Pengalamanku Menjadi Guru


Aat Sumiati, S.Pd.

Seperti setiap hari Senin yang lain, dimana kami selalu melaksanakan Upacara Bendera. Karena ini sudah kewajiban dan kegiatan rutin kami. Untungnya Senin ini matahari masih bersembunyi di balik awan, hingga upacara terasa nyaman. Seketika mata ini terpana melihat barisan depan. Khususnya di barisan peserta didik kelas tujuh. Di sana beberapa anak laki-laki yang berbaris rapi adalah anak-anak yang berbadan lebih kecil dan tidak setinggi teman-teman sebayanya. Hasil pengamatanku mengajar di kelas setiap tahunnya,  ada saja peserta didik yang paling tertinggi, tergemuk, terkecil, terpintar, termalas dan lain-lain. Melihat dia, mengingatkanku pada sosok seorang Mawardi alumni kelas IX-A  tahun lalu.
Dia seorang peserta didik yang bertubuh lebih kecil dibanding teman-teman  seusianya. Saya mulai mengenalnya sejak tiga tahun lalu. Ketika dia masih kelas VII. Saya sebagai salah seorang gurunya saat itu. Dia terbilang anak penurut, yang tidak suka macam-macam. Tingkah lakunya sama dengan kebanyakan siswa kami. Kalau ada tugas dengan rajin ia kerjakan. Nilai hariannya tidak terlalu kecil, tapi juga tidak sangat baik, standar saja. Kelebihannya adalah dia seorang anak laki-laki yang senang sekali dan aktif dalam kegiatan PMR. Dia sering terlihat rajin latihan dan mengikuti lomba-lomba PMR. Rupanya hal itu yang membuatnya percaya diri sekalipun secara fisik dia berbadan lebih kecil dari teman-temannya. Salut pikirku, anak ini baik sekali, dia bisa mengatasi kelemahannya, dengan kelebihan yang ia miliki.
Sudah dua tahun saya tidak berinteraksi langsung dengan dia. Tapi tidak, untuk hari itu. Ketika saya ditugasi untuk mengawas PAS (Penilaian Akhir Semester) di ruangan dimana Mawardi, sebagai salah satu peserta tes, di sana. Kegiatan di mulai dengan berbaris sebelum memasuki ruangan. Ketika saya berdiri di dekat pintu masuk kelas, melihat anak-anak berbaris dengan rapi, mata saya dikejutkan dengan sepasang sepatu Mawardi yang beda dari siswa lainnya. Dalam kesempatan itu. Dia coba mengikatkan tali sepatunya yang terlepas. Mata saya sampai berkali-kali melihat. Apa ini model sepatunya atau apa ? Karena memang beda dengan sepatu-sepatu siswa lain.Ternyata bukan model sepatu, tetapi malah sepatu itu berlubang disani sini. Hampir di setiap sisinya. Sedih hati ini melihatnya. Dalam hati, kasian sekali Mawardi bersepatu seperti itu.Padahal dia anak penurut yang rajin.
Sebelum mengawas selesai, saya coba dekati dia. Dengan suara berbisik saya katakan agar tidak pulang dulu setelah PAS. Benar saja, saya liat Mawardi menunggu saya di depan Koperasi Siswa. Kami ke koperasi siswa untuk memastikan ada atau tidak sepatu baru yang cocok untuknya. Setelah membuka beberapa pasang sepatu di kopsis, begitu kami biasa menyebutnya, sayang sekali tidak ada sepasangpun ukuran yang pas. Semua kebesaran.
Akhirnya saya tawarkan dia untuk ikut naik motor saya ke toko sepatu "Jakarta". Toko sepatu dekat lampu merah tidak jauh dari sekolah kami. Alhamdulillah dia mau memilih sepasang sepatu sekolah dengan ukuran yang pas. Akhirnya dia tersenyum sambil mengucap terimakasih. Terlihat dia senang sekali. Kemudian kutanya. "Pulangnya ke mana, Nang ?", tanyaku. “Bulak Bu”, jawabnya pendek. Setelah saya bayar di kasir, saya mengaantarnya pulang, hingga mulut gang. Sekali lagi dia mengucapkan terimakasih kepada saya, sebelum motor saya arahkan, memutar menyeberang jalan.
Sepanjang perjalanan pulang ada perasaan lega. Alhamdulilah akhirnya Mawardi bisa punya sepatu baru. Masih teringat jelas ketika Mawardi menceritakan kondisi keluarganya yang tidak utuh. Dia terlahir sebagai anak tunggal. Dan tidak bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya karena mereka berpisah. Karena itu sejak kecil dia tinggal bersama neneknya. Sementara ibu dan bapaknya sudah mempunyai keluarga baru masing-masing. Ayahnya seorang TKI Malaysia. Yang sering juga memberinya uang untuk kebutuhannya. Tapi itupun kalau Mawardi minta. Tapi tidak untuk beberapa bulan terakhir ini. Mungkin karena kebutuhan dari keluarga barunya juga banyak. Sementara ibunya sedang menanti kelahiran anaknya dari suaminya yang baru. Ia menitipkan Mawardi di rumah orang tuanya, nenek Mawardi.
Salut sekali lagi saya rasakan, karena dari sana mata saya terbuka, seorang Mawardi bisa mengatasi keadaan, dimana dia kurang kasih sayang dari orang tuanya, dengan mengisi kegiatan yang positif. Hingga yang kami lihat, dia adalah tetap sebagai anak yang percaya diri, berani, dan bertanggung jawab. Pantas saja dia kelihatan lebih dewasa dari teman-temannya. Alhamdulillah dia ambil jalan yang positif untuk memenuhi ruang kasih sayang yang kosong dari orang tuannya.
Teringat juga jawaban Mawardi ketika kutanya mau melanjutkan ke mana? SMA atau SMK? Dengan yakin dan semangat dia katakan mau melanjutkan ke SMK As-Salam Bulak, Sekolah swasta yang dekat jarak tempuh dari rumahnya. Semoga cita-citamu tercapai Nak. Jadilah selalu anak yang penurut pada orang tua dan guru serta rajin. Sepenggal do’a  Ibu ucapkan dalam hati untukmu.Tiba-tiba tak terasa motorpun sudah sampai di depan rumah. Dengan tidak bermaksud ria kuceritakan kegiatanku hari ini pada keluarga saya, anak dan suami. Tak ada protes dari mereka, semua mengerti dan setuju. Terimakasih Tuhan, Engkau telah anugerahkan keluarga yang penuh pengertian kepada saya.

Penyunting, Lilis Yuningsih



Profil Penulis

Aat Sumiati, S.Pd.
Lahir di Indramayu, 12 Desember 1971. Bungsu dari delapan bersaudara.
Menikah dengan Ir. Sabar, M.Pd, guru di SMK N 2 Indramayu.  Mempunyai seorang anak perempuan  kelas XII, di SMA Negeri1 Sindang, Indramayu. Mengajar sebagai guru Bahasa Inggris sejak tahun 1997, di SMPN 2 Sindang. Menjadi PNS sejak tahun 2000 dan ditempatkan di SMP N 3 Kertasemaya. Mulai tahun 2002 mengajar di SMP N 1 Jatibarang hingga sekarang.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengalamanku Menjadi Guru"

Post a Comment