SATU KATA BERJUTA MAKNA (Menciptakan Literasi yang Bermakna)

oleh Yuyun Yulyanti, S.Pd.

Satu kata, Bu! Satu kata, Bu! pinta anak-anak ketika saya baru masuk ke ruang kelas 7. Mereka sudah hapal betul bagaimana cara saya memulai pembelajaran setiap harinya. Permainan satu kata menjadi sesuatu yang dinantikan oleh mereka. Sebetulnya, sederhana saja pernyataan yang saya berikan pada mereka. Satu kata untuk hari ini! pinta saya penuh semangat untuk mengawali pembelajaran. Awalnya mereka merasa kebingungan, ragu, dan malu-malu untuk menyatakan pendapatny, Akhirnya mereka mulai memberanikan diri dan terbiasa dengan pernyataan-pernyataan yang saya ajukan. Saya senang karena jawaban mereka beragam, ada yang menjawab, Panas, Bu., Menyenangkan, Bu, Lapar, Bu, Sedih, Bu, dan yang lainnya, sampai siswa yang pendiam di kelas pun ikut menyatakan pendapatnya. Pada posisi ini, biasanya saya langsung memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat mereka. Biasanya mereka banyak yang menyatakan bahwa satu kata untuk hari ini adalah panas, maka saya memberikan pertanyaan, Mengapa cuaca akhir-akhir ini terasa panas ya?. Jawaban mereka pun beragam. Seorang siswa menjawab bahwa kita sedang memasuki kemarau panjang. Ketika itu saya pun menguatkan informasi terkait kemarau panjang yang sedang terjadi saat ini. Saya berikan kembali pertanyaan yang berkaitan dengan dampak yang terjadi akibat kemarau penjang ini. Mereka mulai berpikir serius dan terjadilah diskusi, bahkan di antara mereka juga ada yang memberikan informasi bahwa sumur mereka kekeringan air dan ada juga yang menyampaikan daerah mana saja yang sudah turun hujan. Hal ini akan menjadi informasi baru bagi sesama mereka, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dan bagi mereka yang tahu informasinya, mereka mulai berbagi informasi tersebut.
Demikianlah keasyikan kami saat memulai pembelajaran. Tak lupa pula, Saya pun mengaitkan diskusi tadi dengan materi yang akan dibahas pada pertamuan ini. Saya ingin anak-anak terlibat dalam proses pembelajaran. Pernah saya berikan pernyataan kepada mereka, Satu kata untuk pohon jati!, mereka mampu menjawabnya dengan jawaban yang berbeda dari teman-temannya. Saat itu tanpa disadari, mereka sebetulnya sedang berproses mendeskripsikan pohon jati. Bagi siswa, tentu akan lebih mudah memahami sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Anak-anak sudah hapal betul dengan hutan, membuat ketapel, sapi, ayam, burung-burung, sawah, berkebun, dan yang lainnya. Karena memang kebetulan sekolah kami, SMPN Satu Atap 1 Terisi letaknya begitu dekat dengan hutan lindung di Indramayu.
Saya terus berpikir bagaimana caranya agar kegiatan literasi yang dilaksanakan di sekolah tidak hanya kegiatan membaca saja. Akan lebih menarik apabila menerapkan sesuatu yang berbeda yang tentunya lebih bermakna bahwa kegiatan literasi tidak hanya membaca dan membaca yang terkesan menjemukan bagi siswa. Lebih dari itu, literasi merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup (KBBI V). Sehingga tujuan dari literasi yang diterapkan tidak hanya berapa banyak jumlah buku yang dibaca melainkan bagaimana mereka mampu mendapatkan sebuah informasi yang dapat menjadi bekal dalam menjalankan hidupannya. Lebih sederhananya, mereka mendapatkan sesuatu yang bermakna dan mendapatkan manfaat dari kegiatan literasi. Berdasarkan hal tersebut, kegiatan literasi menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh siswa. Kebutuhan pokok yang harus terpenuhi setiap harinya sehingga mereka melakukannya dengan rasa senang tanpa paksaan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kegiatan literasi ini diharapkan mampu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan siswa untuk melek informasi dan peka terhadap lingkungan sekitarnya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang literat.

Mewujudkan Masyarakat yang Literat
Dewasa ini, kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia, mereka termasuk ke dalam katagori kelompok aliterat, yakni mereka bisa membaca tetapi memilih untuk tidak menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari tradisi hidupnya. Sedangkan masyarakat kita yang berkatagori literat, yakni yang telah menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kebudayaan hidupnya. Penyebab rendahnya aktivitas literasi masyarakat kita karena kita masih belum berhasil membentuk masyarakat yang literat (berkebudayaan baca-tulis), tetapi baru sekadar mampu menghasilkan masyarakat yang aliterat, yakni masyarakat yang sekedar bisa membaca dan menulis saja,
Membaca dan melek informasi memang belum menjadi prioritas utama masyarakat kita. Mereka lebih senang menonton dan mendengarkan daripada membaca dan berpikir dalam menghadapi persoalan tertentu. Permasalahan tersebut dipengaruhi oleh masyarakat, dalam hal ini peserta didik dan pendidik masih menciptakan jarak dengan sumber informasi (terutama buku) atau belum adanya kesadaran yang dapat dijadikan motivasi untuk melakukan kegiatan membaca dan menulis. Melihat kondisi ini, pendidik tentunya harus berpikir kreatif bagaimana caranya mengahadapi persoalan kebiasaan tersebut, misalnya kegiatan literasi bisa dilakukan dengan menonton sebuah video yang memiliki nilai edukasi tinggi bagi siswa.
Pada dasarnya permasalahan umum dalam dunia literasi di Indonesia adalah rendahnya ikatan emosional terhadap sumber informasi dan kegiatan pemanfaatan sumber informasi tersebut. Pada kenyataannya, konsep mencontoh lebih efektif daripada memerintah. Hindari pemberian perintah yang kita sendiri enggan melaksanakannya. Pendidik tentunya harus membiasakan diri terlebih dulu untuk membudayakan literasi di sekolah, dengan demikian siswa akan mengikuti dan merasa tidak asing lagi dengan kegiatan literasi. Mulai dari diri sendiri dan mulai hari ini.

Yuyun Yulyanti, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMPN Satu Atap 1 Terisi, Kabupaten Indramayu.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SATU KATA BERJUTA MAKNA (Menciptakan Literasi yang Bermakna)"

Post a Comment