Keteladanan Dalam Dunia Pendidikan


 oleh Warmadi S.Pd., M.Si.

A. Arti Teladan
       
Teladan itu diartikan sebagai sesuatu perbuatan, atau perilaku yang patut ditiru. Kita yakin, setiap orang akan merasa bahagia, seandainya pribadinya dapat menjadi contoh kebaikan bagi orang lain. Sebaliknya, ia akan bersedih bila orang mengetahui akan kejelekan dan kekurangan kita.

Untuk itu mulailah dari diri kita, untuk member contoh akan hal perilaku kebaikan. Yakni kebaikan yang dapat dicontoh dan dikenang orang lain, seperti halnya akhlak dan pribadi Rasulullah Saw. Allah berfirman dalam QS. Al Ahzab, ayat 21, yang bunyinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Berkait dengan manajemen diri, Allah juga menuntun kita seperti dalam QS. (59): 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Setiap kita bebas melakukan apa saja. Tapi, bagi orang yang beriman, kita yakin bahwa perbuatan kita saat ini akan berproyeksi dalam kehidupan kita di akherat kelak. Untuk itu, jadilah yang terbaik, jadilah seseorang yang bisa menjadi suri teladan dalam kebaikan. Misalnya, orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya, guru menjadi teladan bagi murid-muridnya Singkatnya, kita selalu berusaha menyandang predikat keteladanan ini berawal dari diri kita sendiri.

Terkait dengan hal itu, Rasulullah Saw. Berkata,“Ibda’ binafsik”, mulailah dengan dirimu. Dan Allah memerintahkan kepada kita, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan keluargamu dari api neraka, ...” (QS. 66:6). Dengan ayat-ayat tersebut, berarti permulaan perintah ditunjukan kepada diri sendiri, kemudian disusul kepada keluarga terdekat. Dalam konteks ini, berarti mulailah keteladanan itu dari diri sendiri sebelum beranjak kepada orang lain.

Realisasi keteladanan itu seperti diperaktekkan oleh Abu Bakrah, sahabat Rasulullah Saw., yaitu : Dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwa ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar engkau setiap pagi berdo’a:Allaahumma ‘aafini fii badanii, Allahumma ‘aafinii fii basharii, wa laa ilahaa illa anta (Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tiada tuhan kecuali  Engkau) yang engkau ulang tiga kali pada pagi hari dan tiga akli pada sore hari. “Ia menjawab: “Sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw. Berdoa dengan kata-kata ini. Oleh karena itu, aku senang mengikuti sunahnya ... (HR. Abu Dawud).

Hadits tersebut, jelas-jelas membuktikan bahwa seorang anak mencontoh ayahnya itu, bukan dengan perkataan yang diucapkan langsung kepada anaknya. Tapi, itu dilakukan dengan perbuatan dan teladan dari ayahnya sehari-hari. Jelasnya, anak-anak itu, jau lebih mementingkan melihat perilaku dan tindakan orang tuanya daripada mendengar perkataan-perkataannya. Lalu, mengapa kita tidak segera memulai keteladanan kebaikan itu, dari kita sendiri?

B. Pendekatan Keilmuan

Ilmu adalah sesuatu yang berharga dalam hidup ini. Dengan ilmu, orang dapat “sukses hidup” di dunia dan akherat. Pokoknya, ilmu merupakan modal dasar yang mesti kita cari, dan cari sampai ajal menjemputnya. Orang untuk mencapai predikat teladan juga perlu ilmu. Allah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)

Seseorang untuk mendapatkan ilmu, tidak dengan cara berdiam diri dan menutup hati terhadap ilmu yang ada pada sekitar kita. Tapi, justru untuk mendapatkan ilmu itu, lebih banyak ditentukan dari ketekunan dan kesabaran kita. Banyak contoh yang membuktikan hal ini. Yang jelas, kunci pembuka ilmu tidak lain adalah membaca dan membaca, kemudian merenunginya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hal ini, Abu Darda’ benar-benar seseorang yang mengkuduskan ilmu dengan setinggi-tinggi kedudukan, disucikannya selaku ia seorang ‘abid. Perhatikanlah ungkapannya tentang ilmu: “Orang tidak mungkin mencapai tingkat muttaqin, apabila tidak berilmu, apa guna ilmu, apabila tidak dibuktikan dalam perbuatan.” Ilmu bagi Abu Darda’ ialah pengertian dari hasil penelitian, jalan dalam mencapai tujuan, ma’rifat untuk membuka tabir hakikat, landasan dalam berbuat dan bertindak, daya fikir dalam mencari kebenaran dan motor kehidupan yang disinari iman, dalam melaksanakan amal bakti kepada Allah ar-Rahman.

Untuk itu, kita bisa belajar banyak pada para ulama dan tokoh-tokoh panutap islam lainnya. Baik kehidupan kesehariannya atau lebih-lebih mengenai ilmu-ilmunya. Seperti Asy-Syafi’i rahimahullah, seseorang yang ahli ibadah dan membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur. Jadi, betapa pentingnya ilmu dalam hidup Asy-Syafi’i.

Kalau kita lihat dari segi akal, nampak jelas bahwa ilmu itu sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada Allah dan menjadi dekat dengan-Nya. Dan sebaik-baik ilmu yang kita cari dan pelajari adalah ilmu yang dapat mendekatkan diri terhadap-Nya.

Pribadi seperti itu, akan memperoleh kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang kekal. Ilmu (agama islam) itu mengantar kemuliaan seseorang di dunia dan di akherat. Dunia ini adalah  tanaman akherat yang perlu benar-benar kita gali, bina dan pelihara. Maka, para orang alim itu dengan ilmunya menanam bagi dirinya kebahagiaan abadi dengan mendidik akhlaknya sesuai dengan tuntutan ilmu.

Apakah kita tidak ingin amal yang kita perbuat di dunia ini, amalnya tidak pernah putus, walaupun kita telah tiada? Seperti hadits berikut : “ Jika manusia telah meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga macam: sedekah jariah (yang tahan lama);ilmu yang bermanfaat;dan anak shaleh (berakhlak baik) yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim). Inilah manfaat memulai dari diri sendiri dalam hal mencari ilmu.




PROFIL PENULIS


Warmadi, S.Pd., M.Si., lahir di Indramayu, 12 Februari 1962, menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar (SD), Desa Tempel Kec. Lelea, Kab. Indramayu. Melanjutkan ke jenjang berikutnya ke SMP PGRI Cikedung, Kec. Cikedung Kab. Indramayu. Kemudian meneruskan ke SMA PGRI Indramayu Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Universitas Wiralodra (UNWIR) Indramayu, dan Alhamdulillah lulus S1 jurusan Bahasa Indonesia dan Sastra. Ada kebanggaan tersendiri sebagai anak petani juga yatim piatu tapi mampu menyelesaikan pendidikan sampai dengan S2 dan menjadi Kepala Sekolah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keteladanan Dalam Dunia Pendidikan"

Post a Comment