ORANG TUA VS ANAK

   
Happy muslim family Premium Vector                        
oleh  Muhamad Hasnul Aulia
(Mahasiswa Penmas IKIP Siliwangi 2019)


Pada zaman modern ini, keterbatasan ekonomi, kesenjangan sosial, baik  status  atau gengsi yang sangat menonjol. Terlihat pada orang tua yang menginginkan anaknya pintar, juara kelas. Sehingga  menuntut anak mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel), membatasi bermain anak, memberi les tambahan di luar sekolah.  

Apakah itu akan menjadi solusi untuk tumbuh kembang anak?  Menurut penulis, tidaklah semudah itu. Karena anak yang tumbuh kembangnya di batasi, maka kita telah berlaku tidak adil pada mereka. Menyita waktu bermain hanya untuk mendapat pengakuan anak  pintar, mempunyai banyak keahlian, dan juga selalu juara di kelasnya.

Tanpa bermaksud menyalahkan adanya bimbel atau guru les di luar sekolah. Semestinya kita menempatkan waktu untuk memberi pelajaran tambahan di sore.  Malamnya dipergunakan untuk interaksi orang tua dengan anaknya tentang kehidupan yang telah di jalaninya selama seharian.

Kondisi yang terjadi malah sebaliknya. Setelah lelah seharian di sekolah, anak harus masuk bimbel dan mengikuti pelajaran tambahan. Sedangkan  interaksi mereka bersama teman sangat terbatas. Bahkan malam yang seharusnya dipergunakan untuk mengukur sejauh mana anak mengevaluasi,  dipangkas  dengan bermain game dan menonton youtube. Hal ini karena tidak ada yang mendampingi. Biasanya,  orang tua lelah bekerja seharian dan langsung istirahat tanpa memperdulikan anaknya yang membutuhkan perhatian. 

Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fiil Islam (Cara Pendidikan Anak Dalam Islam),  ada beberapa cara orang tua untuk mendidik anak.  Bertujuan agar mampu menjadi insan yang beriman,  bertaqwa juga berpengetahuan luas untuk memahami kehidupan yang di jalaninya. 

Hal ini menyebabkan anak menghargai tiap hari dalam hidupnya sebagai pelajaran yang berharga. Di kutip dari kitab Tarbiyatul Aulad Fiil Islam antara lain:
Bagian pertama terdiri dari empat pasal, yaitu:
a. Perkawinan teladan dalam kaitannya dengan pendidikan.
b. Perasaan psikologis terhadap anak-anak.
c. Hukum umum dalam hubungannya dengan anak yang lahir.
d.  Sebab-sebab kelainan pada anak dan penanggulangannya.

Pasal ini terdiri dari empat bahasan :
1.  Hal yang dilakukan oleh pendidik ketika lahir.                   
2. Penamaan anak dan hukumnya.
3. Aqiqah anak dan hukumnya.
4. Menyunatkan anak dan hukumnya.

Bagian kedua yaitu tanggung jawab terbesar para pendidik.  Bagian ini terdiri dari tujuh pasal tanggung-jawab tentang pendidikan yaitu Iman,  moral,  fisik, intelektual, psikologis, sosial dan seksual.

 Bagian ketiga terdiri dari tiga pasal dan penutup :
1. Faktor  pendidikan yang berpengaruh.
2. Dasar fundamental dalam mendidik anak.
3. Saran paedagogis.

Bagian pertama sampai dengan bagian ketiga tersebut, terdapat dalam jilid I. Sedangkan dalam jilid II, meliputi tiga pasal, yaitu : 
a. Metode pendidikan yang influentif terhadap anak.
b. Kaidah-kaidah elementer dalam pendidikan anak.
c. Gagasan edukatif yang sangat esensial.

Fokus kajian tulisan ini terdapat dalam jilid II pasal pertama. Pasal ini berisi tentang metode pendidikan yang influentif terhadap anak pada halaman dua dan seterusnya. 

Ulwan memaparkan 5 metode mendidik moral anak dalam keluarga yang berisi tentang:
Keteladanan,  adat kebiasaan, nasihat, memberikan perhatian dan  memberikan hukuman.

Pada bagian pertama pasal kedua adalah perasaan psikologis terhadap anak-anak. Inilah yang sering diabaikan orang tua saat ini Mereka lebih memperhatikan dari sisi kebutuhan otak dan kemampuan anak daripada sisi psikologis dan hati anak mereka.

Pada bagian penutup, penulis   tidak bermaksud menyinggung suatu badan ataupun orang tua yang telah berusaha yang terbaik untuk anak mereka. Hanya ingin, orang tua lebih memperhatikan  kualitas hati dan psikologis anak mereka. Karena segala sesuatu yang didasari hati yang bahagia, akan menghasilkan hal yang positif pula untuk pendidikan anak. Kedepannya,  yang juga akan sama- sama mengalami menjadi orang tua.



Penyunting/ Editor
Mardiah Alkaff

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ORANG TUA VS ANAK"

Post a Comment