Pendekatan Individu (Individual Aproach)

Abdul Haris, S.Pd.

Maraknya pemberitaan “Guru dipolisikan” mewarnai awal kehadiran saya di dunia pendidikan, yaitu sekitar tahun 2006-2009, bahkan sekarangpun masih ada walaupun kasusnya tidak sebanyak saat itu. Di antara kasus tersebut terjadi di wilayah tempat tinggal saya. Seorang guru dipolisikan karena mencoba memberi pembinaan kepada salah satu siswanya. Dan setelah itu peristiwa yang serupa semakin marak terjadi di sekolah-sekolah lainnya, di kampung halamanku. Peristiwa ini mengusik saya untuk mencoba menganalisis akar penyebab dari masalah itu, baik dengan mengamati berita di media massa dan media sosial, berdiskusi dengan teman sejawat dan membaca berbagai literatur pendidikan.

Ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan sebagai akar masalah terjadinya peristiwa maraknya guru yang dipolisikan kala itu. Diantaranya adalah kompetensi guru, daya dukung masyarakat, dan lemahnya regulasi perlindungan guru.

Kompetensi Guru

Setelah banyak bergaul dengan berbagai komunitas guru, saya baru menyadari tentang fakta kompetensi guru di Indonesia. Ternyata tidak semua guru berasal dari sekolah keguruan atau kampus pencetak tenaga pendidik. Bahkan ada guru yang berpendidikan setara sekolah menengah atas. Ini menandakan seakan profesi guru adalah profesi mudah, yang mana semua orang bisa melakukannya. Padahal para calon guru yang kuliah di universitas-universitas pencetak guru, merasakan betapa sulitnya menguasai materi-materi kuliah unutk menjadi guru.Ada banyak kemampuan yang harus dikuasasi guru, seperti kemampuan profesional, sosial, kepribadian dan pedagogik. Menjadi guru tidaklah mudah, tidak hanya karena menguasai materi pelajaran lalu seseorang dapat begitu saja menjadi guru. Penguasaan perkembangan karakter peserta didik (Psikologi Pendidikan) dan penguasaan kelas juga merupakan hal sangat penting yang harus dikuasai seorang guru. Guru yang tidak memiliki kemampuan psikologi pendidikan dan penguasaan kelas akan mudah tersulut emosi dan salah mengambil tindakan di kelas. Niatnya mendidik, tapi ternyata hasilnya justru masalah baru.

Daya Dukung Masyarakat
Tujuan pendidikan tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari masyarakat, baik materiil mupun moriil. Fakta di lapangan, masih banyak masyarakat yang belum memahami fungsi dan peran lembaga pendidikan. Kadang terkesan, sekolah adalah penanggung jawab keseluruhan pendidikan anaknya. Mereka melupakan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak, dan belum memahami bahwa sekolah dan guru adalah mitra terdekat dalam pendidikan putra-putrinya. Yang lebih miris lagi, ada beberapa kasus yang mana orang tua siswa justru mendukung anaknya untuk menentang penegakkan disiplin di sekolah.

Regulasi Perlindungan Guru
Walaupun saat itu sudah ada regulasi perlindungan guru, seperti UU No 14 tahun 2005, tentang Guru dan Dosen serta PP No. 74, tentang guru, namun tetap saja peristiwa guru dipolisikan masih marak terjadi. Mengapa demikian? Hal ini terjadi mungkin karena regulasi tersebut tidak tersosialisasikan kala itu. Sehingga lembaga di luar kependidikan dan masyarakat umum tidak mengetahui atau tidak begitu memahami adanya regulasi perlindungan guru. Hingga pada tahun 2017, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada guru untuk mendidik, PGRI mengambil langkah bekerja sama dengan POLRI, sehingga terbitlah MOU Nomor B/53/XII/12 dan 1003/UM/PB/XX/12 antara PGRI dan POLRI, tentang mekanisme penaganan perkara dan pengamanan terhadap profesi guru.
Namun, lagi-lagi peristiwa haru menimpa para guru. Kasus beralih dari guru yang dipolisikan menjadi guru yang dianiaya.

Entah apa keinginan masyarakat terhadap dunia pendidikan, khususnya guru. Terlepas dari itu semua saya mencoba untuk terus memperbaiki kompetensi sebagai seorang guru dengan banyak membaca literasi, mengikuti berbagai pertemuan diskusi pendidikan, baik tingkat kabupaten, propinsi maupun nasional. Untuk terus memperbaiki kompetensi sebagai seorang guru.

Banyak sekali teori pendekatan pendidikan dalam menangani siswa bermasalah. Namun dari berbagai kasus siswa bermasalah di sekolah, seperti bolos dan kenakalan lainnya maka pendekatan indiviual (Individual Aproach) dan persuasif dengan semangat kekeluargaan adalah pendekatan yang sering saya pilih. Alasannya, yaitu bahwa kemampuan dan karakter serta latar belakang siswa bervariasi atau heterogen. Banyak hal yang mempengaruhi karakter anak didik, terutama lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat dimana dia dibesarkan. Dengan menggunakan pendekatan individual (Individual Aproach) diharapkan kita dapat memahami latar belakang perilaku anak didik.

