TADABUR DAN TAFAKUR DI HUTAN MATI PAPANDAYAN


Oleh Nurlaela Siti Mujahidah, S.Pd.



“Maka perhatikanlah bagaimana bekas-bekas Rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Ar Ruum : 63.

“Ketahuilah, bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti.” QS. Al Hadiid: 17.
Itu hanyalah dua ayat, diantara banyak ayat yang tersebar dalam Al Quran yang memberitahukan kekuasaan Allah untuk menghidupkan dan mematikan bumi (dan seisinya). Dan di ujung ayat-ayat tersebut, Allah mengingatkan kita untuk menyadari bahwa Dia Maha Kuasa, hanyalah Dialah yang dapat memberi pertolongan dan Dia ingin agar kita mengerti.

Berbekal ayat-ayat tersebut, maka ketika aku berkunjung ke Hutan Mati Papandayan, betapa hidup ayat-ayat itu di benakku. Sungguh Allah telah membentangkan tanda-tanda kekuasaannya di bumi Garut ini, bahkan sebelum kendaraan sampai di tempat parkir. Pemandangan yang tersaji, begitu menyentuh dan mengundang kagum pada Sang Pencipta.

Eksostisme Hutan Mati Papandayan yang kubaca dari berbagai tulisan di medsos, mengundangku untuk datang dan membuktikan sendiri. Melihat foto-fotonya saja sudah membuat imajinasiku mengembara liar. Bagaimana tidak? Bila biasanya tempat-tempat wisata menawarkan keindahan, kesuburan, kesegaran dan nuansa surgawi, di sini justru sebaliknya. Allah mempersembahkan Maha Karyanya berupa hutan yang telah mati. Lengkap dengan nuansa sepi, kelam dan dingin yang mencekam. Disempurnakan dengan kabut yang setia menjemput para pengunjung. Serasa ada di dunia lain, dunia yang tidak sedang kita tapaki sekarang. Dunia dongeng yang mistis dan magis.

Anehnya dengan pemandangan seperti itu, justru mengundang banyak orang untuk rela mendaki hingga napas terasa mencekik di tenggorokan seperti yang kualami. Untung saja, ada tempat rehat yang nyaman, lengkap dengan warung cemilan dan minuman hangat.

Sebenarnya ini bukan pertama kali aku berkunjung ke Gunung Papandayan. Dulu waktu ke sana, aku dan suami menginap di Pondok Saladah. Saat itu kami merencanakan untuk menginap dua malam, biar siangnya bisa menjelajah ke semua tempat di sekitar Gunung Papandayan. Ada beberapa objek wisata yang bisa kita kunjungi di sekitar Gunung Papandayan. Diantaranya Kawah Papandayan yang merupakan komplek gunung berapi yang masih aktif seluas 10 Ha. Pada komplek kawah terdapat lubang-lubang magma yang besar maupun kecil, dari lubang-lubang tersebut keluar asap/uap air hingga menimbulkan berbagai macam suara yang unik. Kemudian ada Blok Pondok Saladah yang merupakan areal padang rumput seluas 8 Ha, dengan ketinggian 2.288 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini mengalir sungai Cisaladah yang airnya mengalir sepanjang tahun. Lokasi ini sangat cocok untuk tempat berkemah. Ada juga Blok Sumber Air Panas Letaknya di perbatasan Blok Cigenah, sumber air panas ini mengandung belerang dan berhasiat dalam penyembuhan penyakit kulit terutama gatal-gatal.

Sayangnya saat itu aku tak tahan dengan udara yang sangat dingin. Menurut  klasifikasi Schmidt dan Ferguson Gunung Papandayan termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 °C. Dingin yang menggigil, membuatku memutuskan, cukup satu malam saja di sana. Mau bepergianpun tak bisa, karena kabut menghalangi pandangan. Jarak pandangku cuma kira-kira dua meter ke depan. Saking dinginnya, di bawah kelopak mataku, selalu ada embun yang menggayut, yang menetes pelan tiap kali aku berkedip. Dalam kondisi seperti itu, tentu saja kita tak boleh berdiam diri, bisa-bisa kita kena hypothermia.

