MENITI HARAPAN DI PANTAI TEGUR


oleh Ani Hanifah


Pagi Senin itu, tepatnya tanggal 14 Nopember 2016, merupakan hari pertamaku berangkat ke tempat tugas yang baru. Sebuah sekolah yang lokasinya dipesisir pantai, jauh dari kota Indramayu. Orang sekitar menyebutnya dengan blok “Tegur”, berada di desa Pabean Ilir kecamatan Pasekan. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, selain itu juga jalan yang dilalui masih berupa tanah yang berbatu. Terbayang di benakku betapa sulit jalan yang harus dilewati disaat hujan. Pasti licin karena tanah yang basah dengan batu yang besar-besar.  Setelah tiga puluh menit perjalanan ku tempuh, sampailah aku di SMP Negeri Satu Atap 1 Pasekan. Sekolah yang masih satu pintu masuk  dengan Sekolah Dasar. Pada samping kiri dan belakang gedung sekolah nampak kolam untuk ternak ikan (atau yang biasa disebut empang)  dan setelah empang nampak  pantai . Aku disambut oleh pak Sutrisna   kepala sekolah yang akan digantikan tugasnya olehku . Bangunan SMPN Satu Atap 1 Pasekan ternyata hanya memiliki empat ruangan, tiga ruang untuk kelas dan satu lagi  ruang untuk kepala sekolah, guru, tenaga administrasi sekolah (TAS), perpustakaan, dapur, koperasi dan lain lain. “Maklumlah namanya satu atap“, begitu ucapan Pa Sutrisna, saat melihat aku tersenyum melihat ruangan serba guna ini.
Bel masuk berbunyi, “ Bapak, ibu tolong siapkan anak-anak untuk upacara bendera”. Kudengar Pa Trisna memberi komando kepada guru dan TAS.Sepuluh menit kemudian dilapangan kulihat siswa yang jumlahnya kurang dari Sembilan puluh siswa berbaris , sungguh jauh perbandingannya   dengan sekolah yang kutinggalkan dulu dengan jumlah siswa sekitar sembilan ratus siswa.
Aku berdiri disamping Pa Trisna, yang bertindak selaku pembina upacara, kutatap satu persatu siswa, guru dan TAS, “Ya Allah berilah aku berkah dan kemudahan untuk memimpin mereka” doaku saat itu . “Mampukah aku  memimpin mereka lebih baik dari kepala sekolah sebelumnya?” tanyaku dalam hati. Karena aku baru diangkat menjadi kepala sekolah, pengalaman baru menjadi pemimpin , aku sadar masih harus banyak belajar, mungkin di sekolah kecil ini aku akan mendapatkan banyak pelajaran sebagai seorang leader.
Dalam sambutanya, Pa Sutrisna memperkenalkan diriku kepada warga sekolah, bahwa aku adalah orang yang akan menggantikan beliau.Sosok pa Sutrisna yang tinggi tegap sungguh sosok pimpinan yang ideal dari segi fisik, sedangakan aku wanita yang punya tubuh agak pendek. Perasaanku mengatakan mereka meragukan aku dapat menggantikan beliau dengan baik. Tapi aku tidak kecil hati dan yakin seiring berjalannya waktu nanti,  aku dapat menunjukkan anggapan  seperti itu adalah keliru.
Setelah selesai upacara, warga  sekolah dari mulai siswa, guru, TAS menyalami Pa Sutrisna sebagai tanda pelepasan dan berakhir masa tugasnya di SMPN Satap 1 Pasekan. Ada  satu siswa laki-laki dan satu TAS yang menangis dipeluk pa Sutrisan, aku terharu dan merasakan betapa berat meninggalkan siswa dan teman-teman yang sudah bertahun-tahun selalu bersama,  banyak kenangan yang pasti tidak akan terlupakan.
Selesai upacara aku diajak ke  ruang serba guna untuk diperkenalkan kepada guru dan TAS. Ternyata semua guru dan TAS masih honorer , hanya penjaga sekolah yang PNS. Betapa miris hati melihat keadaan ini, mampukah aku membawa sekolah ini bisa maju dengan guru yang masih honor dan masih belum banyak pengalaman , umumnya baru 2 atau 3 tahun lulus kuliah, bahkan ada satu guru yang masih proses kuliah S1.
Setelah kami saling berkenalan, Pa Sutrisna menyerahkan seluruh dokumen sekolah yang sebetulnya saat itu belum waktunya serah terima dokumen karena sekolah belum verifikasi. Namun karena beliau ingin segera menyelesaikan tugasnya, akhirnya aku terima.