Pendekatan individual adalah suatu pendekatan yang melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pendekatan individual memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Pendekatan ini dapat menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru, siswa dan orang tua siswa. Memusatkan pengajaran terhadap mata ajaran dan pertumbuhan yang bersifat mendidik, bukan kepada tuntutan-tuntutan guru. Karena pada dasarnya anak didik kita butuh pengakuan terhadap perbedaan kompetensi dan karakternya.
Suatu contoh kasus, seorang siswa telah lama tidak masuk sekolah bahkan berbulan-bulan. Wali kelas sudah melakukan berbagai upaya, dari mengirimkan surat undangan konsolidasi kepada orang tua sampai melakukan kunjungan ke rumah siswa berkali-kali. Namun siswa tersebut tidak juga masuk sekolah. Kebetulan, saya wali kelas siswa tersebut.

Hasil rapat dewan guru menyatakan sepakat untuk mengeluarkan siswa tersebut. Karena selain sudah lama tidak masuk, siswa ini juga sering bikin onar di sekolah. Namun saya memohon kebijakan untuk memberi kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan masalah ini. Alahamdulillah masalah akhirnya terselesaikan. Siswa tersebut bersedia masuk sekolah lagi dan menyelesaikan sekolahnya sampai lulus dari tingkat SMP dan bahkan sekarang dia sudah jadi seorang perawat. Ternyata masalah sebenarnya adalah, dia merasa kurang mendapat perhatian dari ayahnya. Sementara rasa kehilangan sosok ibu dalam hati siswa ini terus membuatnya bersedih. Hingga akhirnya dia mencari pelampiasan dengan bergaul di jalanan, dan akhirnya tidak berminat lagi untuk sekolah.

Dari beberapa kasus yang saya hadapi dalam pendisiplinan siswa membuat saya percaya, bahwa ketika seorang guru menguasai teknik menjadi guru atau pendidik, maka tidak akan terjadi peristiwa negatif  dalam cerita di atas. Tidak akan ada kegaduhan di kelas, manakala sejak awal kelas tidak pernah ditinggalkan tanpa kabar dari guru. Siswa akan patuh pada guru yang mereka kagumi, bahkan semangat belajarnya pun tinggi.

Profesi Guru bukanlah profesi yang mudah. Selain mengasai materi pelajaran, guru harus memiliki berbagai kemampuan pendukungnya, terutama kemampuan memahami perkembangan karakter anak didik dan teknik penguasaan kelas.

Semoga tidak terjadi lagi insiden kekerasan terhadap guru dan siswa di sekolah. Tidak lagi muncul perpindahan istilah dari “Guru Dipolisikan” menjadi “Guru Dianiaya”.

Penyunting Lilis Yuningsih


SEKILAS TENTANG PENULIS


ABDUL HARIS, Lahir pada tanggal 1 April 1972 di Indramayu, bertugas sebagai guru di SMP Negeri 2 Terisi Indramayu. Pendidikan formal ditempuh di SD Negeri Paoman II Indramayu, lulus tahun 1985, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 4 Indramayu (sekarang SMP Negeri 4 Sindang), lulus tahun 1988, lalu melanjutkan ke SMA negeri 2 Indramayu (sekarang SMA Negeri 1 Indramayu), lulus tahun 1991, pendidikan S-1/Akta IV ditempuh di UPI Bandung mengambil jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, lulus tahun 2000.
Penulis adalah anggota Komunitas Pegiat Literasi Jawa Barat sebagai Koordinator Wilayah Indramayu, masa bakti 2017 - 2021. Aktivitas menulis yang dilakukan yaitu aktif menulis artikel di Kompasiana, penuis juga menuis artikel di blog pribadi yaitu Blog Bang Panjul (harispanjul.blogspot.co.id). sesuai dengan hobi penulis di kegiatan petualangan maka artikel-artikel yang penulis buat juga bernuansa petualangan dan budaya. Penulis juga merupakan pengurus aktif sebagai sekretaris MGMP PKN SMP Kabupaten Indramayu, masa bakti 2013 sampai dengan 2017.
Kegiatan-kegiatan yang pernah penulis ikuti sebagai nara sumber  di antaranya, menjadi fasilitator dan pendamping Guru Sasaran pelaksana implementasi Kurikulum 2013 di Indramayu pada tahun 2014, Menjadi Instruktur Kabupaten dan pendamping Guru sasaran pelaksana implementasi Kurikulum 2013 di Indramayu pada tahun 2016 dan tahun 2017.
Kegiatan dan Diklat yang pernah penulis ikuti sebagai peserta di antaranya, Pelatihan Instruktur Nasional PPKn Implementasi Kurikulum 2013, tahun 2014, , Simposium Guru dan tenaga Kependidikan Tahun 2015, Sosialisasi Penulisan Karya Tulis Ilmiah bagi Guru, LPMP Jabar, Tahun 2015, Pelatihan Instruktur Kabupaten/Kota implementasi Kurikulum 2013, Tahun 2016, Bimbingan teknis penyegaran Instruktur Kabupaten/Kota implementasi Kurikulum 2013, Tahun 2017, Workshop e-Learning “Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Pemanfaatan IT untuk pembelajaran abad 21” pada tahun 2016, Seminar Nasional dan Workshop Membangun Budaya Multiliterasi Melalui Penelitian Tindakan untuk Pendidikan, tahun 2016, Seminar Pendidikan “Guru Literat Abad 21” , KPLJ, Tahun 2017, , Kegiatan Workshop e-Learning “TOT Pembelajaran ICT-UNBK Berbasis Moodle di abad 21, tahun 2017, Pelatihan Virtual Coordinator Training (VCT), SEAMEO (Shoutheast Asian Ministers of Education Organization), Tahun 2019.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendekatan Individu (Individual Aproach)"

Post a Comment