TRAGEDI ENAM DIGIT KODE VERIFIKASI


Pay, Numbers, Digits, Mathematics, Count

Oleh Enang Cuhendi


Dalam Bahasa Sunda ada peribahasa yang berbunyi ‘nulungan anjing kadempet´. Peribahasa itu bermakna menolong seseorang yang sedang kesusahan, tetapi berarkhir menjadi masalah buat diri si penolong. Kira-kira seperti itulah keadaan yang saya alami sejak jelang maghrib kemarin sampai tadi pagi.
Tadi malam betul-betul malam yang menyesakkan dan sangat melelahkan bagi saya. Bermula dari adanya pesan masuk secara pribadi pada aplikasi Whatapps (WA) saya dari seorang sahabat dari Sulawesi Selatan. Tanpa curiga saya layani chat tersebut, saya jawab sapaan salam beliau, bahkan saya tanya bagaimana kabarnya. Si penerima pesan di seberang sana menjawab dengan baik. Akhirnya dia meminta tolong saya untuk membuka kiriman pesan yang dikirim via SMS, dengan tambahan sebagai konfirmasi bahwa pesan sudah diterima  saya harus mengetikkan pesan tersebut di WA dia. Salah satunya saya harus menyebutkan enam angka yang dia kirim. Tanpa curiga saya lakukan itu semua dengan niat menolong teman yang sedang kesulitan, karena dia bilang katanya ada masalah dengan WA-nya.
Setelah proses tersebut saya laksanakan, di luar dugaan masalah mulai muncul beberapa menit kemudian.  Pertama saya mendapat telpon masuk dari berbagai negara, karena curiga maka saya reject. Setelah itu saya baru sadar bahwa sudah masuk jebakan hacker atau peretas. Saya mulai panik karena khawatir nomor WA saya disalahgnakan.
Seketika saya kirim pesan melalui SMS ke beberapa teman untuk  minta disebarluaskan. Pesan saya yang pertama berbunyi, ”Assalamualaikum, Sahabat semua, mohon bantuannya agar pesan saya ini disebar di semua grup. Saat ini kondisi no WA & telpon saya yang ujungnya 119 sedang di hack/diretas, kalau ada yang meminta pinjaman uang dsb yang tidak patut itu bukan saya dan mohon diabaikan. Terimakasih. Enang Cuhendi.” Pesan itu saya kirim sekira pukul 17.59 sampai 18.05.
Alhamdulillah sahabat-sabahat mau membantu saya. Di antaranya Pak Wijaya, Ketua Umum PP FKGIPS Nasional PGRI yang dalam kondisi kurang sehat menyebarkan di semua WAG FKGIPS dari mulai Kabupaten, provinsi dan nasional, Pak Nunu Adam Nugraha masuk ke jaringan alumni sejarah IKIP Bandung, dan sahabat lainnya ada yang masuk ke WAG alumni SD, SMP, SMA, grup kedinasan, grup MGMP, keluarga dan lain-lain. Semua bergerak secara masif ke seluruh link terkait saya. Untuk memperkuat info, saya pun menyalin pesan tersebut di dinding akun Facebook (FB) saya. Alhamdulillah responnya bagus.
Sekira pukul 21.00 saya kirim pesan kedua melalui SMS dan FB. Bunyinya, “ Menindaklanjuti postingan saya sebelumnya, saya ENANG CUHENDI menyatakan secara resmi, bahwa SAYA TIDAK PERNAH MEMINTA KEPADA SIAPAPUN UNTUK MENTRANSFER SEJUMLAH UANG KE REKENING SAYA & SAYA PUN TIDAK MEMILIKI NOMOR REKENING DI BANK MANAPUN SELAIN UNTUK KEPENTINGAN GAJI DI BJB. KALAU ADA YANG MELAKUKAN ITU MOHON DIABAIKAN DAN BLOKIR NOMORNYA. SEMOGA KITA SEMUA DILINDUNGI ALLAH SWT.” Pesan tersebut sengaja dikirim karena mulai masuk informasi melalui FB bahwa ada beberapa teman yang dihubungi nomor WA saya yang diretas dan dimintai pinjaman sejumlah uang.
