Rambut Gondrong

Vector illustration of happy handsome guy in Christmas office style clothes with tie under the white background. Cartoon realistic people illustration. Young man with long black hair.
oleh Holil, S. Pd.

       “Aduh, Mang, udah lama enggak datang, ke mana aja sih?” kata seorang guru dan sementara sekoper pakaian yang kubawa dibongkar dan diacak-acak oleh serombongan guru SMP Jati Galih tak kuhiraukan. Bingung dan syok rasanya saat itu aku menerima perlakuan warga sekolah yang aku datangi, tiba- tiba merasa familier kepadaku. 
       “Selama ini Si Emang ke mana aja, enggak sakit, atau mungkin alih profesi, ya Mang?” kata salah seorang dari guru perempuan yang ada sambil memilih-milih celana kasual yang ada dalam koper. Aku masih tetap tidak bisa menjawab pertanyaan yang terucap dari guru perempuan itu. Aku berfikir keras sambil berusaha menenangkan hati atas peristiwa yang sedang aku alami ini.
       “Maaf Pak, Bu, Kepala Sekolahnya ada?” tanyaku pada mereka. Aku sekarang agak siuman dari syok yang kualami. Mereka masih tetap asyik mengacak-acak sambil memilih pakaian yang ada dalam koper yang aku bawa. Sekali lagi aku dengan kekuatan batinku bertanya pada mereka, “Maaf, Pak, Bu, Kepala Sekolahnya ada?” Kiranya mereka tersadarkan dengan pertanyaanku yang kedua. Mereka kelimpungan mau menjawab atau balik bertanya.
       “Owh, maaf Bapak menanyakan Ibu kepala sekolah, barusan?” salah seorang dari guru yang ada bertanya balik padaku. 
       “Betul, ada Ibu Kepalanya?” tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan mereka, bahwa aku akan menemui kepala sekolah. 
       “Kebetulan, Pak, ada di ruangannya. Mari saya antar.”
       Bersamaan dengan langkahku yang mengikuti penunjuk jalan yang aku yakini dia adalah salah seorang pejabat sekolah. Kalau bukan humas, ya setidaknya wakil kepala sekolah salah satu bidang yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk membantu atau untuk mendapat kewenangan  melaksanakan tugas mengetuai suatu kegiatan di sekolah. Sementara terdengar riuh anak-anak di dalam kelas yang sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar bersama bapak atau ibu guru saat aku melewati selasar kelas.
       Sebentar saja aku sudah sampai di depan pintu ruanng kepala sekolah, “Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum!” ucapku sambil menunggu jawaban dari dalam. Kebetulan pintu ruang kepala sekolah tertutup rapat. 
       “Wa’alaikum salam, masuk! Tidak dikunci! Masuk aja!” agak sayup suara dari dalam terdengar merdu. Kiranya kepala sekolah yang punya suara seperti ini biasanya punya kharisma, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang berada pada posisi sebagai calon guru yang akan mengajar di sekolahnya. Begitu pintu kubuka benar saja beliau menyambut kedatanganku walau agak sedikit ragu saat menerima uluran tanganku untuk bersalaman. Aku memaklumi keraguan beliau padaku, sebab keadaanku saat itu badan kurus kerempeng, warna kulitku sawo matang kucel lagi, rambut gondrong sebahu, bajuku sudah lusuh ditambah seharian naik kendaraan umum yang tempat duduknya berdesak-desakan dengan orang-orang yang baru pulang dari pasar dengan segala belanjaannya. Pendek kata sepertinya tak layak bertamu ke lingkungan pendidikan, apalagi aku saat itu bukan hanya bertamu tetapi akan menjadi salah seorang guru pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia.
       Setelah menyerahkan selembar fotokopi SK pengangkatan sebagai guru yang akan mengajar di SMPN Jati Galih kepada sang pimpinan aku segera bergegas ke luar ruangan kepala sekolah. Ada alasan tersirat dalam hati ingin segera untuk tidak berlama-lama berhadapan dengan ibu kepala sekolah. Di antaranya selama berbicara beliau melihat terus ke arah rambutku yang gondrong. Bahkan beliau tidak segan-segan mengatakan padaku, “Pa Asep, nanti kalau mau mulai mengajar di kelas, itu rambutnya dipangkas dulu biar pantas dan keliatan sosok gurunya.” sambil melontarkan pandangan yang tajam ke arah rambutku.  
       Setelah berada di luar ruangan kepala sekolah aku berjalan bergegas menuju tempat saat aku pertama bertanya pada segerobolan guru karena teringat koper yang tadi diacak-acak orang. Ternyata betul juga kekhawatiranku terbukti. Pakaian yang ada di dalam koper sudah ke luar semua. Dikiranya mau diobral. Bahkan ada di antara guru yang sudah menenteng celana jeans dan kaos bermerek. Katanya ”Mang ini berapa harganya?” sambil mendekat ke arahku.
       Dengan hati sedikit kesal dan gondok melihat pakaianku acak-acakan aku berusaha tenang dan menjawab, “Bapak maaf, ini pakaian bukan untuk diobral. Saya datang ke sini bukan untuk berjualan. Saya datang ke sini baru saja menyerahkan SK mengajar, mau mengajar seperti bapak ibu guru yang lainnya. Barangkali Bapak Ibu membongkar koper ini dikiranya saya tukang dagang, begitu?” suaraku sedikit bergetar karena kesal. Setelah aku jawab dan jelaskan perihalku mereka terkejut dan terlihat malu. Mereka langsung pada minta maaf atas kekeliruannya. Mereka menganggap aku tukang dagang langganannya yang setiap dua minggu sekali datang ke sekolah membawa pakaian. Pedagang itu berambut gondrong sama seperti aku.

Holil, S. Pd. dilahirkan di Desa Kadugede, Kuningan, 21 April 1961. Pendidikannya, SDN Kadugede 1, SMPN 2 Kuningan, SPGN Kuningan, D-1 Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Semarang, D III IKIP Bandung UPP Sumedang, S-1 di STKIP YPPM Majalengka. Mengajar sejak April 1984 di MTs Kadugede Filial MTsN Sindangsari, Nopember 1984 di SMPN Pageruyung, Kendal Jawa Tengah, Januari 1992 mutasi ke SMPN 2 Lebakwangi (Sekarang SMPN 1 Maleber).  Sejak 2007 menjadi kepala sekolah di SMPN 4 Darma, 2013 di SMPN 1 Cibeureum, 2015 di SMPN 2 Kadugede, per 30 Agustus 2019 sampai sekarang di SMPN 2 Cimahi. 

Penyunting: Saiful Amri, M. Pd. Pegiat literasi dari Kabupaten Kuningan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rambut Gondrong"

Post a Comment