Aku Bukan Kutu Kupret


oleh Saiful Amri, M. Pd.

       Dasar Kutu Kupret! umpat Ibu Cicih kepada Wandi.
       Ibu Cicih sangat kesal kepada Wandi. Ia membuang makanan yang tersisa di atas meja guru Kelas 9-F. Wandi mengira makanan itu sudah selesai dimakan oleh Ibu Cicih.
       Hari itu, Ibu Cicih mengajar di Kelas 9-F pada jam pelajaran ke-1 dan 2. Ia membawa camilan ke dalam kelas. Saat bel jam ke-3 berbunyi, ia harus balik ke ruang guru. Rupanya ia lupa membawa sisa camilan yang belum habis dimakannya.
       Mengenai guru yang membawa makanan seperti Ibu Cicih, sebenarnya sudah diingatkan oleh kepala sekolah bahwa hindari perbuatan ini. Kepala sekolah mentolerir jika membawa minuman. Namun peraturan tersebut tidak terlalu kaku sehingga bisa ditolerir jika mendesak harus membawa makanan.
       Maaf, Bu. Saya kira sudah tidak dimakan lagi. Wandi meminta maaf dengan nada suara ketakutan.
        Wandi anak yang rajin. Ia sangat terkenal sebagai anak yang paling peduli kebersihan. Tak luput sampah yang dijumpainya di mana saja pasti ia buang. Hari itu naas baginya.
       Enak saja, Kamu minta maaf. Ibu sudah dari ruang guru balik lagi ke kelas ini hanya untuk mengambil sisa makanan yang tertinggal, kata Ibu Cicih dengan nada suara meninggi.
       Sekali lagi saya minta maaf, Bu, bujuk Wandi agar Ibu Cicih memaafkannya.
       Kamu harus ganti. Beli sana di kantin! perintah Ibu Cicih.
       Baik, Bu, jawab Wandi.
        Wandi menuju kantin untuk membeli cemilan sebagai ganti makanan Ibu Cicih. Kemudian ia mengantarkannya ke ruang guru. Ibu Cicih sedang menunggunya dengan wajah cemberut.
       Setelah urusannya selesai kepada Ibu Cicih, kemudian Wandi kembali ke kelas. Naas kembali menimpanya. Pak Dodo yang terkenal killer itu sudah berada di dalam kelas.
       Permisi, Pak. Maaf saya terlambat. Tadi saya ke ruang guru, kata Wandi dengan suara pelan perlahan.
       Bapak tidak mau mendengar alasanmu. Kamu, Si Kutu Kupret yang membuat Ibu Cicih jengkel, ya? kata Pak Dodo. Rupanya Ibu Cicih sudah menceritakan kepada guru-guru tentang apa yang terjadi.
       Iya, saya salah, Pak, jawab Wandi.
       Sekarang, Kamu lari dua puluh putaran di lapangan, perintah Pak Dodo.
       Tak disangka Wandi jatuh pingsan di lapangan. Ia belum genap berlari 20 putaran. Kondisi Wandi tidak memungkinkan untuk berlari sebanyak itu. Mentalnya sedang tertekan akibat permasalahan dengan Ibu Cicih. Ia juga mendapat masalah dengan Pak Dodo. Hari itu ia sedang puasa sunah sehingga fisiknya sedikit lemah.
       Ayo, angkat dan bawa ke ruang UKS, perintah Pak Dodo kepada beberapa anak.
       Wandi segera mendapat pertolongan. Ia pun siuman setelah beberapa saat. Pak Dodo menyarankan agar Wandi pulang diantar temannya.
       Keesokan harinya Wandi tidak masuk sekolah. Suhu tubuhnya meninggi. Panas terasa di seluruh tubuhnya. Wandi mulai menggigil. Ia tak sadarkan diri akibat suhu tubuhnya yang tinggi.
       Aku bukan kutu kupret. Aku bukan kutu kupret, ucap Wandi berkali-kali. Ia mengeluarkan kata-kata tersebut di luar kesadarannya. Akibat panas yang terlalu tinggi membuat dirinya meracau sekenanya.
       Sungguh beruntung Wandi segera dibawa ke rumah sakit. Ayah dan Ibunya balik dari Jakarta. Mereka berwiraswasta membuka toko kelontong di Jakarta sebagaimana sebagian besar mata pencaharian penduduk di desa itu merantau ke Jakarta.


Saiful Amri, M. Pd. lahir di Bekasi, 11 Juni 1969. Mulai mengajar sejak 1988 di berbagai jenjang SD, SMP, SMEA, SMIP, dan Perguruan Tinggi. Aktivitasnya saat ini sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Cimahi, Tutor UT Jakarta, Editor Guneman, Pegiat Literasi Kabupaten Kuningan, Pegiat Literasi Jawa Barat, dan beberapa komunitas literasi lainnya. Lereng Gunung Ciremai menjadi tempatnya menuangkan inspirasi dalam menulis. Di tahun 2019, tulisannya tentang Taman Purbakala Cipari terpilih dalam sayembara Cagar Budaya yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Jakarta dan Wondelan Publisher. Longlife Learning adalah moto hidupnya. Pos-el: saifulamri077@gmail.com. Telp. 081388935209.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Bukan Kutu Kupret"

Post a Comment