataan,bila ilmu ternyata telah mengalahkan akhlak. Padahal pada era revolusi industri 4.0, yang ditandai dengan adanya disrupsi teknologi, sangat dibutuhkan sosok generasi muda yang memiliki etos kerja dan etos budaya yang baik seperti ; (1) kerja keras, (2) disiplin, (3) kerja tuntas, (4) tak mudah menyerah, (5) jujur, (6) sopan, dan (7) hormat kepada orang tua.
Sikap hormat kepada orang tua dan guru sebenarnya merupakan warisan adiluhung budaya Indonesia. Naskah Siksa Kanda ng Karesian (Kropak 630) memaparkannya sebagai berikut, “Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki. hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado, wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. (Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan, siswa tunduk kepada guru; petani tunduk kepada wado; wado tunduk kepada mantri, mantri tunduk kepada nu nangganan; nu nangganan tunduk kepada mangkubumi; mangkubumi tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata; dewata tunduk kepada hiyang. Ya itulah yang disebut dasa prebakti)”. Maksud dari kalimat tersebut menunjukkan bila terdapat hierarki pengabdian yang harus dilakukan oleh manusia. Kalimat tersebut ternyata masih relevan diterapkan oleh genarasi muda Indonesia saat ini, salah satunya adalah seorang anak harus patuh kepada orang tuanya, seorang siswa harus patuh pada gurunya.
Era disrupsi benar-benar sukses mengacak-acak pola tatanan lama kehidupan manusia modern di seluruh dunia. Meskipun penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dinyatakan sebagai tiket untuk bergerak dan hidup di era ini, namun seharusnya tidak mengacak-ngacak pola perilaku generasi muda Indonesia, apabila mereka memiliki kekuatan dan ketahanan mental yang baik. Kekuatan mental tersebut bisa dimiliki melalui tiga aspek, diantaranya adalah : (1) pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang dianutnya, (2) pemahaman dan penguasaan sejarah lokal dan nasional, dan (3) pemahaman kearifan lokal budaya bangsa.  Bila ketiga aspek tersebut bisa dikuasai oleh generasi muda Indonesia, niscaya, mereka akan siap terjun dalam pusaran era disrupsi teknologi bukan sebagai penonton dan pengguna, namun mereka bisa menjadi pencipta, pengembang, dan menguasai pemasaran dunia.

  


 *)Yati Mulyawati, lahir di kota Bandung tanggal 7 September 1978. Saat ini berprofesi sebagai tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Ciawi Kabupaten Tasikmalaya, dan sebelumnya pernah mengabdikan diri di SMP Negeri 4 Padaherang dan SMK Negeri 1 Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di beberapa surat kabar dan majalah.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KETIKA ILMU MENDAHULUI AKHLAK DI ERA DISRUPSI TEKNOLOGI"

Post a Comment