Selama semalaman saya berusaha untuk merebut kembali akun WA tersebut dengan kemampuan IT saya yang terbatas. Langkah yang saya ambil dengan meminta kembali nomor ke pihak WA, tetapi ternyata harus memasukan kode angka enam digit. Saya coba reinstal WA dan masukan kembali nomor WA tersebut, tetapi pihak WA minta kode verifikasi. Ketika saya mencoba meminta kiriman kode melalui SMS jawabannya harus menunggu tujuh jam kemudian, sampai pukul 00.30 saya tunggu. Begitu tinggal hitungan detik ternyata, ada notifikasi bahwa saya terlalu sering meminta ganti nomor (mungkin oleh si hacker) dan saya pun harus meminta ulang. Saya minta kiriman kode kembali dan harus menunggu selama lima jam. Dengan perasaan tidak karuan saya tunggu sambil tertidur sebentar. Pukul 04.00 saya bangun terlihat masih tersisa waktu tunggu sekira 2 jam.
Alhamdulillah, sekira pukul 06.15 kiriman kode enam digit saya terima dari pihak WA. Lega rasanya perasaan ini. Namun, walau begitu saya harus sedikit sabar karena harus menunggu beberapa menit untuk masuk ke pencadangan dan proses pengubahan setelan keamanan. Saya mencoba mengambil langkah verifikasi dua langkah, dengan menggunakan PIN dan email untuk konfirmasi keamanan. Setelah selesai, puji syukur pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, akun WA pun kembali bisa saya kuasai. Seketika pada pukul 07.02 saya kirim pesan status di WA, “Assalamualaikum, sahabat mohon maaf atas ketidaknyamanan adanya pesan yang mengatasnamakan WA saya dengan dalih pinjaman uang, sejak kemarin nomor WA ini diretas pihak yang tidak bertanggung jawab. Semua pesan yang dikirimkannya di luar sepengetahuan saya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua.”
Saya pun minta teman-teman untuk memasukkan kembali nomor WA ini ke WAG yang ada dengan terlebih dahulu mengajukan aneka pertanyaan sebagai verifikasi. Ketika masuk grup banyak pertanyaan lucu yang muncul diajukan kepada saya, dari mulai pertanyaan formil sampai nomor sepatu. Alhamdulillah, karena nomor WA ini sekarang saya yang pegang ya pertanyaan pun bisa saya jawab.
Satu persatu WAG mulai memasukkan kembali nomor WA. Atas kebaikan Pak Ketum PP FKGIPS Nasional PGRI, saya bisa berkomunikasi kembali dengan banyak grup, terutama FKGIPS. Setiap Pak Ketum memasukan saya ke WAG selalu saya ikuti dengan pesan, “ Terimakasih pak Ketum sudah bantu posting pesan saya. Sejak kemarin nomor WA ini diretas orang tidak bertanggung jawab dan meminta pinjaman uang ke beberapa rekan. Demi Allah itu bukan saya pelakunya. Mudah-mudahan dengan dikuasainya kembali akun WA ini permasalahan selesai dan tidak ada pihak yang dirugikan. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari fitnah dan kejahatan dunia.” Kiriman pesan ini maksudnya untuk menerangkan secara singkat apa yang terjadi dengan saya yang terpaksa dikeluarkan dari semua grup sekaligus klarifikasi.
Seharian ini saya terus memantau WA guna mengikuti perkembangan yang ada. Dengan satu harapan tidak terjadi laporan hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah sampai selesai tulisan ini sekira pukul 16.59 tidak ada laporan negatif.
Satu pelajaran berharga yang bisa saya dan mungkin kita semua ambil hikmahnya.  Berhati-hatilah selalu. Setiap kebaikan yang kita maksudkan untuk membantu orang lain belum tentu akan menimbulkan kebaikan, tetap harus waspada dan hati-hati. Lebih khusus, Sahabat hati-hatilah kalau ada permintaan pesan yang meminta mengirimkan nomor kode verifikasi, INGAT JANGAN PERNAH DILAYANI! Itu awal dari hacker masuk dan nanti bisa mengalami hal yang sama dengan saya. Hindari dari terjadinya tragedi enam digit kode verifikasi!

Cicalengga, Bandung, tepat seusai doa pelantikan Presiden RI, 20 Oktober 2019, 16.59.




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "TRAGEDI ENAM DIGIT KODE VERIFIKASI"

  1. Alhamdulillah dapat membaca tulisan Pangersa ini; Menanam kehati-hatian disetiap langkah ternyata harus kita lakukan (y) Terimakasih informasinya.

    ReplyDelete