Ternyata, sekarang kondisinya jauh sekali dibanding terakhir kali kami ke sana. Sekarang sudah terbentang indah Gapura “Selamat Datang”. Tempat parkir yang luas, ada tempat jajan dengan banyak pilihan jajanan, ada mushola, kolam renang, cottage. Bahkan ada tempat selfie juga dengan view yang menarik. Sekarang kawasan itu sudah dikelola oleh PT Asri Indah Lestari seluas 92,87 Ha sebagai pihak swasta yang bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memaksimalkan potensi pariwisata yang sudah ada sebelumnya.

Karena ini yang kesekian kalinya kami ke sana, dan tujuannya hanya ingin melihat Hutan Mati, maka tempat itulah yang menjadi tujuan utama kami. Perjalanan dari pintu masuk menuju Hutan Mati, bisa ditempuh selama 1,5 jam dengan berjalan kaki. Dari tempat parkir, kami berjalan di jalan yang cukup lebar dan beraspal, sudah mulai menanjak selama kurang lebih 1 km. Di ujung jalan, akan terlihat tangga yang disusun dari batu, dari situlah awal pendakian yang sesungguhnya. Jalan yang ditempuh cukup menantang. Kami tidak memakai jasa guide, tetapi dengan petunjuk dari brosur dan jalan yang sudah diarahkan, kami menelusuri jalan sendiri..

Ada yang lucu dalam perjalanan kali ini. Karena menurut informasi, letak Hutan Mati tak jauh dari Pondok Saladah, perasaanku jalannya datar / tak terlalu menanjak, jadi aku menggunakan sepatu highill karena menurutku sepatu itu nyaman dan ringan. Suamiku sempat mengingatkan, tetapi dengan yakin aku bilang, “Ah, aku kan udah tahu jalan ke sana. Lagian sepatu ini nyaman dan ringan.” Maka berjalanlah aku bersama suami dan saudaraku. Belum satu kilometer saja, jalanan semakin menanjak dan aku mulai kewalahan. Kenapa jalan seperti tak ada ujung? Berkali-kali aku bertanya, “Masih jauh, gak?” Napasku terasa sudah sampai di tenggorokan. Kawah mati dan kawah yang masih terlihat bergelegak panas sudah terlewati, namun Hutan Mati masih belum nampak.

Aku dan kakakku memutuskan untuk beristirahat dulu, ditemani angin yang semilir, menghapus kelelahanku. Sementara suamiku masih terus melanjutkan langkah menuju Hutan Mati. Tak lama melepas lelah, terdorong oleh rasa penasaran, masa cuma sampai di sini? Maka ketika ada rombongan yang lewat, Aku bertekad melanjutkan perjalanan meski dengan setengah merayap. Kucamkan benar-benar pesan suamiku. Kalau berjalan di jalanan menanjak, jangan mendaki mendahului rombongan, sebab itu akan menjatuhkan mental orang yang ada di bawah. Jangan  melihat ke bawah, sebab kau akan merasa kaget dan takut.

Sebenarnya, kalau kita tidak kuat berjalan, ada banyak ojeg yang menawarkan jasanya. Sempat tergoda untuk naik ojeg, tetapi ketika kutanya bagaimana medannya, tukang ojeg bilang, “Melewati jalan yang di kiri-kanannya jurang yang cukup curam, jalannya menanjak tajam.” Membayangkannya saja aku sudah merasa ngeri. Maka, kupaksakan berjalan saja, meski perlahan.

Begitu sampai ke puncak, wow … subhanalloh, menakjubkan sekali pemandangannya. Rasanya semua kesulitan dan kelelahan yang telah kulalui, terbayar sudah. Ada suasana magis yang terasa, melihat pemandangan hutan mati. Hutan ini terbentuk pada tahun 2002 karena erupsi Gunung Papandayan sehingga tanaman di area ini terbakar dan membentuk ranting-ranting yang unik. Dengan alas pasir berwarna putih, berdiri sisa-sisa pohon dan ranting yang gosong berwarna hitam, tentu saja tanpa daun. Dilengkapi dengan kabut yang kelam membayang, hmm serasa berada di dunia lain. Andai tak banyak orang, merinding rasanya. Seperti ada di dunia sihir, apalagi kalau tak sengaja pohon mati itu tersenggol, langsung jatuh seketika. Membuat napasku berdegup kencang karena kaget. Ditambah dengan udaranya yang dingin sekali (rata-rata suhu 10 0 C bahkan suhu terdingin bisa mencapai 4 0 C) membuat bulu kuduk merinding terus.