Hari kedua aku sampai kesekolah pukul 06.45, belum ada satu siswa dan guru yang hadir di sekolah, kecuali penjaga sekolah. Sampai pukul 07.00 baru siswa satu persatu datang dengan tidak memberi salam apalagi bersalaman, baru sekitar pukul 07.30 siswa  berdatangan, padahal bel masuk pukul 07.00. “Subhanallah...” aku melihat, ternyata banyak siswa putra yang rambutnya bagian depan panjang  di cat warna merah dan biru. Padahal  saat upacara kemarin tidak kulihat siswa dengan rambut di cat warna seperti itu. Ternyata siswa-siswa tersebut kemarin tidak mengikuti upacara. Aku sapa mereka dengan senyum dan salam, mereka dengan cuek menerima salam dariku. “Sungguh luar biasa perilaku siswa siswa ini” gumamku dalam hati, “Sabar..sabar...sabar...” gumamku, ini salah satu tantangan yang harus kuatasi, mengubah perilaku anak-anak pinggiran pantai yang umumnya orang tua mereka nelayan. Kondisi geografis dari kehidupan nelayan yang terbiasa mengahadapi pantai dengan cuaca panas, sepertinya berpengaruh pada perilaku  mereka. Mereka nampak mempunyai perilaku yang keras dan temperamen, inilah tantangan  yang kuhadapi, bagaimana merubah mereka menjadi siswa yang berperilaku sopan dan santun.
Kegiatan pertama setelah bel berbunyi ialah membaca Al-Qur’an (masih zuz amma) dipandu seorang siswa  dari ruang guru. Hanya dua orang guru yang baru datang dan itupun satu orang guru adalah wakil kepala sekolah, tidak mengajar di jam pertama. Sehingga saat mengaji, ada satu kelas  tidak didampingi guru. Akhirnya aku masuk ke kelas IX yang belum ada guru pendampingnya. Tenyata di sekolah ini belum ada satupun Al-Qur’an, entah kenapa?
Dihari pertama aku mulai menjalankan tugas sebagai kepala sekolah ini, banyak hal yang membuatku terharu dengan kondisi sarana belajar siswa yang sangat minim. Tidak memiliki buku pelajaran untuk pegangan siswa, guru pun hanya mengandalkan buku LKS (Lembar Kerja Siswa) dalam kegiatan PBM (Proses Belajar Mengajar). Air dalam bak di kamar mandi kosong, meskipun sudah pasang  PDAM. Namun bila siang hari air PDAM di daerah ini  tidak mengalir, mungkin karena lokasi yang cukup jauh. Keadaan di lapangan olah raga tidak ada satupun tiang net. Dan masih banyak hal lain yang kutemukan dan kuanggap menjadi PR besar, bagaiamana mengatasinya. Sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan khususnya di Indramayu perlahan namun pasti, dapat terwujud. Dijam ke lima, aku minta semua guru dan TAS kumpul diruang guru untuk rapat koordinasi.
Kuingat pesan dari seorang pengawas disekolah yang dulu, bahwa diawal aku menjalani tugas baru, jangan pernah membandingkan dengan sekolah lama. Cukuplah dicatat  dari keadaan yang ada. Pesan itupun aku laksanakan, ku catat semua hal yang kutemukan di sekolah baruku ini. Dari fisik sekolah, guru, TAS, penjaga sekolah dan siswanya. Meskipun banyak kekurangan aku optimis bahwa sekolah ini dapat maju dibandingkan sebelumnya.
Dirumah kubaca catatan tentang SMPN satu atap 1 Pasekan ini. Ternyata hampir satu lembar. Pertanyaannya adalah “Manakah yang harus kubenahi dulu?”. 
Dari kondisi yang ada di sekolah baru ini, aku optimis bahwa dengan kerja keras , cerdas dan ikhlas, aku bersama warga sekolah nanti dapat mewujudkan  harapan  bahwa sekolah ini dapat meraih prestasi dan dikenal oleh masyarakat di kecamatan tersebut. Sebab saat aku mencari alamat sekolah ini, banyak masyarakat di kecamatan tersebut yang tidak tahu tentang keberadaan   SMPN Satap 1 Pasekan.
Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit aku mulai bebenah, mulai dari kedisiplinan guru agar datang tepat waktu dan menjalankan tupoksi dengan penuh tanggung jawab. Kedisplinan siswa,  dari penampilan sampai meningkatkan kemauan dan semangat   belajar. Meskipun sulit untuk mengubah kebiasaan siswa dalam berpenampilan yang ala “ Pantai Tegur” menjadi penampilan ala  “pelajar”. Namun berkat kesungguhan  komitmen yang kami sepakati, siswa yang awalnya susah diatur, sedikit demi sedikit Alhamdulillah dapat berubah, penampilan mereka sekarang ini sudah sesuai seperti pelajar yang sesungguhnya.
