Pendidikan Bangsaku Masih Loyo

oleh  Agus Maulana
(Mahasiswa Pendidikan Masyarakat IKIP Siliiwangi 2019)

Memasuki era revolusi Industri 4.0 yang merupakan fenomena kolaborasi antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi, kita siap melumat.

Penerapannya,  berpusat pada konsep otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya. Wah ...?

Hal tersebut menambah nilai efisiensi pada suatu lingkungan kerja.  Manajemen waktu dianggap sebagai sesuatu yang vital dan sangat dibutuhkan oleh para pemain industri.
Selain itu, manajemen waktu yang baik secara eksponensial akan berdampak pada kualitas tenaga kerja dan biaya produksi.

Dari pandangan Penulis,  Indonesia merupakan negara dengan sistem kurikulum pendidikan yang  sudah baku dan baik. Hal ini menjadi sebuah prestasi yang membanggakan dan mampu membuktikan  pada dunia bahwa Indonesia unggul.  Karena kururikulum 2013 bukan hanya trasfer knowledge tapi juga transfer value.

Arah digitalisasi dalam pendidikan kian  nyata. Pakar pendidikan, sadar  bahwa generasi milenial Indonesia bisa bersaing  dalam revolusi industri 4.0.

Namun   kenyataannya, kondisi pendidikan Indonesia masih jauh dari cita-cita luhur undang Undang Dasar 1945. Terutama dalam hal,  mencerdaskan kehidupan bangsa.

Masih banyak sekolah  yang tidak layak bagunannya atau kurang fasilitasnya. Predikat sekolah negeri,  identik dengan jumlah siswa yang banyak, gratis, dan merakyat.
Sehingga, kualitas pendidikannya jauh lebih maju  dari sekolah negeri.

 Sekolah taraf internaional membutuhkan biaya tinggi. Sehingga,   hasilnya pun luar biasa. Namun partisipasi dan sosialisasinya rendah. Misalnya dalam  lomba antar sekolah. Seakan-akan ada kasta yang membedakan. Hal ini menjadi hal yang kontradiktif dalam pendidikan kita.

Kurikulum kita  sudah baik. Namun kenyataannya,  pendidikan kita masih jauh dari kata maju. Apakah dengan kondisi seperti itu pendidikan bangsa  bisa lari?
Sehingga,  pendidikan kita masih belajar untuk berjalan, atau mungkin masih belajar untuk berdiri

Terlebih dengan terjadinya degradasi moral yang terjadi pada remaja. Hal dasar yang menjadi pondasi dalam pendidikan  terus terjadi pengikisan. Social media, game, gadget menjadi faktor utama yang menghambat mereka  dalam belajar. Belum lagi,  mereka yang terkena racun rokok, miras oplosan. Jelas,   memperlambat tumbuh bahkan merusak sel otak.

Padahal pemerintah terus menaikkan anggaran,  tapi kondisi pendidikanya masih lemah. Jadi,  wajar jika loyo karena generasi milenial sekarang perlahan rusak tanpa disadari.

Sudah 72 tahun Indonesia merdeka. Seharusnya,  secara sadar,  kita  berhutang untuk menjadi bangsa yang cerdas. Dengan Angka 72, seharusnya  sudah terbayar.  Faktanya, kita masih berhutang.   Lalu sampai kapan kita akan terus berhutang? Jawabanya ada pada masing-masing hati nurani anak bangsa.

Apakah Indonesia mampu bersaing dalam revolusi industri 4.0,  ataukah kita akan terlinda?  Pada Kurikulum Tiga Belas, character building sudah diterapkan.  Namun,   perlu lebih masif lagi dalam mewujudkannya.

Semua lapisan,  harus bekerja sama dalam membangun pendidikan bangsa ini.
Saatnya kita wujudkan "Berlari Pendidikan" agar tidak terlindas zaman.

Pastinya,  jadilah manusia Indonesia yang dinamis.  Hingga bisa melewati segala perubahan yang  terus terjadi.

Mari Berlari ...!

Editor:
Mardiah Alkaff 

(Padalarang, 13 November 2019)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Bangsaku Masih Loyo "

Post a Comment