Tetapi, nun jauh di sebelah puncak, dedaunan hijau seolah menjanjikan kehidupan baru. Teringat cerita misteri, seperti tersesat di negeri hantu, begitu melihat dedauan hijau mengisyaratkan arah pulang, tempat kehidupan berada.

Kuingat kembali firman Allah yang memberitahukan kekuasaan-Nya untuk mematikan dan menghidupkan bumi yang kering. Allah berkuasa menyegerakan pohon-pohon mati itu untuk segera berganti dengan pohon baru, tetapi Allah masih menahan pohon-pohon mati itu sampai kini. Ada yang ingin Allah sampaikan dengan fenomena ini. Membuatku merenung dan berpikir, juga bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati pemandangan ini. Menyadarkan egoku, untuk segera kembali pada-Nya. Menyadarkanku bahwa kematian dan kehidupan itu mudah bagi Allah. Dalam suasana mistis dan magis seperti ini, rasanya semakin dekat hati ini pada pemiliknya. 

Bahkan alam begitu mendukung. Ketika aku sampai di Hutan Mati, langit terang, seolah memberi kesempatan padaku untuk menikmati pemandangan langka dan unik ini dalam suasana yang agak bersahabat. Tetapi tak lama kemudian mendung tebal menggayut membawa hujan cukup lama, sekitar 30 menit. Menurut informasi curah hujan rata-rata di Gunung Papandayan adalah 3000 mm/thn, dengan kelembaban udara antara 70-80, dengan cuaca yang cepat berubah-ubah.Untung aku selalu membawa payung, ke manapun aku pergi. Maka di bawah payung, aku menanti hujan reda dalam suasana yang makin mencekam. Meski aku bukan tipe orang penakut, tak urung kueratkan pelukan pada suamiku selama menanti hujan reda. Doa-doapun tak lepas kugumamkan. Ketika hujan mulai reda, kami bergegas turun. Tak begitu jauh dari puncak, mentari kembali cerah. Ingin ku kembali untuk bisa lebih lama lagi menikmati suasana magis di hutan mati, apa daya, kami sudah mulai lelah dan terlanjur turun.

Meski sudah banyak tempat indah kulalui, pemandangan dan suasana magis di Hutan Mati Papandayan, terlalu mengesankan untuk dilewatkan. Dan kalau ada kesempatan, tentu saja aku mau datang lagi ke sana. Perlu banyak waktu untuk tadabur, tafakur dan bersyukur, agar hati lebih peka menangkap isyarat-Nya. Dan salah satu tempat yang kusarankan adalah di sini, di Hutan Mati Papandayan.  Kupikir, meski berkali-kali ke sana, tetap saja suasana magisnya akan terasa. Penasaran kan?

Bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi, tersedia banyak pilihan transportasi menuju Garut dengan tarif yang terjangkau. Anda tinggal menumpang bis / elf dari Bandung menuju Terminal Garut. Dari sana anda bisa naik elf jurusan Cikajang dan berhenti di alun-alaun Cisurupan. Dari sana Anda tinggal naik ojeg atau menyewa angkot ke lokasi. Untuk info jenis angkutan berikut tarifnya yang lebih lengkap, Anda tinggal klik https://www.jelajahgarut.com/taman-wisata-gunung-papandayan/.

Yuk kita muncak ke Hutan Mati Papandayan. Siapkan fisik dan mentalmu, kawan. Semoga menemukan petunjuk Tuhan yang terbentang dalam tanda-tanda kekuasaan-Nya. Amiin.***

Referensi :

Tulisan ini ditulis seperti yang diceritakan oleh rekan penulis yang hobby berpetualang.

Penulis bernama Nurlaela Siti Mujahidah, S.Pd., asli Garut, tetapi sekarang berdomisili di Bandung. Bekerja sebagai Pendidik di SMPN 3 Limbangan, Garut. Selain itu, Penulis juga merupakan Tim Redaksi Majalah Pendidikan Guneman dan Editor Percetakan Guneman. Hobby membaca dan menulis. Karya tulisnya ada yang sudah dibukukan dengan judul “Diary Ummi Mujahidah”. Sedangkan yang berupa artikel, puisi, dan cerpen tersebar di Majalah Pendidikan Kabupaten Garut, Kandaga, Majalah Pendidikan Guneman, dan di Guneman online.

           

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TADABUR DAN TAFAKUR DI HUTAN MATI PAPANDAYAN"

Post a Comment