Penyiar yang Menjadi Guru



oleh Lilis Yuningsih




Ketika penulis masih sekolah di SMP, guru BK mewawancarai tentang cita-cita penulis saat itu. Entah pengaruh bacaan atau lingkungan yang mana, saat itu yang terpikir adalah ingin menjadi insinyur pertanian. Padahal saya dibesarkan dari keluarga besar yang sebagian besarnya adalah guru. Ibu, uwa dan bibi saya berprofesi sebagai guru. Bahkan kakek dari ibu maupun ayah menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar. Sehingga kakek dikenal dengan panggilan “eyang mantri” di desanya. Saat ditanya lagi oleh guru BK saat itu, apa pilihan kedua cita-cita saya. Saya baru menjawab: “Ingin menjadi guru.”

Seiring perjalanan waktu dalam mengenyam pendidikan, berbagai karakter guru begitu melekat dan berkesan erat di benak saya. Sejak duduk di bangku SD, SMP, dan SMA. Tanpa saya sadari ada beberapa guru yang menjadi idola saya. Di SMP kelas tiga saya memiliki guru matematika yang sangat tegas dan disiplin. Namun justru berkat beliau saya jadi gemar matematika. Saya tertarik untuk belajar matematika lebih dalam. Selain itu, saya juga terkesan kepada guru bahasa Indonesia di SMP, Berkat beliau saya hobi membaca dan senang mempelajari sastra Indonesia.

Saat di bangku SMA, mata pelajaran favorit saya adalah Matematika, Biologi, bahasa Inggris dan Kimia. Para mata pelajaran tersebut mengajar dengan memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran tersebut sering disebut dengan model pembelajaran “Kontekstual teaching and learningSelesai SMA, saya mencoba ikut seleksi beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta. Setiap seleksi, jurusan yang saya pilih adalah pertanian. Dari beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta yang saya ikuti, ternyata tidak ada satu pun yang berhasil lolos sebagai mahasiswa jurusan pertanian. Sambil menunggu pengumuman, saya pulang ke orangtua saya yang sedang menjalani masa dinas di Indramayu. Keluarga Kami berasal dari Tasikmalaya, tetapi Ayah mendapat tugas di Indramayu sejak tahun 1981. Sementara Ibu saya bertugas sebagai guru SD yang letaknya dekat dengan pusat kota Indramayu. Sementara saya semenjak TK bersama bibi di Jakarta. Ketika masuk jenjang SD dan SMP saya bersama orang tua di Tasikmalaya. Memasuki bangku SMA saya kembali ke Jakarta bersama bibi. Ketika gagal masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri), Ayah menganjurkan saya agar kuliah di Indramayu mengambil jurusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Akhirnya saya kuliah di Universitas Wiralodra Indramayu FKIP jurusan matematika. Meskipun saya kuliah di jurusan matematika, hobby dan kegiatan di seputar seni dan sastra tetap saya tekuni. 
Beberapa kali saya mencoba mengikuti ajang lomba baca puisi dan vokal grup yang diselenggarakan di gedung panti budaya (sekarang gedung Dewan Kesenian Indramayu). Saat itu banyak kelompok remaja bermunculan di Indramayu. Mereka bergerak di berbagai kegiatan positif, meski saat itu di kota kami belum ada youth centre atau gelanggang remaja seperti di kota-kota besar.saat  Saktif    di  kegiatan   sastra, saya ditawari menjadi penyiar di sebuah stasiun  radio  swasta, yaitu Radio Ria  Cindelaras.  Satu-satu  nya  radio  swasta   di   kota  kami saat   itu.  Meskipun saya memiliki pengalaman sebagai penyiar, ternyata tidak membuat saya dapat menjalani tugas menjadi  guru  dengan lebih mudah.

 Ketika saya praktek mengajar disebuah SMA Negeri, perasaan nervous menghadapi  siswa   di kelas sangat mengganggu dan tidak mudah saya atasi. Sebagai seorang  penyiar  yang  biasa ngocol  di   ruang  tertutup,        ternyata merasakan kesulitan yang luar biasa ketika harus berbicara dengan siswa di kelas. Setelah gelar Sarjana Pendidikan saya raih, saya belum berani mengajar dan melamar sebagi guru. Meski banyak teman-teman yang langsung mengajar di berbagai SMA. saya lebih memilih tetap menjadi penyiar. Setelah menikah dan mempunyai satu momongan, orangtua dan suami memberi motivasi saya agar memanfaatkan ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya mencoba memberanikan diri mengikuti test guru SMP dan Alhamdulillah diterima. Sejak itulah saya menjadi guru matematika di SMP. Pengalaman saya sebagai penyiar, membuat saya senang bercerita kepada peserta didik saat mengajar. Saya yakin bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Cita-cita saya menjadi insinyur pertanian tidak tercapai, namun saya masih bisa menyalurkan melalui hobby berkebun tanaman hias di halaman rumah. Semoga saya mampu menjadi guru yang idealdan profesional, meski saat itu sebagai guru merupakan cita-cita pilihan kedua. Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin.




                                                           


Catatan : Naskah ini telah ditulis dalam buku memorial yang berjudul Goeroe, Bab I, halaman 10, judulnya : “Menjadi Guru”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penyiar yang Menjadi Guru"

Post a Comment