Untuk sarana prasarana  sehubungan dengan dana BOS yang diterima di sekolah kami jauh dari kata  memadai. Maka untuk pengadaan sarana pra sarana, kami mencoba mengajukan proposal ke Kementrian Agama  dan BAZNAS untuk mendapat bantuan Al-Qur’an. Buku pelajaran pun akhirnya kami dapatkan dari sekolah di kota yang buku-bukunya sudah tidak digunakan karena sekolah tersebut sudah menggunakan kurikulum 2013, sedangkan sekolah kami masih menggunkan kurikulum 2006. Kemudian melalui  komite sekolah, kami menggalang dana untuk membuat penampungan air dan tempat wudhu.
Berkat pertolongan Allah SWT, Alhamduillah sekitar 4 bulan dari semenjak aku datang ke sekolah tersebut, hal- hal yang menjadi prioritas sudah dapat teratasi. Dari kedisiplinan guru, karyawan, dan siswa. Meskipun untuk itu, setiap hari aku harus tidak bosan selalu diingatkan. Untuk sarana belajar, Alhamdulillah kami mendapatkan bantuan buku pelajaran, kurang lebih 600 buah buku, untuk sepuluh mata pelajaran kelas 7, 8 dan 9. Untuk sarana air kami membuat penampungan dan tempat wudhu meskipun masih sederhana. Kami pun mendapat bantuan Al-Qur’an sebanyak 50 exampler dari Kemenag dan 89 examplar dari BAZNAS. Prestasipun akhirnya dapat diraih pada kegiatan jambore tingkat ranting kecamatan. Kami mendapatkan 4 piala dan 18 vandel termasuk piala  juara umum jambore tk ranting kecamatan tahun 2017. Pada kegiatan peringatan kemerdekaan , kami mengiukutkan siswa untuk lomba gerak jalan tingkat kecamatan. Alhamdulillah siswa  putra dan putri masing-masing mendapat juara 3. Mudah-mudahan dengan diraihnya prestasi tersebut, masyarakat akan mulai mengenal akan keberadaan sekolah kami.
Kekhasan  sekolah kami adalah memiliki program ketrampilan produk abon ikan tongkol (Bonito) dan abon ayan (Bonaya). Dengan  proses dari Dinas KoPerindag dan pemeriksaan BPOM yang telah diikuti. Alhamdulillah pada bulan September 2017 mendapat sertifikat halal gratis  yang dikeluarkan oleh MUI.
Diakhir bulan Agustus, sekolah kami juga mendapat kesempatan melaksanakan akreditasi yang pertama Alhamdulillah pada bulan Desember sertifikat akreditasi sudah kami terima, sehingga hal inipun menjadi kebanggan dan kemudahan bagi sekolah terutama pada saat ujian nasional tahun 2018. Kami tidak lagi harus menginduk ke sekolah lain. Buku bantuan non pelajaran utk kegiatan literasi membaca mendapat 705 buku pun kami terima, bahkan sekarang sedang membangun gedung perpustakaan.
Sebetulnya masih banyak yang ingin ku ceritakan disini, namun dengan  keterbatasan waktu dan kemampuan, sehingga hanya dapat menuliskan sebagian kecil saja.
Ternyata harapanku  tidak hanya sekedar mimpi , meskipun aku belum puas dengan apa yang sudah di raih,  harapanku kedepan SMP Negeri Satu Atap 1 Pasekan menjadi sekolah yang lebih maju, mandiri dan beprestasi dengan siswa yang memiliki akhlakul karimah. Kekurangan bukanlah sesuatu yang menghambat kita bisa maju namun  jadikan kekurangan untuk motivasi kita dapat bisa maju dengan kerja keras, cerdas dan ikhlas.

Penyunting : Lilis Yuningsih




Ani Hanifah, lahir  11 September 1967 di Indramayu, sekarang bertugas  di SMP Negeri Satap 1 Pasekan Kab. Indramayu. Pernah bertugas menjadi guru di SMPN 2 Juntinyuat dari Desember  1994 sampai dengan Juni 2005, kemudian di SMPN 3 Sindang dari Juli 2005 sampai dengan Oktober 2016. Pendidikan formal lulus SDN Kedungdawa Sukra  tahun 1980, SMPN Patrol tahun 1983, SMAN Kandanghaur tahun 1986, D3 Elektro IKIP Jakarta tahun 1989, S1 Fisika Tamansiswa Jogjakarta 2007. Sekarang sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana Biologi UNIKU semester akhir tinggal menunggu jadwal sidang tesis.  Tempat tinggal di Indramayu, bersama suami dan tiga orang anak.






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENITI HARAPAN DI PANTAI TEGUR"

Post a Comment